Lanjutnya, ia juga berharap bahwa Dinas Kesehataan melakukan pelatihan khusus terhadap petugas yang melakukan pemulasaran COVID-19 bersama MUI atau pihak yang berorientasi.
“Di sinilah kadang-kadang jadi pertanyaan, mereka seyogyanya lakukan pelatihan yang melibatkan MUI, agar dapat diyakini. Ini tidak pernah terjadi, dan kemudian orang berpikir ini dilaksanakan secara Islam atau tidak,” tutur Ketua MUI kota Medan.
Selain itu, ia juga mengatakan terlepas dari jenazah berdaster tersebut. Ada beberapa kasus lain, seperti di luar kota Medan yang sedang viral bahwa jenazah disalatkan dengan adanya gerakan rukuk.
“Jadi itu juga banyak pertanyaan ke saya, sah atau tidak. Saya bilang kalau tidak sesuai dengan rukun, itu tidak sah. Cuma saya lihat di belakang imamnya itu tidak mengikuti imamnya, imamnya aja yang salah, kalau di dalam kitab suci fiqih kalau imam salah kita ingatkan dan tetap salah maka bisa berpisah (mufaraqoh) jadi terbantu oleh orang di belakang itu,” ujarnya
“Di sini lah perlunya yang paham dengan itu, dengan itu perlu kerjasama dengan MUI atau yang mana saja yang memiliki otoritas tersebut,” tutupnya.