Banjir Sumatra Bukan Cuma Soal Hujan Ekstrem, Ini 6 Fakta yang Bisa Dipahami

Banjir dan longsor Sumatra dipengaruhi hujan ekstrem serta kondisi bentang alam, daya serap tanah, dan perubahan penggunaan lahan di DAS.
DAS Batang Toru kehilangan sekitar 70 ribu hektare tutupan hutan sepanjang 1990 sampai 2022, sementara investigasi menemukan pembukaan hutan di kawasan konsesi TPL.
Longsor juga mengancam habitat orangutan Tapanuli, dengan penelitian memperkirakan sekitar 58 individu berada di kawasan terdampak.
Medan, IDN Times - Banjir bandang dan longsor yang menghantam sejumlah wilayah Sumatra pada akhir 2025 meninggalkan pertanyaan yang lebih besar dari sekadar curah hujan ekstrem. Sorotan kini mengarah ke rusaknya hutan di daerah aliran sungai (DAS) Batang Toru, perubahan tutupan lahan, dan ancaman bagi habitat orangutan Tapanuli.
Sejumlah laporan investigasi dan penelitian sudah mengulas kondisi di kawasan ini. Ada data perubahan tutupan hutan, dugaan keterkaitan aktivitas manusia dengan kerusakan lingkungan, dan estimasi dampak bencana ke satwa liar.
Menjelang akhir 2026, potensi bencana masih menghantui tiga provinsi; Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Informasi yang dihimpun, sejumlah wilayah di tiga provinsi ini, masih mengalami banjir berulang. Meski tingkat keparahannya, belum sebanding dengan bahala 2025 lalu. Â
Biar kamu nggak salah paham, yuk simak enam hal yang perlu diketahui soal bencana Sumatra ini.
1. Korban jiwa tembus 1.200 orang di pembaruan awal 2026

Kondisi rumah warga pasca banjir menghantam Desa Hutanobolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, Sabtu (20/12/2025). (IDN Times/Prayugo Utomo) Bencana hidrometeorologi di Sumatra pada akhir 2025 memakan korban jiwa, merusak permukiman, dan mengacaukan kehidupan warga. Data BNPB dalam lamannya menunjukkan, 1.204 orang meninggal dunia dan 140 orang masih hilang karena bahala.
Besarnya dampak bencana ini membuat perhatian publik mengarah ke kondisi hulu. Selain intensitas hujan, perubahan tutupan hutan dan penggunaan lahan ikut menentukan seberapa rentan sebuah daerah terhadap banjir dan longsor.
2. Hujan ekstrem memang pemicunya, tapi faktor lain juga harus dicek

Seorang perempuan penyintas bencana bertahan di tenda pengungsian di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (7/3/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo) Hujan deras jadi pemicu utama banjir dan longsor. Meski begitu, parah tidaknya dampak juga dipengaruhi kondisi bentang alam, daya serap tanah, dan perubahan penggunaan lahan di DAS.
Kajian tentang bencana Sumatra menyoroti gabungan faktor cuaca dan kondisi lingkungan. Hutan alami berfungsi menahan tanah, mengatur aliran air, dan menjaga lereng tetap stabil. Kalau tutupan hutan berkurang, wilayah di sekitarnya lebih mudah mengalami erosi dan longsor saat hujan lebat.
Greenpeace Indonesia juga menyoroti perubahan tutupan hutan di DAS Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Jadi, mencari penyebab bencana nggak cukup berhenti di cuaca ekstrem.
Tapi, porsi tiap faktor tetap harus dinilai berdasarkan data. Mengatakan deforestasi memperbesar risiko bencana itu satu hal. Menyimpulkan bahwa satu aktivitas atau perusahaan jadi penyebab tunggal banjir adalah hal yang lain lagi.
3. Greenpeace: DAS Batang Toru kehilangan 70 ribu hektare hutan

Warga membawa logistik donasi dari para relawan di Kampung Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Rabu (21/1/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo) Menurut analisis Greenpeace Indonesia, DAS Batang Toru kehilangan sekitar 70 ribu hektare tutupan hutan sepanjang 1990 sampai 2022. Luasnya setara sekitar 21 persen dari seluruh wilayah DAS.
Greenpeace juga mencatat masih ada sekitar 167 ribu hektare hutan alam yang tersisa di kawasan itu. Angka ini menunjukkan betapa pentingnya hutan yang masih ada untuk menjaga keseimbangan ekosistem, termasuk fungsi pengatur air dan habitat satwa liar.
Hilangnya hutan memang belum menjelaskan seluruh penyebab banjir November 2025. Namun, perubahan tutupan lahan selama puluhan tahun jadi konteks penting untuk menilai kerentanan wilayah saat hujan ekstrem datang.
Buat warga yang tinggal di sekitar sungai dan lereng, ini bukan sekadar urusan berapa banyak pohon yang hilang. Kondisi hutan di hulu berhubungan langsung dengan risiko longsor, pendangkalan sungai, kerusakan infrastruktur, dan keselamatan warga di hilir.
Pertanyaan yang tak kalah penting juga, seperti apa langkah mitigasi yang dilakukan oleh pemerintah, sebagai pemangku kebijakan?
4. Investigasi temukan pembukaan 758 hektare hutan di konsesi TPL

Warga melintas di area banjir bandang dan longsor di Kelurahan Huta Nabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Rabu (3/12/2025). (ANTARA FOTO/Yudi Manar) Pembukaan hutan di hulu Batang Toru jadi sorotan setelah Earthsight dan Auriga Nusantara merilis hasil investigasi pada Januari 2026. Lewat analisis citra satelit, keduanya mengidentifikasi pembukaan sekitar 758 hektare hutan alam di blok Aek Raja, yang masuk konsesi PT Toba Pulp Lestari (TPL), antara Maret 2021 dan 1 Desember 2025. Mereka juga menemukan pembukaan sekitar 125 hektare di luar batas konsesi. Liputan Mongabay juga memuat angka ini.
Laporan itu menyebut pembukaan hutan terjadi di area berlereng curam yang juga merupakan habitat orangutan Tapanuli. Citra satelit memperlihatkan bekas longsor di dekat lahan yang baru dibuka.
Temuan ini memunculkan kekhawatiran soal dampak pembukaan hutan terhadap kestabilan lereng dan ekosistem. Namun, angka 758 hektare dan 125 hektare adalah hasil investigasi dua organisasi tersebut, bukan putusan pengadilan yang menetapkan tanggung jawab perusahaan atas bencana.
TPL membantah ada kaitan antara operasionalnya dan banjir serta longsor. Mereka menyatakan semua kegiatannya legal dan mereka tidak menebang hutan alam. TPL juga menyebut pembukaan yang disorot itu sebagai perambahan dan pembalakan liar oleh pihak ketiga.
Pada Januari 2026, pemerintah mengumumkan pencabutan izin 28 perusahaan yang dinilai melanggar aturan lingkungan, termasuk TPL.
Tetap perlu dibedakan, pencabutan izin tidak sama dengan penetapan tanggung jawab hukum atas bencana. Soal aktivitas perusahaan dan hubungannya dengan dampak banjir, jawabannya harus menunggu hasil penegakan hukum dan bukti yang tersedia.
5. Asal-usul kayu gelondongan yang terseret banjir masih jadi tanda tanya

Potret udara kondisi Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Kamis (11/12/2025) pasca diterjang banjir pada Rabu (26/11/2025). (IDN Times/Prayugo Utomo) Batang-batang kayu besar yang hanyut terbawa arus jadi pemandangan paling mencolok dalam banjir Sumatra. Foto dan videonya ramai beredar di media sosial dan memunculkan pertanyaan, kayu-kayu itu datang dari mana, dan kenapa bisa terbawa dalam jumlah sebanyak itu?
Dalam investigasinya, Earthsight dan Auriga Nusantara membahas kayu dan sisa tebangan yang terlihat di kawasan terdampak. Mereka juga mencatat adanya pembukaan hutan dan tumpukan kayu di sekitar area yang disurvei.
Di sisi lain, Satya Bumi menyoroti perubahan tutupan lahan dan keberadaan material kayu di area proyek PLTA Batang Toru. Organisasi ini mengemukakan dugaan adanya kaitan antara aktivitas proyek serta kondisi lingkungan sekitar dengan banjir bandang di Tapanuli.
Kayu gelondongan memang petunjuk penting untuk menyelidiki kondisi hulu. Tapi bentuk dan jumlah kayu di sungai belum bisa jadi bukti bahwa semuanya berasal dari satu perusahaan atau satu kegiatan tertentu.
6. Longsor mengancam habitat orangutan Tapanuli
Orangutan Tapanuli menjadi salah satu satwa yang nyaris punah di Habitat Batangtoru. (IDN Times/Prayugo Utomo) Dampak bencana di Batang Toru tidak cuma dirasakan manusia. Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), kera besar yang baru diakui sebagai spesies tersendiri pada 2017, juga terancam akibat rusaknya habitat mereka.
Penelitian berjudul Extreme rainfall further endangers the world's rarest great ape yang terbit di jurnal Current Biology pada Juni 2026 memperkirakan sekitar 8.303 hektare wilayah di Blok Barat Batang Toru terdampak longsor dan aliran material. Rentang ketidakpastiannya sekitar 1.760 hektare. Luas itu setara dengan sekitar 11,7 persen kehilangan tutupan hutan di wilayah penelitian. Ringkasan temuannya juga ada di rilis resmi Liverpool John Moores University.
Peneliti lalu menggabungkan peta area terdampak dengan model kepadatan orangutan. Hasilnya, sekitar 58 individu diperkirakan berada di kawasan yang terkena longsor, dengan rentang estimasi 18 sampai 120 individu. Angka ini hasil estimasi dari analisis spasial, bukan hitungan langsung bangkai orangutan di lapangan.
Studi tersebut menunjukkan bahwa hujan ekstrem dan longsor bisa langsung mengancam kelangsungan hidup spesies ini. Selain risiko kematian individu, rusaknya hutan juga mempersempit habitat dan mengurangi sumber pakan yang mereka butuhkan untuk bertahan.
Ancaman ini serius karena populasi orangutan Tapanuli sangat kecil dan terpecah ke beberapa blok yang terisolasi. Hilangnya habitat dalam skala besar bisa memperparah fragmentasi populasi dan mempersulit upaya pemulihan.
Makanya, pemantauan pascabencana penting banget. Tujuannya untuk mengetahui kondisi habitat yang tersisa, memperkirakan dampak ke populasi, dan menentukan langkah perlindungan selanjutnya.
7. Lantas, apa yang bisa dilakukan Gen Z?

Warga membawa hasil pertanian melintasi Desa Hutanobolon pasca banjir menghantam kawasan itu, Sabtu (20/12/2025). (IDN Times/Prayugo Utomo) Bencana Sumatra menunjukkan bahwa isu lingkungan bukan cuma urusan pemerintah, peneliti, atau organisasi konservasi. Anak muda juga bisa ambil peran lewat langkah yang realistis.
Lakukan pengecekan sumber sebelum membagikan informasi. Foto kayu gelondongan atau hutan yang gundul perlu disertai konteks lokasi, waktu, dan sumbernya supaya tidak memicu kesimpulan yang keliru.
Kita juga bisa melakukan pemantauan perubahan tutupan hutan. Platform seperti Global Forest Watch menyediakan data untuk melihat perubahan tutupan pohon dan tanda-tanda hilangnya hutan. Kemudian, kamu bisa ikut menuntut pemerintah membuka hasil pemeriksaan lingkungan, menjelaskan tindak lanjut terhadap perusahaan, dan memastikan pemulihan ekosistem berjalan. Kemudian, informasi dan kegiatan konservasi berbasis data bisa membantu menaikkan perhatian pada orangutan Tapanuli dan ekosistem Batang Toru.



















