Kelangkaan Beras Premium Diprediksi Segera Pulih, El Nino Jadi Ancaman

- Kelangkaan beras premium di Medan diperkirakan pulih dalam satu hingga dua pekan seiring musim panen di Sumatra Utara, meski dapat mengganggu usaha kuliner yang bergantung pada merek tertentu.
- Bulog dinilai perlu menjaga pasokan untuk satu hingga dua pekan dengan stok sekitar 66 ribu ton; data produksi dan konsumsi yang fluktuatif masih menyulitkan mitigasi risiko.
- El Nino yang diprediksi bertahan hingga kuartal I 2027 mengancam produksi dan stok lokal, terutama bila panen Sumut September–Oktober tidak mencukupi kebutuhan hingga Februari.
Medan, IDN Times - Kelangkaan beras premium di sejumlah ritel modern dan pedagang pengecer di Kota Medan diprediksi akan segera teratasi dalam waktu satu hingga dua pekan ke depan. Namun, ancaman lebih besar terhadap pasokan beras nasional justru diproyeksikan muncul akibat fenomena El Nino.
Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin mengatakan, minimnya pasokan beberapa merek beras saat ini belum memicu kepanikan besar atau panic buying di masyarakat. Akan tetapi, bagi pelaku usaha kuliner yang bergantung pada merek tertentu, kelangkaan ini berpotensi mengganggu kesinambungan usaha.
"Namun saya memperkirakan masalah ini akan segera teratasi dalam waktu satu hingga dua pekan mendatang. Seiring dengan jadwal musim panen padi atau gabah yang mulai terjadi di Sumatra Utara," ujar Gunawan, Kamis (20/8/2026).
1. Bulog perlu memastikan pasokan beras

Beras merek premium di supermarket dibongkar untuk tidak dipajang (IDN Times/Indah Permata Sari) Dia menilai kunci pemulihan jangka pendek ada pada Perum Bulog.
Menurutnya, Bulog perlu memastikan pasokan beras setidaknya untuk satu hingga dua pekan ke depan, atau memiliki stok sekitar 66 ribu ton agar pasokan tetap aman.
2. Data pasokan masih fluktuatif

Beras merek premium di supermarket dibongkar untuk tidak dipajang (IDN Times/Indah Permata Sari) Gunawan menilai kelangkaan ini tidak lepas dari persoalan ketersediaan data pasokan beras, baik dari pemerintah maupun pelaku usaha penggilingan.
"Data pasokan beras itu sangat fluktuatif, dipengaruhi keberhasilan petani di sawah serta dinamika cuaca yang bisa saja membuat ekspektasi produksi meleset. Data ini penting sebagai cara untuk memitigasi risiko yang berpeluang muncul di masa mendatang," jelasnya.
Ia juga menilai Indonesia belum memiliki data yang benar-benar mampu memetakan produksi maupun konsumsi secara menyeluruh. Distribusi beras yang terjadi antardaerah atau antarpovinsi, menurutnya, dapat menjadi solusi gangguan pasokan melalui tata niaga yang telah terjalin antarpedagang besar dan produsen.
3. El Nino mengancam hingga kuartal I 2027

Beras merek premium di supermarket dibongkar untuk tidak dipajang (IDN Times/Indah Permata Sari) Meski kelangkaan saat ini diperkirakan selesai, Gunawan mengingatkan adanya ancaman lebih besar terhadap pasokan beras dalam beberapa bulan ke depan. Salah satunya adalah potensi gangguan produksi akibat El Nino.
"Sekalipun Sumatra Utara nantinya bisa memaksimalkan produksi padinya, namun bukan berarti ancaman kelangkaan maupun kenaikan harga akan terhindarkan," katanya.
Ia menjelaskan, jika wilayah lain mengalami gagal panen dan produksi turun, maka pasokan beras dari Sumatra Utara akan mengalir ke daerah tersebut. Kondisi ini berpotensi menipiskan stok lokal.
Lebih lanjut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika BMKG memprediksi fenomena El Nino akan bertahan hingga kuartal pertama tahun 2027.
"Sehingga pemerintah harus mengeluarkan segala instrumen kebijakan yang efektif untuk mengatasi ancaman tersebut," tegas Gunawan.
Ia memproyeksikan puncak musim panen padi di Sumatra Utara berlangsung pada September hingga Oktober 2026. Namun, ia khawatir hasil panen tersebut tidak akan mampu menyisakan stok hingga Februari 2027 atau saat Hari Raya Idulfitri.
"Musim panen padi di Sumut yang diproyeksikan puncaknya akan berlangsung September hingga Oktober, berpeluang tidak mampu menyisakan stok atau pasokan beras hingga Februari atau Idulfitri mendatang," pungkasnya.

















