Terjebak Banjir, Warga Aur Bertahan di Loteng Hingga Tidur di Pinggir Jalan

Banjir selama tiga hari merendam Kampung Aur, Medan, hingga sekitar 1,5 meter di rumah Marini Tanjung; tujuh anggota keluarga bertahan berdesakan di loteng.
Marini mengaku bantuan Pemko Medan tidak datang selama banjir, sementara nasi bungkus dari kecamatan diterima tidak menentu dan tidak tersedia dapur umum.
Nek Koto, warga lansia penyewa rumah tanpa loteng, tidur di titi jalan bersama keluarga; seusai banjir, warga masih membersihkan lumpur dan menata kembali kehidupan.
Medan, IDN Times – Di rumah bercat hijau dengan warung kecil berukuran 2x1 meter di halamannya, Marini Tanjung masih sibuk membersihkan lumpur. Gantungan sabun cair dan popok anak yang tersisa dari terjangan banjir menggantung seadanya di steling kaca depan rumahnya.
Perempuan 52 tahun yang akrab disapa Rindu ini sudah 40 tahun tinggal di Kelurahan Kampung Aur, Medan. Namun, tiga hari terakhir menjadi hari yang tak akan ia lupakan.
“Airnya 1,5 meter. Sampai sini,” ujarnya sambil menunjuk dinding rumahnya yang bekas banjirnya masih setinggi pinggang orang dewasa, sekitar 100 sentimeter.
1. Loteng menjadi satu-satunya tempat bertahan selama banjir

Marini Tanjung atau akrab disapa Rindu merupakan warga yang terdampak banjir di Kelurahan AUR (IDN Times/Indah Permata Sari) Banjir itu datang malam hari. Saat warga lain panik mencari tempat pengungsian, Rindu dan keluarganya memilih bertahan di rumah mereka sendiri. Bukan karena tidak mau pergi, tapi karena loteng menjadi satu-satunya harapan.
“Di sini saya tinggal 3 Kartu Keluarga. Saya, adik saya, dan paman saya. Totalnya kami 7 orang,” tutur ibu tiga anak ini.
Selama tiga hari, tujuh jiwa itu berdesakan di loteng sempit. Di bawah mereka, air cokelat bercampur lumpur merendam perabotan. Dagangan kecilnya ikut terendam.
Masjid di dekat rumahnya yang biasanya menjadi tempat berlindung warga pun tak luput.
“Masjid memang ada pembenahan dan dihantam banjir juga,” kata Rindu.
2. Warga akui bantuan hanya datang pada saat mencalonkan diri jadi pejabat

Marini Tanjung atau akrab disapa Rindu merupakan warga yang terdampak banjir di Kelurahan AUR (IDN Times/Indah Permata Sari) Yang membuat hatinya perih, selama tiga hari terendam, bantuan tak kunjung datang.
“Tidak ada bantuan dari Pemko Medan saat banjir melanda selama 3 hari,” keluhnya.
Ia mengaku hanya mendapat nasi bungkus dari kecamatan. Itu pun tidak menentu.
“Nasi-nasi itu kadang dari Kecamatan, siang dan malam kemarin ada. Tidak ada dapur umum. Karena yang disuruh masak juga warga yang terdampak banjir juga, jadi nggak sempat kita masak. Apalagi awak, yang kebanjiran juga,” ujarnya lirih.
Rindu paham betul pola bantuan di kampungnya.
“Bantuan ketika ada Pileg atau pencalonan, itu baru mereka datang kasih bantuan,” sindirnya.
Di Kelurahan Aur sendiri, ada 10 lingkungan. Menurut Rindu, rumahnya masih tergolong dataran tinggi. Tetangganya yang tinggal lebih dekat dengan sungai, kondisinya jauh lebih parah.
Baginya, banjir kali ini belum seberapa dibanding tahun lalu. Pada 2025, air di rumahnya mencapai 3 meter hingga loteng pun tak bisa menyelamatkannya.
3. Nek Koto Harus Tidur di Pinggir Jalan

Nek Koto merupakan warga yang terdampak banjir di Kelurahan AUR (IDN Times/Indah Permata Sari) Kisah lebih pilu datang dari Nek Koto. Perempuan berusia 70 tahunan ini tidak memiliki loteng seperti Rindu. Rumahnya pun masih sewa.
“Gak pala banyak barang. Paling barang anak kalau gak dijaganya. Banjirnya malam sekitar jam 10 malam, lumayan tinggi,” cerita Nek Koto.
Begitu air masuk, anaknya langsung menyuruhnya naik.
“Begitu banjir langsung disuruh anak pindah ke atas. Kami mengungsi sampai tidur di titi depan jalan raya. Kami ramai-ramai tidur di situ bentang ambal. Karena kami gak ada loteng, rumah pun sewa,” kenangnya.
Selama banjir, Nek Koto mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan apa pun. Ia hidup menumpang pada anaknya, mengharapkan uang jajan harian.
“Anaklah yang kasih uang, kadang dapat Rp2 ribu atau Rp4 ribu untuk dipegang jajan,” ujarnya.
Dari pantauan IDN Times di lokasi pada Jumat (30/10/2026), suasana Kampung Aur masih porak-poranda. Warga sibuk membersihkan barang-barang berlumpur. Di tengah becek itu, anak-anak justru asyik bermain bola di atas tanah yang masih berlumpur. Lalu-lalang warga yang beraktivitas kembali terlihat, mencoba menata hidup yang sempat terendam selama tiga hari.
Bagi Rindu, Nek Koto, dan ratusan warga Kampung Aur lainnya, banjir bukan hanya tentang air yang datang dan pergi. Ini tentang bertahan hidup di atas loteng, di atas titi, dan di antara janji bantuan yang tak kunjung datang.






















