Tangis Benaya, Kenang Pelajar NTT Meninggal Karena Biaya Pendididikan

Medan, IDN Times - Suara Benaya sontak lirih. Tangisnya pecah kala mengingat berita hangat soal seorang pelajar Sekolah Dasar berinisial YBR (10) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang nekat mengakhiri hidup karena tidak bisa memenuhi biaya pendidikan.
Pemuda bernama lengkap Benaya Ryamizard Harobu merasa sedih karena kondisi buruknya pendidikan di Indonesia harus memakan korban. Apalagi YBR berasal dari tempat salah satu penulis buku Reset Indonesia itu lahir.
“Bagaimana saya tidak terpukul dengan peristiwa ini. Adik saya harus meregang nyawa akibat ketidakadilan dalam sistem pendidikan. Ini menjadi tamparan keras bagi kita yang mau berpikir jernih,” kata Benaya, dalam Bedah Buku Reset Indonesia di Kota Medan, Kamis (6/2/2026).
1. Ketimpangan pendidikan masih terjadi, daerah Timur masih tertinggal

Meninggalnya YBR menjadi salah satu bukti bahwa ketimpangan pendidikan di Indonesia nyata adanya. Mereka yang hidup di bagian Timur Indonesia harus berjuang untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Soal pendidikan ini, menjadi salah satu topik kritis yang dibahas dalam buku Reset Indonesia. “Kami menawarkan reformasi dunia pendidikan,” kata Benaya.
Apa yang mendera YBR harusnya menjadi tamparan keras. Negara belum sepenuhnya hadir untuk menjamin hak dasar pendidikan bagi seluruh warganya.
Benaya menjelaskan bahwa buku Reset Indonesia lahir melalui riset panjang dengan pendekatan naratif. Ia dan Dhandy Dwi Laksono berupaya menyampaikan isu-isu struktural secara lebih membumi agar mudah dipahami oleh masyarakat luas.
“Literasi kritis menjadi kunci untuk memperkuat partisipasi publik dalam demokrasi,” ucap Benaya.
2. Reset Indonesia hadir untuk memantik kesadaran kolektif

Bagi Benaya Reset Indonesia hadir untuk memantik kesadaran kolektif masyarakat. Menjaga kritik tetap langgeng terhadap negara yang belum berpihak pada rakyatnya.
Membaca dan berdiskusi bagi Benaya adalah langkah awal. Langkah untuk membangun kesadaran kolektif itu.
3. Jadi literasi kritis sebagai kekuatan demokrasi

Benaya menjelaskan bahwa buku Reset Indonesia lahir melalui riset panjang dengan pendekatan naratif. Ia dan Dhandy Dwi Laksono berupaya menyampaikan isu-isu struktural secara lebih membumi agar mudah dipahami oleh masyarakat luas.
“Literasi kritis menjadi kunci untuk memperkuat partisipasi publik dalam demokrasi,” ungkapnya.


















