Begini Kondisi Terkini 3 Siswa Korban Keracunan MBG Karo di RSU Haji Medan

Tiga siswa korban dugaan keracunan MBG di Karo dirawat di RSU Haji Medan; kondisi mereka membaik, dengan pasien PICU mulai dipindahkan ke ruang rawat biasa.
Para pasien mengalami gangguan pencernaan seperti sakit perut, kembung, diare atau sembelit; sebagian juga mendapat penanganan psikologis akibat trauma setelah kejadian.
Sebanyak 353 siswa dari lima sekolah dilaporkan terdampak; BGN menduga masalah penanganan ikan, menutup dapur terkait, dan mencopot kepala SPPG.
Medan, IDN Times - Tiga dari 353 siswa yang menjadi korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, kini menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum RSU Haji Medan.
Dari tiga siswa tersebut, dua orang dirawat di Pediatric Intensive Care Unit PICU, sedangkan satu lainnya menjalani perawatan di ruang rawat inap anak.
Kepala Instalasi Humas dan Pelayanan Pengaduan RSU Haji Medan, Arfan Ansari, mengatakan kondisi sejumlah pasien mulai menunjukkan perbaikan meski masih membutuhkan pengawasan medis.
"Info terakhir pasien sudah keluar dari ruangan PICU dan sudah dirawat di ruangan rawat inap biasa dan kondisi membaik," katanya pada IDN Times, Jumat (21/8/2026).
1. Kronologi tiga pasien rujukan

256 Siswa di Karo Dirawat Diduga Keracunan MBG (Dok. KPPG Sumut) Ketiga pasien tersebut yakni Krismas Dayanti, Febiona, dan Anna Karina Karo. Krismas merupakan pasien pertama yang dirujuk dari Kabupaten Karo pada 14 Agustus 2026.
Menurutnya, para pasien pada saat datang dengan kondisi yang lemas. Artinya, hampir terjadi penurunan kesadaran, dan memang mengalami sakit yang sangat hebat di sekitar perut.
Sedangkan, kondisi Krismas kini disebut telah membaik dan direncanakan dipindahkan dari PICU ke ruang perawatan biasa.
RSU Haji Medan kemudian menerima pasien lain bernama Febiona boru Purba yang sebelumnya mendapat perawatan di RS Efarina Etaham Karo. Menurut informasi yang diterima rumah sakit, Febiona sempat diperbolehkan pulang. Namun, keluhan sakit pada bagian perut kembali muncul sehingga ia akhirnya dirujuk ke RSU Haji Medan.
Kemudian juga pihak RSU Haji Medan menerima pasien rujukan atas nama Febiona boru Purba dari Rumah Sakit Efarina Etaham Karo. Sebelumnya, pasien sudah sempat pulang ke rumah, tapi mengalami sakit lagi di perutnya dan sempat dirawat di PICU.
Pada hari yang sama, rumah sakit juga menerima pasien bernama Anna Karina boru Karo yang dirujuk dari Rumah Sakit Amanda Berastagi. Anna tidak menjalani perawatan di PICU karena kondisinya dinilai lebih stabil.
"Kini para pasien sudah membaik," ungkap Arfan.
2. Keluhan gangguan pencernaan dan dampak psikologis

256 Siswa di Karo Dirawat Diduga Keracunan MBG (Dok. KPPG Sumut) Arfan menjelaskan, ketiga pasien menunjukkan keluhan yang hampir serupa berupa gangguan pada sistem pencernaan. Gejalanya antara lain sakit perut, perut kembung, diare atau sembelit, serta rasa begah.
Saat ditanya apakah kondisi tersebut dapat dikategorikan sebagai keracunan makanan, pihak rumah sakit belum memberikan kesimpulan secara pasti.
"Kalau yang dialami pasien ya seperti keracunan makan," tuturnya.
Selain mengalami gangguan fisik, pihak rumah sakit juga menemukan adanya dampak psikologis pada sejumlah siswa. Beberapa pasien disebut mengalami trauma setelah mengingat kembali kejadian saat mereka menyantap makanan MBG.
Rumah sakit kemudian mengonsultasikan sebagian pasien kepada dokter spesialis kedokteran jiwa untuk mendapatkan penanganan psikologis.
"Untuk penaganan psikologis aman," ucapnya.
Menurut Arfan, trauma tersebut terlihat ketika para siswa kembali mengingat pengalaman saat makan sebelum mengalami gangguan kesehatan.
3. Total sebanyak 353 siswa mengalami keracunan makanan

256 Siswa di Karo Dirawat Diduga Keracunan MBG (Dok. KPPG Sumut) Sebelumnya, sebanyak 353 siswa dari lima sekolah di Kabupaten Karo dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG.
Kepala Badan Gizi Nasional BGN Sudaryono sebelumnya menyebut dugaan penyebab mengarah pada penanganan bahan makanan, khususnya ikan yang tidak disimpan di dalam freezer selama 10–12 jam.
"Ikan basah tidak ditaruh ke dalam freezer, itu suatu kebodohan dan kelalaian. Kami sudah menutup dapur dan mencopot kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi SPPG," tegasnya.
BGN juga menyatakan akan membuka hasil investigasi kasus tersebut secara transparan. Sudaryono menegaskan pengelolaan bahan makanan harus dilakukan secara disiplin agar kejadian serupa tidak kembali terulang.




















