Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rumah-Rumah yang Memanas di Tengah Kepadatan Kota Batam

Rumah-Rumah yang Memanas di Tengah Kepadatan Kota Batam
Salah satu kawasan rumah padat penduduk yang ada di Kota Batam (IDN Times/Putra Gema Pamungkas)
Intinya Sih
  • Rumah padat di Batam dengan ventilasi minim membuat warga bergantung pada AC dan lampu, meningkatkan tagihan listrik serta menurunkan kenyamanan dan kesehatan penghuni.
  • Survei terhadap 30 ibu rumah tangga menunjukkan mayoritas mengalami stres, kelelahan, hingga gangguan pernapasan akibat panas dalam rumah yang buruk sirkulasinya.
  • Kota Batam ditetapkan sebagai kota percontohan proyek SETI untuk mendorong dekarbonisasi sektor bangunan melalui efisiensi energi, penggunaan energi terbarukan, dan penerapan prinsip bangunan hijau.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Pukul sebelas siang, ketika matahari mulai memukul atap-atap rumah warga Kota Batam, Mirza Andaini (36) berjalan ke ruang tamu dan melakukan gerakan yang hampir tidak pernah berubah setiap hari: menekan sakelar lampu lalu mengambil remote Air Conditioner (AC).

Padahal siang belum benar-benar terik. Tetapi di rumah itu, terang dan sejuk tidak datang dengan sendirinya. Ventilasi yang minim membuat udara sulit bergerak, sementara bukaan yang terbatas membuat cahaya alami tidak cukup masuk ke dalam rumah.

Akibatnya, meski matahari sedang tinggi, lampu harus tetap menyala agar ruangan tidak terasa gelap. Pada saat yang sama, pendingin ruangan harus terus bekerja agar suhu di dalam rumah tidak berubah menjadi pengap dan menyesakkan.

“Kalau tidak hidup, rasanya sesak. Rumah jadi panas kali. Anak-anak juga tidak betah lama-lama di dalam,” kata Mirza sambil sesekali melihat remot pendingin ruangan di tangan kanannya, Selasa (12/5/2026).

Di banyak kawasan permukiman padat penduduk Kota Batam, rasa gerah juga muncul dari cara rumah dibangun—ruang yang sempit, ventilasi yang terbatas, serta minimnya akses cahaya dan aliran udara alami. Rumah yang semestinya menjadi tempat paling nyaman untuk beristirahat justru semakin bergantung pada lampu dan pendingin ruangan agar tetap layak dihuni, bahkan pada siang hari.

Kondisi itu pelan-pelan menciptakan biaya yang sering tidak disadari warga. Ketika udara tidak bergerak dan cahaya tidak cukup masuk, lampu harus menyala lebih lama dan pendingin ruangan bekerja lebih keras. Akibatnya, konsumsi listrik rumah tangga meningkat dari bulan ke bulan. Persoalan ini tidak hanya berhenti pada tagihan listrik yang membengkak, tetapi juga memengaruhi kenyamanan, kesehatan, hingga tekanan psikologis penghuni yang menghabiskan banyak waktu di dalam rumah.

Saat Rumah Tak Lagi Menjadi Tempat Paling Nyaman

-
Ilustrasi penggunaan Air Conditioner (AC) di dalam rumah (IDN Times/Putra Gema Pamungkas)

Sebagai ibu rumah tangga, sebagian besar waktu Mirza berlangsung di dalam rumah. Pagi dimulai dengan menyiapkan sarapan, membersihkan rumah, mencuci pakaian, lalu berganti menemani anak-anak dan menyelesaikan pekerjaan domestik yang seperti tidak pernah benar-benar selesai.

Rumah seharusnya menjadi ruang paling aman dan nyaman untuk menjalani semua rutinitas itu. Namun bagi Mirza, rumah perlahan berubah menjadi ruang yang menguras tenaga. Siang datang, panas terasa menumpuk di dalam dinding, udara tidak bergerak—kepala mulai terasa berat.

Ia kadang membuka pintu depan hanya untuk berharap ada sedikit angin masuk, tetapi yang datang sering kali hanya hawa panas dari luar. Pada akhirnya, lampu tetap menyala dan AC kembali dinyalakan.

“…siang hari lampu tetap hidup karena di dalam gelap. Kalau AC dimatikan, tidak lama sudah gerah lagi. Jadi listrik memang terasa naik terus,” ungkap Mirza.

Yang semula dianggap Mirza hanya persoalan cuaca lama-kelamaan berubah menjadi beban rumah tangga yang lebih besar. Setiap bulan tagihan listrik terus merangkak naik. Ia mulai mencoba menghitung ulang pengeluaran, mengurangi belanja yang tidak mendesak, dan menunda beberapa kebutuhan rumah tangga lain.

“Beberapa tahun lalu, seperti di tahun 2019, listrik bulanan saya itu rata rata di Rp700 ribu. Sekarang sudah sentuh Rp1,1 juta,” lanjutnya. Penghematan itu sering tidak banyak membantu karena sebagian besar listrik habis untuk menjaga rumah tetap bisa dihuni dengan nyaman.

“Kadang stres juga. Di rumah terus, panas, listrik naik. Mau hemat susah karena kalau AC dimatikan memang tidak nyaman,” katanya. Ada hari-hari ketika ia merasa lebih cepat lelah, lebih mudah marah, atau sekadar ingin keluar rumah karena terlalu lama berada di ruang yang panas dan tertutup.

Mirza mungkin tidak pernah menyebut rumahnya sebagai bangunan yang tidak efisien energi. Ia juga tidak akrab dengan istilah bangunan hijau atau dekarbonisasi sektor bangunan. Tetapi pengalaman yang ia alami memperlihatkan bagaimana kualitas bangunan ternyata menentukan kualitas hidup penghuninya.

Panas yang Tinggal Bersama Warga

-
Infografis hasil survey yang dilakukan tentang kualitas hunian dan kehidupan sehari-hari warga Batam (IDN Times/Putra Gema Pamungkas)

Apa yang dialami Mirza ternyata bukan pengalaman yang berdiri sendiri.

 

Untuk melihat bagaimana kualitas hunian memengaruhi kehidupan sehari-hari warga, dilakukanlah survei terhadap 30 ibu rumah tangga yang dipilih secara acak di empat kawasan padat penduduk di Kota Batam, yakni Bengkong Sadai, Batu Aji, Batam Kota, dan kawasan rumah liar di Baloi Kolam.

 

Survei ini mencoba memotret pengalaman kelompok yang menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam rumah dan paling dekat merasakan perubahan kualitas lingkungan binaan. Hasilnya menunjukkan bahwa rumah bagi sebagian responden tidak lagi sepenuhnya menjadi ruang yang nyaman.

 

Sebanyak 24 dari 30 responden mengaku mengalami stres akibat kondisi rumah yang terasa semakin panas. Mereka menggambarkan ruang tinggal yang cepat gerah pada siang hari, udara yang terasa berhenti bergerak, serta kebutuhan untuk terus menyalakan pendingin ruangan agar aktivitas domestik tetap bisa berjalan. Sebagian responden mengaku mulai lebih mudah lelah, sulit beristirahat pada siang hari, hingga merasa emosi lebih mudah berubah ketika terlalu lama berada di dalam rumah.

 

Sementara itu, enam responden lainnya mengaku belum merasakan dampak serupa secara signifikan. Namun, sebagian kecil dari kelompok ini merupakan warga yang baru menetap di Batam selama satu hingga dua tahun sehingga belum cukup lama membandingkan perubahan kondisi panas maupun kenyamanan hunian yang mereka tempati.

 

Temuan lain menunjukkan bahwa panas di dalam rumah tidak berhenti sebagai persoalan kenyamanan, tetapi ikut membentuk pengeluaran rumah tangga. Hampir seluruh responden mengaku merasakan kenaikan tagihan listrik secara bertahap dalam beberapa tahun terakhir. Mereka menilai peningkatan tersebut berkaitan dengan perubahan pola penggunaan listrik di rumah, terutama karena pendingin ruangan kini menyala lebih lama dibanding sebelumnya. Jika dahulu AC atau pendingin ruangan hanya digunakan pada malam hari, kini sebagian warga mulai menyalakannya sejak siang untuk menjaga suhu ruang tetap nyaman.

 

Persoalan kualitas bangunan juga terlihat dari kondisi sirkulasi dan pencahayaan alami. Dari 30 responden, sebanyak 13 orang mengaku mengalami stres akibat tinggal di rumah yang terasa sumpek karena minim ventilasi dan terbatasnya jumlah jendela sehingga cahaya matahari sulit masuk ke dalam ruangan. Kondisi itu membuat rumah tetap membutuhkan lampu meski pada siang hari dan memperkuat ketergantungan pada pendingin ruangan.

 

Dampaknya juga menyentuh aspek kesehatan. Sebanyak 22 responden mengaku pernah mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), baik dialami sendiri maupun oleh anak-anak mereka. Meski survei ini tidak dirancang untuk menunjukkan hubungan sebab akibat secara medis, pengalaman para responden memperlihatkan bagaimana kualitas hunian, mulai dari sirkulasi udara, pencahayaan, hingga suhu ruang—menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang menentukan kenyamanan, kesehatan, dan biaya hidup warga di kawasan padat penduduk Batam.

-
Table data penyakit ISPA di Kota Batam sejak tahun 2023-2025 (IDN Times/Putra Gema Pamungkas)

Data yang diperoleh dari Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi memperlihatkan bahwa ISPA memang masih menjadi salah satu penyakit yang paling sering ditemukan di Batam. Berdasarkan data yang dihimpun dari aplikasi e-Puskesmas, jumlah kasus ISPA dengan kode diagnosis J06.9 (acute upper respiratory infection, unspecified) tercatat terus meningkat dalam tiga tahun terakhir.

Pada 2023 terdapat 10.006 kasus, meningkat menjadi 12.870 kasus pada 2024, lalu kembali melonjak menjadi 18.950 kasus pada 2025. Kenaikan itu terlihat hampir di seluruh kelompok jenis kelamin, dengan kasus pada perempuan sedikit lebih tinggi dibanding laki-laki pada setiap tahunnya.

 

Didi Kusmarjadi sebelumnya juga menyampaikan bahwa ISPA secara konsisten masuk dalam kelompok penyakit dengan jumlah kasus tertinggi di Batam, dan kelompok yang paling rentan adalah anak-anak, bayi, serta lansia karena daya tahan tubuh mereka relatif lebih lemah terhadap gangguan pernapasan dan perubahan kondisi lingkungan.

 

“Cuaca, kualitas lingkungan, serta perilaku hidup sehat menjadi sejumlah faktor yang ikut memengaruhi munculnya kasus ISPA di masyarakat,” ungkap Didi, Rabu (20/5/2026).

Panas di Dalam Rumah, Risiko yang Tak Terlihat

-
Ilustrasi perumahan baru yang ada di Kota Batam (IDN Times/Putra Gema Pamungkas)

Panas yang dirasakan Mirza dan puluhan ibu rumah tangga di kawasan padat penduduk Batam ternyata tidak berhenti sebagai persoalan rasa tidak nyaman atau meningkatnya tagihan listrik. Dalam ilmu kesehatan lingkungan dan kesehatan kerja, kondisi ruang tinggal yang panas, pengap, minim ventilasi, dan dihuni dalam waktu lama memiliki konsekuensi yang lebih dalam terhadap tubuh manusia.

 

Prof. Doni Hikmat Ramdhan, dosen sekaligus Guru Besar Tetap Departemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia mengatakan, kondisi rumah seperti itu dapat memicu heat stress atau stres akibat panas.

 

Menurut Doni, heat stress terjadi ketika tubuh mengalami kesulitan mengendalikan panas berlebih yang berasal dari lingkungan maupun panas yang dihasilkan aktivitas tubuh sendiri. Kondisi tersebut menyebabkan suhu inti tubuh meningkat melewati batas normal.

 

Saat seseorang terpajan panas, tubuh sebenarnya memiliki mekanisme alami untuk menjaga suhu tetap stabil. Hipotalamus akan mengaktifkan respons pendinginan, sementara kelenjar keringat bekerja lebih aktif agar panas keluar melalui penguapan di permukaan kulit.

 

Namun mekanisme itu tidak selalu bekerja optimal di negara tropis seperti Indonesia.

 

“Di Indonesia karena berada di daerah tropis yang tingkat kelembabanya tinggi, keringat yang keluar dari permukaan kulit menjadi tidak cepat menguap tapi malah membuat basah di badan dan pakaian sehingga proses penurunan suhu inti tubuh tidak maksimal. Badan dan pakaian yang basah oleh keringat ini akan menimbulkan rasa tidak nyaman,” kata Prof. Doni, Sabtu (13/6/2026).

 

Penjelasan itu memberi konteks pada pengalaman yang muncul dalam survei terhadap 30 ibu rumah tangga di kawasan padat penduduk Batam. Sebagian responden mengaku lebih mudah lelah, cepat emosi, sulit merasa nyaman di rumah, hingga mengalami tekanan psikologis karena panas yang terus dirasakan di dalam ruang tinggal mereka.

 

Menurut Doni, keluhan semacam itu memiliki dasar yang telah banyak diteliti.

 

Ia mengutip kajian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2018 yang menunjukkan bahwa paparan panas di dalam ruangan dapat berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari kualitas tidur yang menurun, perubahan tekanan darah, gangguan pernapasan, penyakit kardiovaskular, hingga kesehatan mental dan kehamilan.

 

Doni juga merujuk pada studi kuasi-eksperimental di Amerika Serikat terhadap 57 responden yang menemukan bahwa berkurangnya jumlah hari dengan suhu ruangan di atas 27 derajat celsius berkorelasi dengan meningkatnya kualitas kesehatan dan kualitas hidup, berkurangnya tekanan emosional, serta meningkatnya durasi tidur.

 

“Temuan tersebut menunjukkan bahwa panas bukan semata persoalan kenyamanan ruang, tetapi dapat memengaruhi kondisi fisik dan psikologis penghuni rumah,” ungkapnya. Menurutnya, desain bangunan yang kurang baik dan ventilasi yang buruk lebih dekat dengan risiko heat stress dibanding gangguan pernapasan.

 

Ia menjelaskan, paparan panas lebih sering memicu gangguan seperti heat cramps atau kejang otot, heat exhaustion akibat kekurangan cairan yang ditandai pusing, mual, dan muntah, hingga heat stroke yang pada kondisi berat dapat menyebabkan kejang, koma, bahkan kematian.

 

Di tengah pertumbuhan kawasan permukiman yang semakin padat di kota seperti Batam, Doni menilai persoalan panas di dalam rumah tidak bisa lagi dipandang sebagai urusan pribadi masing-masing penghuni.

 

“Sumber utama panas berasal dari paparan sinar matahari sehingga desain bangunan perlu dibuat agar tidak menerima panas secara langsung dan tidak menyimpannya terlalu lama di dalam ruang,” lanjutnya.

 

Salah satu langkah yang perlu diprioritaskan adalah menghadirkan penghawaan alami melalui ventilasi silang dengan luas bukaan minimal lima persen dari luas lantai ruangan sehingga volume udara yang masuk dan keluar tetap seimbang.

 

“Rumah dinyatakan sehat dan nyaman, apabila suhu udara dan kelembaban udara ruangan sesuai dengan suhu tubuh manusia normal. Penghawaan yang tidak lancar akan menyebabkan ruangan terasa pengap atau sumpek dan meningkatkan kelembaban dalam ruangan,” tutupnya.

Membangun Batam tanpa Menambah Panas

-
Landscape Kota Batam (IDN Times/Putra Gema Pamungkas)

Sementara itu, di tengah laju pembangunan yang terus memperluas wajah Kota Batam—pertanyaan yang mulai mengemuka bukan lagi sekadar berapa banyak bangunan yang telah berdiri, tetapi seberapa besar energi yang dikonsumsi dan emisi yang ditinggalkan.

Kota Batam kini menjadi salah satu daerah yang didorong untuk menjawab tantangan tersebut melalui agenda dekarbonisasi sektor bangunan. Pilihan itu bukan tanpa alasan—pertumbuhan ekonomi yang tinggi diperkirakan akan terus meningkatkan kebutuhan energi, terutama dari sektor lingkungan binaan.

Terpilihnya Kota Batam merupakan bagian dari upaya percepatan transisi energi di wilayah perkotaan yang didukung oleh proyek Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI).

Proyek SETI sendiri merupakan kolaborasi Pemerintah Indonesia dan Jerman untuk mendukung pencapaian target Net Zero Emissions (NZE) 2060 atau lebih cepat. Proyek yang dimulai sejak tahun 2023 hingga 2028 tersebut didanai oleh Kementerian Urusan Lingkungan Hidup, Aksi Iklim, Konservasi Alam, dan Keamanan Nuklir (BMUKN) melalui International Climate Initiative (IKI) dan dilaksanakan bersama Kementerian ESDM serta konsorsium yang terdiri dari GIZ, IESR, WRI Indonesia, Yayasan Indonesia CERAH, Fraunhofer Institute, dan LPEM UI, SETI berfokus pada percepatan dekarbonisasi sektor industri dan lingkungan binaan melalui penerapan efisiensi energi dan energi terbarukan.

Pada implementasi lingkungan binaan SETI menargetkan wilayah perkotaan terutama bangunan kantor milik pemerintah, komersial, seperti perkantoran, mal, dan rumah sakit, untuk menerapkan langkah-langkah konservasi energi dan penggunaan energi terbarukan.

Project Officer Yayasan Indonesia Cerah sekaligus anggota Konsorsium Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI), Rohmad mengatakan, penetapan Batam sebagai kota percontohan dilakukan melalui serangkaian asesmen, konsultasi dengan Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, serta Focus Group Discussion (FGD) dengan berbagai pemangku kepentingan sejak 2024.

Ia menjelaskan, semakin besar sebuah kota, semakin banyak pula bangunan yang bermunculan—mulai dari perumahan, perkantoran, hingga bangunan komersial—yang pada akhirnya meningkatkan kebutuhan energi, terutama yang bersumber dari jaringan listrik. Karena itu, dekarbonisasi sektor lingkungan binaan diarahkan untuk menurunkan emisi melalui langkah konservasi energi dan pemanfaatan energi terbarukan seperti PLTS atap.

“Batam merupakan salah satu kota yang memiliki pertumbuhan ekonomi diatas rata-rata nasional dalam beberapa tahun terakhir dan dengan demikin kebutuhan akan energi juga akan meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi,” kata Rohmad, Selasa (16/7/2026).

Studi nilai dasar konsumsi energi bangunan yang dilakukan pada 2025, lanjut Rohmad, menunjukkan tantangan tersebut dalam angka. Dari total 269.864 bangunan di Batam, sebanyak 246.575 unit atau 91,37 persen merupakan bangunan tempat tinggal. Sisanya terdiri dari bangunan bisnis, bangunan sosial, gedung pemerintah, penerangan jalan umum, dan infrastruktur lainnya.

Audit konsumsi energi yang dilakukan kemudian menemukan bahwa penggunaan energi di bangunan Batam masih didominasi kebutuhan untuk menjaga kenyamanan ruang.

Rohmad mengatakan, pada sektor rumah tangga sekitar 90 persen konsumsi energi berasal dari kulkas, AC, kipas angin, dan lampu. Sementara pada bangunan nonresidensial, pendingin ruangan menjadi pengguna energi terbesar.

Kondisi tersebut membuat penerapan teknologi hemat energi seperti AC berlabel efisiensi tinggi dan lampu LED menjadi salah satu langkah paling efektif untuk menekan konsumsi energi sekaligus emisi di sektor bangunan.

“Hasil studi menunjukkan bahwa konsumsi energi di bangunan Batam masih didominasi oleh sistem pendinginan dan pencahayaan,” lanjutnya.

Meski demikian, upaya mendorong bangunan hijau di Batam dinilai belum sepenuhnya ditopang oleh tata kelola yang kuat di tingkat daerah.

Rohmad menilai, Indonesia sebenarnya telah memiliki landasan regulasi yang cukup baik untuk mendorong efisiensi energi dan implementasi energi terbarukan di sektor bangunan. Namun dalam praktiknya, kewenangan pengelolaan energi di tingkat kota masih terbatas karena sebagian besar berada di tingkat pusat dan provinsi. Selain itu, belum terdapat dinas khusus yang menangani bidang energi di tingkat kota.

“Akan tetapi, terlepas dari regulasi-regulasi diatas, kewenangan terkait energi di tingkat kota masih dirasa tidak mencukupi. Secara umum kewenangan soal energi masih berada di tingkat pusat dan provinsi. Tidak ada dinas khusus bidang energi di tingkat kota,” ungkapnya.

Ke depan, keberhasilan agenda dekarbonisasi sektor bangunan akan diukur melalui pelaksanaan Sistem Manajemen Energi dan Pelaporan Manajemen Energi (POME). Melalui mekanisme tersebut, bangunan yang melakukan pelaporan diwajibkan menurunkan konsumsi energi sedikitnya satu persen setiap tahun dan dipantau melalui audit energi secara berkala.

“Dengan adanya Energy Manager dan audit energi berkala, konsumsi energi bangunan dapat dipantau. Sehingga memastikan bahwa agenda dekarbonisasi sektor bangunan tidak berhenti pada tahap audit dan perencanaan, tetapi benar-benar diimplementasikan dan dievaluasi secara berkelanjutan,” tegasnya.

Menurutnya, pembangunan bangunan hijau di Batam tidak hanya dipahami sebagai agenda pengurangan emisi, tetapi juga sebagai upaya membentuk kota yang lebih nyaman ditinggali, lebih efisien dalam penggunaan energi, dan tetap kompetitif di tengah pertumbuhan ekonomi yang terus berlangsung.

Sementara itu, sebelumnya Sekretaris Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sahid Junaidi mengatakan, Batam dipilih sebagai salah satu kota percontohan karena dinilai memiliki sejumlah modal awal yang mendukung agenda transisi energi. Faktor tersebut mencakup kapasitas sumber daya manusia, tingkat konsumsi listrik, potensi pengembangan energi terbarukan, keberadaan inisiatif keberlanjutan yang telah berjalan, hingga prospek pertumbuhan ekonomi di masa mendatang.

 

“Dengan dipilihnya Batam sebagai salah satu kota percontohan, pembangunan dan pertumbuhan ekonomi diharapkan bisa berjalan berdampingan dengan langkah-langkah dekarbonisasi agar Kota Batam menjadi kota madani, modern, dan berkelanjutan,” kata Sahid dalam acara Kick-off Proyek Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI) di Batam, Rabu (25/6/2025).

 

Menurut Sahid, proyek SETI dirancang untuk mendukung agenda dekarbonisasi pada sektor industri dan bangunan melalui penerapan energi terbarukan dan konservasi energi yang dilakukan secara terintegrasi. Pada konteks perkotaan, perhatian utama proyek tersebut diarahkan pada sektor bangunan—ruang yang selama ini menjadi salah satu pengguna energi terbesar seiring bertambahnya aktivitas ekonomi dan ekspansi kawasan terbangun.

 

Melalui proyek tersebut, pendekatan dekarbonisasi tidak hanya dipahami sebagai pengurangan emisi, tetapi juga mencakup perubahan cara bangunan dirancang, dioperasikan, dan mengelola kebutuhan energinya. Upaya itu dilakukan melalui penyusunan strategi, perencanaan, hingga dukungan implementasi lewat proyek percontohan konservasi energi dan pemanfaatan energi terbarukan pada bangunan pemerintah, bangunan komersial, hingga kawasan residensial.

 

Bagi Batam, agenda ini menjadi penting karena kota terus tumbuh dengan kebutuhan ruang yang ikut meningkat. Bertambahnya rumah, perkantoran, fasilitas publik, dan bangunan komersial secara langsung akan meningkatkan konsumsi listrik apabila tidak diikuti standar efisiensi energi yang memadai.

 

Sahid menilai, inisiatif kota percontohan menjadi tahap penting dalam perjalanan transisi energi Indonesia. Menurut dia, pengalaman yang dibangun dari Batam diharapkan tidak berhenti sebagai proyek lokal, tetapi dapat menjadi rujukan bagi pengembangan kebijakan energi dan bangunan berkelanjutan di tingkat nasional.

 

“Inisiatif kota percontohan ini merupakan langkah penting dalam perjalanan Indonesia menuju masa depan energi yang berkelanjutan, memastikan bahwa pelajaran yang dipetik dan praktik terbaik dari Kota Batam dapat berkontribusi sebagai model dalam pengambilan keputusan yang lebih luas di tingkat nasional,” tutupnya.

Mendorong Bangunan yang Lebih Hemat Energi

-
Managing Director GBPN, Farida Lasida Adji (Dok: GBPN)

Di tengah dorongan pembangunan rendah karbon dan upaya menekan konsumsi energi di sektor bangunan, Green Building Performance Network (GBPN) menilai transformasi menuju bangunan hijau tidak cukup hanya mengandalkan regulasi teknis.

Menurut organisasi nirlaba yang berfokus pada percepatan bangunan rendah emisi tersebut, perubahan desain bangunan dan penerapan prinsip bangunan hijau membutuhkan dukungan kebijakan yang mampu membuat pembangunan yang lebih sehat dan efisien menjadi lebih menarik secara ekonomi.

 

Managing Director GBPN, Farida Lasida Adji mengatakan, bangunan hijau selama ini masih sering dipersepsikan sebagai pilihan yang lebih mahal dibanding bangunan konvensional. Padahal, menurut dia, manfaatnya tidak berhenti pada aspek lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan pengeluaran dan kualitas hidup penghuni dalam jangka panjang.

 

“Bangunan hijau tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga menciptakan efisiensi operasional dan meningkatkan nilai aset,” kata Farida.

 

Karena itu, GBPN mendorong pemerintah menghadirkan insentif yang lebih nyata agar penerapan bangunan hijau tidak hanya dinikmati proyek-proyek skala besar, tetapi juga dapat mendorong perubahan cara membangun rumah dan kawasan permukiman.

Dari sisi fiskal, insentif dapat diberikan melalui pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB-P2) dalam periode tertentu bagi bangunan yang memenuhi kriteria bangunan hijau, termasuk keringanan retribusi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) bagi proyek yang sejak awal mengintegrasikan prinsip efisiensi energi dan keberlanjutan.

 

Sementara dari sisi nonfiskal, dukungan dapat diberikan melalui percepatan proses perizinan, pendampingan teknis dalam perencanaan bangunan, tambahan insentif tata ruang, hingga penghargaan atau sertifikasi bagi bangunan yang berhasil memenuhi standar keberlanjutan.

Menurut GBPN, pendekatan semacam ini penting karena banyak pengembang maupun masyarakat belum memiliki cukup pengetahuan untuk menerjemahkan konsep bangunan hijau menjadi desain yang benar-benar terasa manfaatnya di dalam rumah.

 

Farida juga menilai penguatan pembiayaan hijau perlu dibarengi dengan bantuan teknis dan edukasi publik yang lebih luas. Sebab selama ini, keputusan memilih rumah sering lebih ditentukan oleh harga awal dan lokasi dibanding kualitas bangunan dalam jangka panjang.

Padahal, rumah yang memiliki pencahayaan dan penghawaan alami yang baik dapat menurunkan kebutuhan energi sekaligus mengurangi biaya operasional rumah tangga.

 

“Bagi kota seperti Batam yang kebutuhan listriknya terus tumbuh dan kawasan huniannya semakin padat, perdebatan tentang bangunan hijau pada akhirnya bukan lagi sekadar tentang sertifikasi atau label ramah lingkungan. Yang dipertaruhkan adalah apakah rumah-rumah yang dibangun hari ini mampu membuat warganya hidup lebih nyaman dan sehat—atau justru terus menambah biaya tersembunyi yang harus dibayar setiap bulan,” tutupnya.

 

Namun bagi warga seperti Mirza dan puluhan ibu rumah tangga lainnya, perdebatan tentang bangunan hijau, insentif, dan dekarbonisasi sektor bangunan mungkin terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari. Yang dirasakan jauh lebih sederhana: rumah yang terlalu cepat panas, lampu yang tetap menyala pada siang hari, pendingin ruangan yang semakin sering digunakan, dan tagihan listrik yang perlahan naik setiap bulan. Di titik itu, kualitas bangunan tidak lagi menjadi urusan desain semata, tetapi ikut menentukan bagaimana seseorang menjalani hari-harinya di dalam rumah.

 

Menjelang sore, Mirza kembali berdiri di ruang tamunya. Lampu masih menyala meski cahaya dari luar belum benar-benar hilang. Pendingin ruangan tetap bekerja agar udara di dalam rumah terasa lebih ringan. Tidak ada yang berubah hari itu. Tetapi sebelum kembali ke dapur, ia sempat berhenti dan berkata pelan, “Saya cuma mau rumah yang nyaman ditinggali, tidak panas terus, tidak bikin capek.” tutupnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
IDN Times Hyperlocal
EditorIDN Times Hyperlocal

Latest News Sumatera Utara

See More