Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Tanam Mangrove Tumbuh Ekonomi

Kab. Langkat
3 min read
Tanam Mangrove Tumbuh Ekonomi
Kasto Wahydi melakukan Penanaman Mangrove di Edu-Ekowisata Mangrove Dusun X Paluh Baru Desa Pasar Rawa, Langkat (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Di tengah rawa dengan air merendam setengah badannya, Kasto Wahyudi menanam bibit demi bibit mangrove secara lihai dan teratur. Pria yang menjabat sebagai Ketua Kelompok Tani Penghijauan Maju Bersama di Dusun X, Desa Pasar Rawa, Kabupaten Langkat ini menjadikan pakaian kerja lusuhnya sebagai saksi bisu perjuangan menjaga ekosistem pesisir.

Kelompok tani yang dipimpin Kasto memperoleh izin perhutanan sosial seluas 178 hektare. Langkah strategis ini berhasil menggeser peran masyarakat lokal secara permanen dari pembalak menjadi perawat dan pelindung hutan.

Pengakuan Tingkat Nasional atas Kerja keras Dedikasi panjang yang konsisten tersebut mengantarkan Wahyu naik ke panggung nasional untuk menerima penghargaan Wana Lestari 2024 dari Menteri LHK Siti Nurbaya di Jakarta. Penghargaan sebagai Juara 3 kategori Kelompok Tani Hutan (KTH) serta penobatan sebagai model Wanawiyata Widyakarya pada 2026 menjadi buah manis dari perjalanan 15 tahun kelompok tani yang berawal dari keterbatasan pengetahuan lingkungan.

Bagi warga setempat, penghargaan ini dirasakan bagai 'penebusan dosa' atas kerusakan lingkungan di masa lalu. Dahulu, sebagian besar warga bekerja sebagai pembalak mangrove untuk pabrik arang. Aktivitas eksploitasi dan pencemaran limbah tersebut memicu kerusakan parah: air laut menghitam, ekosistem udang, ikan, serta kepiting sirna, yang berujung pada anjloknya perekonomian nelayan.

Kesadaran akan kehancuran alam mendorong warga untuk bersepakat menghentikan penebangan dan memulihkan mangrove. Pada tahun 2011, terbentuklah Kelompok Tani Penghijauan Maju Bersama. Secara otodidak dan berswadaya, mereka rutin menanam bakau setiap hari Jumat demi mengembalikan biota laut yang sempat hilang.

Gagasan konservasi berkembang menjadi peluang pariwisata berbasis pemberdayaan masyarakat. Berbagai pihak seperti BPBDAS, Yagasu, Pertamina, dan BRGM memberikan dukungan bibit, infrastruktur jembatan kayu yang ikonik, hingga fasilitas homestay serta pelatihan UMKM olahan lokal.

Lalu pada 2023, PLN Indonesia Power melalui unit usaha PLTU Pangkalan Susu bersama masyarakat menanam ribuan bibit mangrove dan nipah untuk memperkuat perlindungan kawasan pesisir. PLN mendorong model pembangunan berkelanjutan yang menggabungkan konservasi ekosistem mangrove, penguatan ekonomi masyarakat, pengembangan ekowisata, serta peningkatan kapasitas kelompok rentan dalam satu ekosistem pemberdayaan. Sejak saat itu Desa Pasar Rawa resmi bertransformasi menjadi destinasi Wisata Mangrove.

Kehadiran desa wisata ini berhasil mendongkrak perekonomian warga secara nyata. Kini warga tidak hanya mengandalkan laut sebagai nelayan, tetapi juga berprofesi sebagai pengelola pariwisata, pekerja kafe, hingga pembuat jajanan khas. Wisatawan lokal hingga mancanegara mulai rutin berkunjung untuk menikmati keindahan alam dan fasilitas rekreasi.

Dampak positif restorasi mangrove merembet ke ranah domestik keluarga. Kaum perempuan membentuk Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Maju Bersama Kuliner. Mereka mengolah hasil tangkapan nelayan menjadi produk olahan bernilai tambah seperti "Baronang Crispy", yang mampu memproduksi ribuan bungkus per bulan dan menambah pendapatan ekonomi rumah tangga

Keberhasilan Desa Pasar Rawa sebagai bukti nyata bahwa ketahanan lingkungan dan ekonomi dapat berjalan beriringan.

Kini, cibiran masa lalu berganti menjadi kekompakan warga dalam menjaga hutan bakau. Meski tidak mendalami teori perubahan iklim secara akademis, warga merasakan langsung bagaimana hutan mangrove memberikan 'kesempatan kedua' untuk memperbaiki kualitas hidup dan memperpanjang nafas perekonomian mereka.(*)

    Related Articles

    See More