Tanam Mangrove Jadi Penebus Dosa, Dongkrak Ekonomi Warga Desa Pasar Rawa

Langkat, IDN Times - Setengah badannya terendam air, tangannya lincah meraba ke dasar rawa. Dalam sekejap, satu bibit mangrove tegak berdiri. Lihai betul tangan pria itu. Dalam hitungan menit, belasan bibit mangrove selesai di tanamnya dengan jarak teratur.
Itu lah keseharian Kasto Wahyudi, Ketua Kelompok Tani Penghijauan Maju Bersama Dusun X, Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Kaos oblong warna gelap yang sudah luntur warnanya, celana pendek selutut, dan topi untuk menghalau matahari jadi pakaian ‘dinas’.
Terlihat lusuh memang tetapi berkat pakaian ‘dinas’ itu, ia pernah naik panggung untuk menerima penghargaan Wana Lestari sebagai juara 3 kategori Kelompok Tani Hutan (KTH) dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya di Jakarta pada 15 Agustus 2024.
“Usaha memang tak mengkhianati hasil. Kelompok tani ini sudah berdiri 15 tahun, dari tidak tahu apa-apa soal lingkungan, nelayan kecil yang hampir putus asa, bisa menerima penghargaan lingkungan tingkat nasional,” ucapnya pria yang akrap disapa Wahyu ini pada IDN Times.
Pria berbadan gempal ini menyebut penghargaan yang diterima oleh Kelompok Tani Pasar Rawa bagai ‘penebusan dosa’ masa lalu. Dosa atas ketidaktahuan bahwa apa yang pernah mereka lakukan dulu ternyata telah merusak alam, hutan, air laut hingga menandaskan mata pencaharian mereka sendiri.
Dahulu, kenang Wahyu, sebagian besar warga Desa Pasar Rawa adalah nelayan dan pembuat arang. Mereka membabat mangrove untuk dijadikan arang, membuang limbah pabrik arang ke laut. Ikan sirna, kepiting dan udang di hutan mangrove tak terjala lagi, air laut berubah menjadi hitam pekat. Penghasilan nelayan anjlok.

Penyesalan memang selalu datang belakangan. Syukurnya warga desa segara sadar dan membuat kesepakatan bersama bahwa ekosistem mangrove harus diperbaiki dan dibuat larangan menebang mangrove.
Dari ide tersebut warga desa sepakat membentuk Kelompok Tani dengan nama Maju Bersama pada 2011. Mereka secara otodidak menanam bakau laut dengan harapan jika mangrove membaik maka kepiting, ikan, dan udang akan berkembang biak lagi.
“Kami dulu menanamnya itu setiap hari Jumat. Kami juga belum tahu cara membibitkan. Kami tanam secara swadaya dan kami komitmen menjaga sisa hutan yang ada,” katanya.
Setelah 5 tahun dampaknya mulai kelihatan. Ikan, udang, kepiting semakin banyak di kawasan mangrove yang mereka tanam.
Pada tahun 2018, Kelompok Tani Pasar Rawa mendapat pembinaan dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah I Stabat untuk mengikuti perizinan perhutanan sosial. Pada tahun yang sama mereka mendapat izin kemitraan perhutanan sosial seluas 178 hektare dengan berbagai persyaratan. Strategi ini ditempuh pemerintah untuk mengubah peran masyarakat dari pembalak menjadi perawat hutan.
Sejak saat itu KPH rutin memberikan pembinaan tentang cara membibitkan mangrove, merawat hutan, dan mengolah hasil hutan dan laut secara benar. Selain itu muncul ide menjadikan Desa Pasar Rawa sebagai Edu-Ekowisata Mangrove.
Ide-ide liar muncul: Membangun dermaga, tempat memancing, kolam bermain anak, hingga homestay. Selain itu lahir gagasan membuat kafe berkonsep outdoor dengan menu makanan hasil laut serta jajanan khas lokal.

Bak bunga yang sedang mekar, lebah pasti datang. Begitulah yang dirasakan warga Desa Pasar Rawa. Ide Desa Wisata Mangrove mendapat dukungan dari banyak pihak.
BPBDAS Wampu Sei Ular misalnya, menawarkan penanaman mangrove untuk lahan seluas 70 hektare pada 2020. Yagasu membantu ribuan bibit mangrove, sedangkan Pertamina membantu pembangunan Homestay, serta hibah peralatan pada UMKM untuk membuat camilan dan oleh-oleh.
Tahun 2021 BRGM menggandeng warga untuk menanam 135 hektare mangrove secara swakelola. BRGM juga memberikan bantuan infrastruktur berupa pembangunan jembatan. Jembatan dari kayu ini sangat ikonik dan hingga kini mejadi daya tarik wisatawan.
“Warga Desa sekarang tidak hanya menjadi nelayan tapi juga menjadi pengelola desa wisata, pekerja kafe, pembuat camilan, penjaga homestay dan lain sebagainya. Alam terjaga, ekonomi warga juga membaik. Ini gak pernah kami bayangkan dulu, ternyata ini manfaat kita menjaga lingkungan,” ungkapnya.
Kabar destinasi baru ini segera tersebar. Setahun terakhir sudah ada 5 rombongan wisatawan dari luar negeri datang dan menginap di desa ini. Tiap akhir pekan ratusan wisatawan lokal datang. Melihat perubahan besar ini, KPH mengusulkan Kelompok Tani Pasar Rawa mengikuti seleksi penerima penghargaan Wana Lestari.
“Saya nggak menyangka, Alhamdulillah, kami terpilih menjadi Juara 3 Nasional Wana Lestari tahun 2024 Kategori KTH. Awalnya waktu tahun 2011 pertama kali menanam mangrove, saya enggak kebayang bisa bakal jadi seperti ini. Kami tahunya waktu itu hanya menanam saja,” ungkapnya.
Gunjingan dan nada sinis tentang ‘pahlawan kesiangan’ tak lagi pernah terdengar. Kini masyarakat kompak menjaga mangrove dan hutan bersama-sama. Tak ada lagi pabrik arang.
Wahyu mengaku tak begitu paham secara ilmiah mangrove bisa memperlambat pemanasan global atau perubahan iklim. Wahyu juga tak sadar apa yang dilakukannya sejalan dengan 17 pilar The Sustainable Development Goals (SGDs) yang ditetapkan Persatuan Bangsa Bangsa (PBB). Yang ia tahu, hutan mangrove telah memberi ‘kesempatan kedua’, memperpanjang napas dan meningkatkan perekonomian keluarga.

Ke depannya, Wahyu bermimpi Wisata Mangrove bisa lebih maju lagi. Seperti membuat jalur langsung ke hutan mangrove. Karena olahraga lari dan sepedaan kini tengah digandrungi anak muda dan orang tua.
Ia berharap semua pihak khususnya pemerintah terus memberikan dukungan untuk pengembangan pariwisata Desa Pasar Rawa.
“Kami sudah menyiapkan destinasinya, harapannya ada perbaikan sarana jalan menuju desa kami. Sehingga waktu tempuh bisa lebih pendek dan pengunjung nyaman datang ke sini. Yang kami butuhkan bukan hanya viral, kami mau pengunjung yang datang merasa nyaman dan akan datang berkali-kali ke sini,” ucapnya.
Leni adalah salah satu pengunjung setia. Seminggu terakhir ia sudah berkunjung 5 kali bersama keluarganya. Mereka sekeluarga suka memancing dan Pasar Rawa punya daya tarik tersendiri.
“Di sini nyaman, udaranya sejuk, ada pondok-pondoknya, makanan serba murah. Gak khawatir anak akan kemana-mana. Mertua, suami, dan saya hobi memancing. Jadi waktu mertua datang ke Medan, kami ajak kemari dan dia suka,” ujar Warga Kota Medan ini.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengapresiasi geliat ekonomi yang tumbuh mandiri di Desa Pasar Rawa. Pemanfaatan mangrove yang dilakukan masyarakat, menurutnya, menjadi contoh nyata bagaimana UMKM bisa tumbuh dengan memanfaatkan potensi alam di sekitarnya.
Ia meyakini wisata mangrove memiliki potensi besar dengan catatan masyarakat dan pemerintah harus terus melakukan inovasi dan kolaborasi.
“Perjalanan Pasar Rawa adalah bukti bahwa ketahanan lingkungan dan ketahanan ekonomi dapat berjalan beriringan. Dari desa yang dulu menebang mangrove untuk dijadikan arang, bertransformasi menjadi komunitas penjaga lingkungan,” ungkapnya.



















