Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Swasta Digandeng Bangun Pabrik Es untuk Perikanan Nias

Kota Medan
3 min read
Swasta Digandeng Bangun Pabrik Es untuk Perikanan Nias
ilustrasi nelayan (pexels.com/Tweesak C.)
  • Pemprov Sumut menyiapkan keterlibatan swasta dan perbankan agar pembangunan pabrik es, TPI, serta pengadaan kapal nelayan di Nias Selatan tetap berjalan.

  • Subsidi bunga pinjaman menjadi opsi pembiayaan, sementara pengelolaan fasilitas dapat dikerjasamakan dengan swasta atau kelompok nelayan.

  • Data kebutuhan nelayan akan didata ulang karena ribuan nelayan masih memakai sampan dayung dan 60 ton rumput laut membusuk tanpa pembeli.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Gunungsitoli, IDN Times – Keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sumatra Utara tak boleh jadi alasan mandeknya pembangunan. Pemrpov Sumut tengah meracik strategi baru untuk menyuntikkan dana ke sektor perikanan di Kabupaten Nias Selatan.

Gubernur Sumut Bobby Nasution membidik keterlibatan pihak swasta dan perbankan. Jurus ini disiapkan agar pembangunan fasilitas krusial seperti pabrik es, tempat pelelangan ikan (TPI), hingga pengadaan kapal nelayan tetap berjalan di tengah penyesuaian anggaran pemerintah.

Rencana itu dibeberkan Bobby saat menerima audiensi Bupati Nias Selatan Sokhiatulö Laia dan kelompok nelayan di kediaman sementara Gubernur di Kota Gunungsitoli, Jumat (30/10/2026).

  1. 1. Anggaran dipotong, Bobby tuntut ide kreatif dari jajarannya

    ilustrasi nelayan
    ilustrasi nelayan (pexels.com/Will McMeechan)

    Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sumut sebenarnya sudah menyodorkan usulan tambahan anggaran fantastis mencapai Rp229 miliar. Namun, rasionalisasi dan penyesuaian postur APBD memaksa pemerintah putar otak.

    Bagi Bobby, pemangkasan anggaran tidak boleh berujung pada pemangkasan kinerja.

    "Kalau anggaran kita disesuaikan, harus ada ide kreatif. Jangan kalau uangnya dipotong, berarti kerjanya dipotong. Kita dorong pembangunan fasilitas bisa bekerja sama dengan pihak swasta," tegas Bobby.

  2. 2. Pemprov Sumut siap tanggung bunga bank untuk modal nelayan

    ilustrasi nelayan
    ilustrasi nelayan (pexels.com/CĂ¡tia Matos)

    Skema kredit perbankan menjadi opsi paling realistis. Pemprov Sumut menyatakan siap 'pasang badan' untuk menjembatani pembiayaan tersebut, salah satunya lewat kucuran subsidi bunga pinjaman.

    Dengan skema ini, pengelolaan fasilitas penunjang perikanan diharapkan jauh lebih profesional, mandiri, dan tidak terus-menerus menyusu pada dana APBD.

    "Misalnya pembuatan pabrik es, tidak semuanya harus pakai APBD. Bisa dikerjasamakan dengan pihak swasta atau dikelola kelompok nelayan. Yang ditanggung pemerintah mungkin bunganya, sehingga usaha pabrik es betul-betul berjalan secara optimal," urainya.

  3. 3. Ribuan nelayan masih pakai sampan dayung, 60 ton rumput laut membusuk

    WPP 572 - KI Arie Yudhistira_0001.jpg.jpeg
    Ilustrasi nelayan. (Dok: Konservasi Indonesia)

    Dorongan pemerintah Sumut bukan tanpa alasan. Bupati Nias Selatan Sokhiatulö Laia memaparkan ironi di wilayahnya. Potensi laut Nias Selatan sangat melimpah, mulai dari ikan, kerang, ratusan ribu bibit lobster, hingga 53 titik ombak untuk pariwisata.

    Nahasnya, harta karun maritim itu tak bisa digarap maksimal akibat miskinnya infrastruktur dan alat tangkap. Sokhiatulö menyebut, mayoritas dari 7.116 nelayan di wilayah Teluk hingga kini masih bertarung di lautan hanya bermodalkan sampan dayung.

    Akses pasar juga lumpuh. Ia mencontohkan nestapa petani rumput laut pada bulan lalu. Sebanyak 60 ton rumput laut terpaksa dibiarkan tak dipanen dan membusuk di perairan karena tak ada pembeli yang menampung.

    Mendengar peliknya masalah tersebut, Bobby menyoroti pentingnya peta jalan yang terukur, khususnya untuk kawasan kepulauan terluar seperti Pulau Telo. DKP dan Pemkab Nias Selatan ditugaskan mendata ulang kebutuhan paling mendasar, mulai dari listrik, air bersih, alat tangkap, hingga akses pasar.

    Ia tak ingin program Kampung Nelayan Merah Putih garapan Presiden di Telukdalam dan Pulau Telo hanya sebatas bangunan fisik mati tanpa denyut ekonomi lanjutan. Program penyangga wajib disiapkan.

    Menjawab desakan warga agar ia turun langsung ke Pulau Telo, Bobby menyanggupinya dengan satu syarat ketat, semua data dan rancangan program harus matang lebih dulu.

    "Saya ke sana programnya harus jelas dulu. Supaya pas saya datang, kita tidak hanya bawa janji, tapi membawa program dan solusi nyata untuk nelayan," pungkasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More