Dari Tapanuli ke Istanbul, Penari Binaan Tambang Martabe Tampil di Turki

- Enam penari Sanggar Seni Sopo Daganak, termasuk Ana Syafitri Daulay, tampil di dua festival budaya internasional di Turki pada Oktober 2026.
- Di Istanbul dan Kuşadası, Sanipoda membawakan tarian Nusantara serta Tapanuli Selatan di hadapan ribuan penonton dan peserta dari berbagai negara.
- Berdiri 14 tahun, Sanipoda telah membina lebih dari 1.000 anak muda melalui dukungan PT Agincourt Resources untuk melestarikan budaya dan mengembangkan bakat.
Tapanuli Selatan, IDN Times - Ana Syafitri Daulay tidak pernah membayangkan langkah pertamanya belajar menari di sebuah taman baca anak di Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, suatu hari akan membawanya tampil di panggung internasional di Turki.
Perempuan yang kini kuliah Pendidikan Seni Tari di salah satu universitas negeri di Medan itu menjadi satu dari enam penari Sanggar Seni Sopo Daganak (Sanipoda) yang menampilkan kekayaan budaya Indonesia dalam dua festival budaya internasional di Turki, Oktober 2026.
Perjalanan Ana dimulai lebih dari 10 tahun lalu, saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar dan mengikuti kegiatan di Taman Baca Anak yang dikembangkan PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe. Hari ini, ia bersama Sanipoda yang tumbuh dari program pembinaan seni komunitas itu berdiri di hadapan sekitar 5.000 penonton dari berbagai negara.
“Awalnya saya senang belajar tari bersama teman-teman. Tidak menyangka kegiatan yang saya ikuti sejak SD bisa membawa saya tampil ke luar negeri,” kata Ana.
Pada 25 Oktober 2026, Sanipoda tampil dalam Pesta Rakyat Budaya (PERAYA) yang diselenggarakan Perhimpunan Pelajar Indonesia Istanbul di Istanbul University. Para penari yang dibalut kain karya UMKM binaan PTAR itu membawakan The Majesty of Nusantara, Tortor Hata Sopisik, dan Tari Batik Khas Tapanuli Selatan.
Penampilan ini sekaligus memperkenalkan seni tari dan karya tekstil dari Tapanuli Selatan kepada penonton internasional.
1. Memperkaya keragaman budaya dalam festival

Penari Binaan Tambang Martabe Tampil di Turki (Dok. PTAR) Rangkaian kegiatan Sanipoda berlanjut di International Festival of Arts “Kuşadası 26” pada 25–29 Oktober 2026. Sanipoda tampil dalam gala dinner pada 26 Oktober, mengikuti karnaval di Kuşadası Coast keesokan harinya, serta membawakan tarian pada acara puncak festival.
Soneryucel Celik, perwakilan International Festival of Arts “Kuşadası 26”, menilai kehadiran Sanipoda memperkaya keragaman budaya dalam festival yang diikuti sekitar 200 penari dari berbagai negara.
“Seni menjadi bahasa bersama. Meski latar belakang berbeda, peserta dan penonton bisa saling mengenal. Kami berharap hubungan ini terus berkembang setelah festival usai,” ujar Celik.
2. Belajar Tiada Akhir

Penari Binaan Tambang Martabe Tampil di Turki (Dok. PTAR) Di balik penampilan itu ada proses panjang yang tidak sebentar. Sanipoda berdiri 14 tahun lalu dan hingga kini telah membina lebih dari 1.000 anak muda dari wilayah sekitar Tambang Emas Martabe. Seluruhnya memulai dari nol, tanpa latar belakang seni formal.
Guru Tari Sanipoda, Putri Norma Sari Hasibuan, menekankan bahwa pengalaman tampil di Turki merupakan bagian dari proses belajar yang terus berlanjut.
“Dalam tari kelompok, setiap penari perlu menguasai bagiannya sekaligus memperhatikan teman-temannya. Pengalaman di Turki menjadi bahan belajar untuk melihat kemampuan yang sudah berkembang dan bagian yang masih perlu diperbaiki,” kata Putri.
Sebelumnya, Sanipoda kerap menjuarai sejumlah lomba tari, baik di tingkat kabupaten/kota hingga meraih juara 2 di Festival Warisan Budaya Nusantara di Jakarta serta tampil di Indonesia Menari 2025.
3. Sanipoda menjadi ruang yang dapat menghidupi dan dihidupi generasi muda

Penari Binaan Tambang Martabe Tampil di Turki (Dok. PTAR) Manager Community PT Agincourt Resources, Rohani Simbolon, mengatakan bahwa Agincourt Resources berkomitmen dalam merawat budaya Tapanuli Selatan melalui dukungan ke Sanipoda, termasuk memfasilitasi penampilannya di Turki. Ini merupakan bagian dari komitmen Perusahaan untuk melestarikan budaya Tapanuli Selatan sekaligus mengembangakan potensi generasi muda.
“Kami berharap Sanipoda menjadi ruang yang dapat menghidupi dan dihidupi generasi muda dalam mengenal budayanya sendiri dan mengembangkan kemampuannya,” tutur Rohani.
Perjalanan Sanipoda dari Tapanuli Selatan ke Turki menunjukkan bahwa dukungan konsisten banyak pihak terhadap pembinaan yang berkelanjutan membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mengembangkan bakat sekaligus memperkenalkan budaya daerah ke panggung internasional.






















