Orangutan Tapanuli di Ujung Tanduk, Pemulihan Darurat dibutuhkan

Mighty Earth dan Satya Bumi memperkirakan sekitar 658 orangutan Tapanuli tersisa di alam liar dan mendesak rencana pemulihan darurat.
Habitat orangutan Tapanuli tertekan kerusakan hutan, pertambangan, PLTA, pertanian, perburuan, dan bencana Siklon Senyar.
Enam langkah yang diusulkan mencakup pendataan populasi, pemulihan habitat, perlindungan satwa, pelibatan masyarakat, serta pendanaan jangka panjang.
Medan, IDN Times - Mighty Earth dan Satya Bumi mendesak pemerintah Indonesia dan komunitas internasional menyusun rencana pemulihan darurat untuk menyelamatkan orangutan Tapanuli dari ancaman kepunahan. Dalam laporan terbaru mereka yang diluncurkan di Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB (COP-CBD 17) di Yerevan, Armenia, pada 22 Oktober 2026, kedua organisasi memperkirakan hanya sekitar 658 individu orangutan Tapanuli yang tersisa di alam liar.
Laporan bertajuk Kode Merah untuk Orangutan Tapanuli itu memperingatkan bahwa kelangsungan hidup spesies yang hanya ditemukan di Ekosistem Batang Toru, Sumatra Utara, semakin terancam akibat kerusakan habitat, pertambangan, pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), ekspansi pertanian, dan bencana alam. Tanpa intervensi segera dan terkoordinasi, orangutan Tapanuli berisiko menjadi spesies pertama yang punah pada era modern, menurut laporan tersebut.
1. Populasi orangutan Tapanuli diperkirakan tinggal 658 individu
Orangutan Tapanuli di Hutan Batangtoru, Tapanuli Selatan (IDN Times/Arifin Al Alamudi) Orangutan Tapanuli diakui sebagai spesies tersendiri pada 2017, terpisah dari orangutan Sumatra dan Kalimantan. Spesies ini menjadi kera besar baru pertama yang dideskripsikan secara ilmiah sejak 1920-an dan hanya ditemukan di hutan Batang Toru, Sumatra Utara.
Mighty Earth dan Satya Bumi memperkirakan populasi orangutan Tapanuli saat ini hanya sekitar 658 individu di alam liar. Keterangan itu juga mengutip studi pada 2021 yang memperkirakan populasinya telah menurun hingga 97,5 persen sejak 1890.
Amanda Hurowitz, Great Ape Lead Program di Mighty Earth, mengatakan spesies tersebut berada di ambang kepunahan jika tidak segera memiliki rencana pemulihan yang terkoordinasi.
“Ini adalah kode merah untuk orangutan Tapanuli, spesies di ambang kepunahan tanpa rencana pemulihan. Bahayanya sudah di depan mata, tetapi kepunahan bukanlah hal yang tak terelakkan,” ujar Amanda.
Menurutnya, masih ada peluang untuk melindungi populasi yang tersisa, memulihkan hutan yang rusak, dan memastikan kelangsungan hidup orangutan Tapanuli. Namun, waktu untuk melakukan upaya penyelamatan semakin terbatas.
Serge Wich, guru besar dari Liverpool John Moores University, yang turut membantu mengidentifikasi spesies tersebut, juga mengingatkan bahwa kegagalan menyelamatkan orangutan Tapanuli akan menjadi kegagalan besar bagi manusia, komunitas konservasi, dan pemerintah.
2. Siklon Senyar disebut merusak 8.300 hektare hutan Batang Toru

potret anak dan induk orangutan Tapanuli (Prayugo Utomo, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons) Ancaman terhadap orangutan Tapanuli semakin besar setelah Siklon Senyar pada November 2025 memicu banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra. Dalam laporan tersebut, Mighty Earth dan Satya Bumi menyebut hujan lebih dari 1.000 milimeter selama empat hari serta perkiraan terbentuknya 50.000 titik tanah longsor di Sumatra Utara.
Bencana itu disebut merusak lebih dari 8.300 hektare hutan di Ekosistem Batang Toru Barat, atau sekitar 11,7 persen tutupan hutan di kawasan tersebut. Laporan itu memperkirakan bencana berpotensi menewaskan hingga 58 orangutan Tapanuli, setara sekitar 7 persen dari total populasi yang diperkirakan tersisa.
Di luar bencana alam, laporan tersebut menyoroti tekanan terhadap habitat orangutan Tapanuli akibat pertambangan, pembangunan PLTA, ekspansi pertanian, deforestasi, dan perburuan. Ruang hidup spesies ini disebut terisolasi di area seluas sekitar 1.420 kilometer persegi di hutan Sumatra Utara.
Proyek PLTA Batang Toru dinilai berpotensi semakin memfragmentasi habitat dan populasi orangutan. Sementara itu, tambang emas Martabe disebut telah melakukan perluasan ke arah utara menuju habitat orangutan Tapanuli.
Tekanan tersebut dikhawatirkan merusak koridor hutan yang menghubungkan populasi, sehingga meningkatkan isolasi dan mengancam kelangsungan hidup spesies dalam jangka panjang.
3. Enam langkah darurat diusulkan untuk menyelamatkan orangutan Tapanuli

Orangutan Tapanuli menjadi salah satu satwa yang nyaris punah di Habitat Batangtoru. (IDN Times/Prayugo Utomo) Mighty Earth dan Satya Bumi menyerukan enam tindakan mendesak, mulai dari pendataan populasi terbaru hingga penyediaan pendanaan jangka panjang. Langkah pertama adalah melakukan survei untuk menghitung jumlah orangutan yang masih bertahan, menilai tingkat kerusakan habitat, serta mencari kemungkinan populasi yang belum terdeteksi di wilayah sebaran historisnya.
Kedua, menghentikan kerusakan hutan lebih lanjut dan memulihkan koridor habitat yang menghubungkan populasi terisolasi. Ketiga, memulihkan kawasan Batang Toru Barat yang terdampak siklon melalui penanaman kembali dan regenerasi hutan secara aktif.
Langkah keempat adalah mencegah kematian orangutan melalui penanganan perburuan, konflik antara manusia dan satwa liar, serta ancaman dari pembangunan. Kelima, menempatkan masyarakat adat dan lokal sebagai bagian penting dalam upaya pemulihan, termasuk dengan mendukung mata pencaharian yang berkelanjutan.
Keenam, kedua organisasi mendesak adanya pendanaan jangka panjang dan rencana pemulihan yang terkoordinasi. Upaya konservasi, menurut mereka, tidak cukup hanya mencegah kepunahan, tetapi juga harus diarahkan untuk membangun kembali populasi orangutan Tapanuli.
Jatna Supriatna, Ketua Institute for Sustainable Earth and Resources, Universitas Indonesia, menilai hingga saat ini belum ada satu rencana pemulihan terpadu yang dilengkapi target populasi, target habitat, dan pendanaan khusus.
“Penting untuk mengkoordinasikan upaya di lapangan guna mencapai tujuan konservasi dan pemulihan kita,” ujar Jatna.
Sementara itu, Juru Kampanye Satya Bumi, Sadam Afian Richwanudin, mendesak pemerintah Indonesia memimpin koordinasi antara berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, organisasi masyarakat sipil, masyarakat lokal, dan pelaku usaha.
Menurut Sadam, hutan Batang Toru merupakan satu-satunya rumah bagi orangutan Tapanuli. Karena itu, perlindungan dan pemulihan habitat harus dilakukan bersamaan dengan upaya memastikan masyarakat lokal tidak tertinggal dalam agenda konservasi.



















