Sumut Dikepung Banjir-Longsor hingga Malaria, 7 Warga Meninggal

Banjir dan longsor menerjang enam kabupaten di Sumatra Utara pada pekan ketiga hingga keempat Oktober 2026.
Tapanuli Tengah mencatat dampak banjir terparah, dengan 424 jiwa terdampak dan satu rumah hanyut.
DBD dan malaria juga melanda tiga kabupaten, sementara BMKG memperingatkan potensi hujan sangat lebat.
Medan, IDN Times – Rentetan bencana hidrometeorologi mulai dari banjir hingga tanah longsor menerjang enam kabupaten di Sumatra Utara pada pekan ketiga hingga keempat Oktober 2026. Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Sumut per Senin (26/10/2026) pukul 08.00 WIB, enam daerah yang terdampak meliputi Kabupaten Deli Serdang, Tapanuli Utara, Nias, Labuhanbatu Utara, Dairi, dan Tapanuli Tengah.
Di dataran tinggi seperti Dairi, Tapanuli Utara, dan Nias, hujan deras memicu tanah longsor yang memutus akses jalan warga. Di dataran rendah hingga pesisir pantai barat seperti Tapanuli Tengah dan Labuhanbatu Utara, luapan sungai merendam ratusan rumah hingga Jalan Lintas Sumatra (Jalinsum).
Tak hanya bencana alam. Tiga kabupaten di antaranya—yakni Labuhanbatu Utara, Dairi, dan Tapanuli Tengah—juga tengah berjibaku menangani bencana non-alam berupa Kejadian Luar Biasa (KLB) wabah Malaria dan Demam Berdarah Dengue (DBD) dalam rentang Januari – September 2026.
1. Tanggul sungai jebol di Tapteng, 424 jiwa terdampak dan satu rumah hanyut

Ilustrasi banjir (Dok. IDN Times/Halbert Caniago) Dampak banjir terparah tercatat di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng). Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur sejak Jumat (23/10/2026) pukul 18.00 WIB hingga kembali berlanjut pada Minggu (25/10/2026) pukul 09.00 WIB membuat air Sungai Tukka dan Sungai Lopian meluap di empat kecamatan.
Di Kelurahan Bona Lumban, Kecamatan Tukka, air bah setinggi kurang lebih 1,5 meter langsung menerjang masuk ke permukiman di Lingkungan I, II, III, dan IV. Akibatnya, sekitar 106 Kepala Keluarga (KK) atau 424 jiwa terdampak, dengan rincian 40 KK di Lingkungan I, 55 KK di Lingkungan III, dan 10 KK di Lingkungan IV.
“Tanggul penahan air sungai mengalami kerusakan, tergerus dan jebol, sehingga air sungai memasuki ke permukiman warga. Satu unit jembatan darurat terputus akibat derasnya arus sungai,” tulis laporan itu.
Jembatan darurat yang putus tersebut sebelumnya menghubungkan Lingkungan I (Pasir Bidang) dengan Lingkungan III (Borotan). Sementara di Lingkungan II (Sigotom), Kelurahan Tukka, air merendam permukiman warga hingga setinggi pinggang orang dewasa. Banjir juga sempat menutup akses kendaraan roda dua maupun roda empat.
Bergeser ke Kecamatan Sarudik, banjir setinggi paha orang dewasa merendam permukiman warga di Kelurahan Sibuluan Nalambok. Satu unit rumah semipermanen bahkan dilaporkan hanyut terbawa arus banjir. Genangan setinggi dada orang dewasa juga merendam Kelurahan Sibuluan Indah dan Sibuluan Raya di Kecamatan Pandan, sedangkan luapan Sungai Lopian setinggi 10 sentimeter menggenangi jalan raya di sekitar simpang Gereja GPDI Lopian, Kecamatan Badiri.
2. Akses jalan di Nias dan Taput amblas, 5 hektare lahan jagung di Dairi rusak

Ilustrasi Longsor. (IDN Times/Anjani Asra) Di wilayah perbukitan dan jalur lintas, tanah longsor serta banjir merusak sejumlah infrastruktur vital. Rinciannya:
Kabupaten Dairi: Hujan lebat pada Jumat (23/10/2026) memicu banjir dan longsor di Dusun 5 Sukumblin, Desa Lae Ambat, Kecamatan Silima Pungga-Pungga. Dampaknya, sekitar 5 hektare lahan pertanian jagung dan komoditas lain rusak, 8 titik jalan usaha tani hancur, serta 1 unit jembatan hanyut terbawa arus sungai. Di hari yang sama, longsor juga merusak badan jalan di Kecamatan Tanah Pinem (jalur Desa Pasir Mbelang menuju Desa Pasir Tengah dan Simpang Renun menuju Desa Lau Njuhar 1), Dusun Huta Pansur di Desa Janji (Kecamatan Siempat Nempu Hilir), hingga bahu jalan kabupaten menuju Taman Wisata Alam (TWA) Sicike-cike di Dusun 2, Desa Lae Hole II, Kecamatan Parbuluan.
Kabupaten Tapanuli Utara: Jalan lintas Tarutung–Sibolga di Desa Sibalanga, Kecamatan Adian Koting, sempat lumpuh total akibat jalan amblas dan longsor sepanjang 10–15 meter pada Jumat (23/10/2026). Per Minggu (25/10/2026), jalur tersebut sudah bisa dilalui kendaraan roda dua dan empat dengan sistem buka-tutup.
Kabupaten Nias: Badan jalan ruas Holi–Fatodano di Dusun I, Desa Fatodano, Kecamatan Ulugawo, amblas dan patah diterjang longsor sejak Selasa (20/10/2026). “Ruas jalan Holi–Fatodano terjadi longsor sehingga badan jalan amblas dan patah serta tidak bisa dilalui kendaraan roda dua dan roda empat,” tulis laporan itu.
Kabupaten Deli Serdang & Labuhanbatu Utara (Labura): Di Deli Serdang, material longsor setinggi 30 meter dan lebar 10 meter sempat memutus jalur alternatif Namorambe–Sembahe di Desa Batu Mbeling, Kecamatan Sibolangit, Sabtu (24/10/2026) pukul 17.50 WIB. Jalur itu kini sudah kembali normal usai dibersihkan secara gotong royong. Begitu pula banjir setinggi 30 sentimeter sepanjang 50 meter yang sempat memicu kemacetan 2 kilometer di Jalinsum Dusun Suka Maju, Desa Bandar Durian, Kecamatan Aek Natas, Labura, Sabtu (24/10/2026), kini telah surut.
3. Dihantam KLB Malaria dan DBD, BMKG ingatkan sirkulasi siklonik di Barat Aceh

ilustrasi malaria (IDN Times/Aditya Pratama) Di tengah penanganan banjir dan longsor, tiga kabupaten di Sumut juga masih berstatus darurat bencana non-alam akibat wabah penyakit. Di Kabupaten Tapteng, KLB Demam Berdarah Dengue (DBD) yang merebak di 11 kecamatan sejak Januari hingga 19 Oktober 2026 tercatat mencapai 706 kasus (Incidence Rate 169,8 per 100.000 penduduk) dengan 5 warga meninggal dunia. Puncak kasus terjadi pada Mei (146 kasus) dan April (109 kasus, 2 meninggal).
Sementara di Kabupaten Dairi, KLB wabah Malaria kembali muncul di Desa Sopo Butar, Kecamatan Siempat Nempu Hilir, hingga merenggut 2 korban jiwa sepanjang Januari–Agustus 2026.
Peningkatan kasus terjadi periode Januari 2026 dengan jumlah kasus sebanyak 23 kasus yang langsung terlapor terjadi penularan setempat di wilayah Kabupaten Dairi yang merupakan kabupaten yang telah menerima sertifikat eliminasi malaria.
Setelah 23 kasus pada Januari, penularan berlanjut pada Februari (11 kasus, 1 meninggal), Maret (14 kasus), April (19 kasus, 1 meninggal), Mei (14 kasus), Juni (7 kasus), Juli (10 kasus), dan Agustus (0 kasus). Kasus serupa juga muncul di Kelurahan Kampung Mesjid, Kecamatan Kualuh Hilir, Labura, dengan laporan 10 kasus penularan setempat pada September 2026, ditambah 3 pasien positif demam di Puskesmas Tanjung Leidong, Kecamatan Kualuh Leidong.
Terkait rentetan bencana hidrometeorologi ini, Kepala Balai Besar BMKG Wilayah I Medan Hendro Nugroho dalam surat peringatan dininya menjelaskan zona musim di wilayah Sumut telah memasuki musim hujan. Pada periode Dasarian III (21–31 Oktober 2026), Kabupaten Langkat, Deli Serdang, dan Tapanuli Tengah berstatus Waspada curah hujan tinggi (150–200 milimeter per dasarian).
“BMKG mengidentifikasi adanya sirkulasi siklonik terbentuk di Samudra Hindia barat Aceh yang mengakibatkan adanya belokan angin dan konfluensi (pertemuan massa udara) di Sumatra Utara. Kondisi ini berpotensi menyebabkan hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat yang disertai petir dan angin kencang pada siang hingga dini hari dengan durasi lebih dari tiga jam,” ungkap Hendro dalam surat imbauan resminya.
Menyikapi ancaman tersebut, Gubernur Sumut Muhammad Bobby Afif Nasution telah memperpanjang Status Transisi Darurat ke Pemulihan Bencana Banjir, Tanah Longsor, dan Gempa Bumi di wilayah Sumut selama tiga bulan hingga 31 Desember 2026. Sebelumnya, melalui Instruksi Gubernur Nomor 188.54/8/INST/2026, Bobby juga telah menginstruksikan kepala daerah se-Sumut untuk melakukan langkah mitigasi ketat saat hujan lebat mengguyur.
“Melakukan evakuasi mandiri berbasis komunitas pada permukiman di bawah tebing yang kawasan rawan longsor terhitung sejak hujan lebat turun lebih dari satu jam berturut-turut, serta menghentikan seluruh aktivitas warga di sepanjang bantaran sungai yang mengalami peningkatan debit air pada saat cuaca ekstrem,” tegas Bobby dalam instruksi tertulisnya.





















