Inkubator FEB Satya Terra Bhineka Gandeng IYD, Bahas Masa Depan AI

FEB Universitas Satya Terra Bhinneka berkolaborasi dengan IYD North Sumatera menggelar seminar tentang kepemimpinan pemuda, AI, dan masa depan digital bagi mahasiswa Bisnis Digital serta Kewirausahaan.
Dekan Martin Sianipar menekankan mahasiswa perlu menguasai digitalisasi dan AI secara bijak, melalui kurikulum adaptif, pengalaman praktisi, jejaring, serta keterampilan relevan agar mampu mengendalikan teknologi.
AI Specialist Sares Wari mengingatkan pentingnya literasi kritis menghadapi hoaks berbasis AI, dengan memeriksa logika, melakukan verifikasi berlapis, dan memperhatikan keaslian gambar, suara, maupun video.
Medan, IDN Times – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat tidak boleh membuat mahasiswa hanya menjadi pengguna, apalagi korban. Mahasiswa harus menjadi pihak yang mengendalikan teknologi, bukan dikendalikan oleh teknologi.
Pesan tersebut menjadi benang merah dalam seminar Empowering Business and Digital Futures yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Satya Terra Bhinneka, Sabtu (24/10/2026).
Kegiatan yang diinisiasi Inkubator Bisnis Satya Terra Bhinneka yang berada di bawah naungan FEB ini berkolaborasi dengan Indonesian Youth Diplomacy (IYD) North Sumatera. Acara dikemas dalam dua sesi, yakni Anticipatory Leadership on Youth-Led Activities dan AI & Digital Futures: Youth in a Smarter and Safer Digital Society.
Audiens khusus kegiatan ini adalah mahasiswa S1 Bisnis Digital dan S1 Kewirausahaan FEB.
1. Mahasiswa diminta melek digitalisasi termasuk soal AI di dunia pendidikan

Diskusi AI and Digital Futures digelar di Universitas Satya Terra Bhinneka (IDN Times/Indah Permata Sari) Dekan FEB Universitas Satya Terra Bhinneka, Martin Sianipar, menegaskan seminar praktisi seperti ini rutin dilakukan untuk menjembatani kesenjangan antara teori di ruang kelas dengan realitas dunia profesional.
"Mahasiswa tidak cukup hanya mendapat teori dari dosen atau teks di kelas. Mereka butuh pengalaman, wawasan praktisi langsung, jejaring, dan skill yang relevan. Dunia digital itu cepat, kurikulum pun harus adaptif," ujar Martin.
Ia menjelaskan, nilai-nilai universitas menjadi landasan kegiatan tersebut. Satya berarti kebenaran dan kesetiaan, Terra berarti bumi yang bermakna keberlanjutan, dan Bhinneka berarti kebinekaan serta inklusivitas.
"Karena itu pendidikan di sini sangat fokus pada perkembangan teknologi. Ini sudah menjadi keharusan agar mahasiswa melek digitalisasi. Termasuk soal AI di dunia pendidikan, bukan untuk dilarang, tetapi untuk dimanfaatkan secara bijak sesuai ketentuan dan peraturan akademik," katanya.
2. Semua lini dan bidang kini telah dimasuki teknologi, terutama AI

Diskusi AI and Digital Futures digelar di Universitas Satya Terra Bhinneka (IDN Times/Indah Permata Sari) Martin mengingatkan, semua lini dan bidang kini telah dimasuki teknologi, terutama AI.
"Teknologi tidak bisa kita hindari. Kalau kita gagal belajar dan mengantisipasi, teknologi yang seharusnya membangun peradaban justru bisa meruntuhkan. Kita tidak boleh dikendalikan AI, kitalah yang harus mengendalikan dan memberi dampak," tegasnya.
3. Pentingnya literasi kritis di era banjir informasi AI

Diskusi AI and Digital Futures digelar di Universitas Satya Terra Bhinneka (IDN Times/Indah Permata Sari) Senada, AI Specialist Sares Wari yang menjadi pembicara sesi kedua menekankan pentingnya literasi kritis di era banjir informasi AI.
"Teknologi pasti berkembang dan pasti ada dampaknya. Kita mesti lebih jeli. Kadang bisa terlihat dari matanya yang beda, atau suara yang masih robotik. Secara naluri kita pasti bisa membaca," ujar Sares.
Menurutnya, makna utama dari tema AI & Digital Futures adalah kemampuan untuk terus maju tanpa dikendalikan oleh AI itu sendiri.
"Jangan sampai AI-nya berkembang, kita masih yang lama saja. Kita juga harus beradaptasi," katanya.
Sares membagikan tips praktis agar tidak mudah terjebak hoaks berbasis AI. Kuncinya adalah berpikir kritis dan verifikasi berlapis.
"Jangan percaya apa saja yang ada di berita online. Logikanya harus jalan, double check lagi. Sekarang sudah banyak tools untuk cek apakah gambar ini asli atau tidak. Kalau dapat pesan suara, perhatikan naik turunnya intonasi. Kalau AI pasti terdengar robotik. Kalau video, perhatikan detail jari tangan," jelasnya.
Acara yang berlangsung dengan antusiasme tinggi hingga onsite full ini menghadirkan pembicara lintas bidang, yakni Alfian Linux (Techpreneur & CEO Xtend Integrasi Indonesia), Sares Wari (AI Specialist), dan Sengli Egani Sitepu, (Natural Language Processing Lecturer).






















