Petani Karet di Riau Diterkam Beruang, Ini Kejadian yang Ketiga Kali

- Petani karet Anton, 40 tahun, diserang beruang secara tiba-tiba saat menderes di Desa Pangkalan Gondai, Pelalawan; ia mengalami luka robek dekat mata kiri dan luka di kepala.
- Serangan ini menjadi kasus ketiga dalam beberapa waktu terakhir di desa tersebut. Dua korban sebelumnya luka ringan, sementara kondisi Anton lebih parah, membuat warga takut beraktivitas.
- Warga menuntut penanganan cepat karena khawatir bertindak sendiri. BBKSDA Riau menyatakan telah menerima laporan, menurunkan tim untuk pemantauan, dan menyusun strategi evakuasi beruang.
Pelalawan, IDN Times - Satwa liar yang dilindungi di Provinsi Riau kembali meneror manusia. Kali ini, seekor beruang menerkam seorang warga di Desa Pangkalan Gondai, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan.
Akibat serangan beruang itu, korban mengalami luka-luka dan langsung dievakuasi ke RSUD Selasih untuk mendapatkan penanganan medis. Demikian dikatakan Bathin Mudo atau Kepala Kelompok Desa Gondai Firmansyah, Rabu (5/8/2026).
"Kejadiannya tadi pagi. Korban langsung dilarikan ke RSUD Selasih Pangkalan Kerinci untuk mendapatkan perawatan," ucap Firmansyah saat dikonfirmasi.
Dalam foto yang diterima IDN Times, tampak dibagian kepala dan wajah korban dipenuhi dengan darah akibat cakaran beruang.
1. Sudah 3 orang menjadi korban

Firmansyah menerangkan, peristiwa serangan beruang didaerahnya bukan kalinya ini saja. Dimana, dalam beberapa waktu terakhir, sudah 3 orang warganya menjadi korban amukan beruang.
"Ini sudah kejadian yang ketiga kalinya. Sudah tiga orang menjadi korban. Dua korban sebelumnya alami luka ringan, korban yang ketiga ini yang cukup parah lukanya," terangnya.
Dilanjutkannya, warga kini hidup dalam ketakutan. Aktivitas warga sehari-hari kini tidak tenang, mulai dari berkebun hingga melintas di sekitar desa. Hal tersebut karena ancaman serangan beruang yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
2. Korban diserang saat sedang menderes karet

Diketahui, korban bernama Anton. Pria berumur 40 tahun itu, sehari-hari bekerja sebagai petani karet.
Firmansyah menceritakan, peristiwa tersebut terjadi pada pagi tadi, saat Anton sedang bekerja menderes getah karet dikebun.
"Serangan (beruang) terjadi secara tiba-tiba saat korban sedang bekerja," cerita Firmansyah.
Beruntung Anton selamat dari terkaman satwa tersebut dan langsung dilarikan ke RSUD Selasih Pangkalan Kerinci. Akibat serangan beruang itu, Anton mengalami luka robek di dekat mata sebelah kiri dan luka di bagian sekujur kepalanya.
3. Takut warga bertindak sendiri

Firmansyah menjelaskan, persoalan tersebut telah berulang kali disampaikan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Riau, dengan harapan segera ada tindakan penyelamatan maupun evakuasi satwa liar tersebut. Namun, hingga kini masyarakat menilai belum ada langkah nyata dari BBKSDA Provinsi Riau untukku menghilangkan ancaman satwa liar tersebut.
"Setiap kali ada kejadian kami selalu melapor ke BKSDA. Jawaban yang kami terima hanya bahwa mereka sedang mempersiapkan tim untuk turun ke lapangan. Sampai sekarang masyarakat masih terus dihantui keberadaan beruang itu," jelasnya.
Ia menyebut, keberadaan beruang yang sudah masuk ke lingkungan permukiman tidak lagi bisa dianggap sebagai kejadian biasa. Kondisi itu telah berubah menjadi ancaman serius terhadap keselamatan warga.
Dimana, warga didaerah tersebut semakin resah karena belum ada kepastian kapan penanganan akan dilakukan. Di sisi lain, korban terus berjatuhan sehingga menimbulkan kekhawatiran akan adanya serangan berikutnya.
"Kami sangat berharap BKSDA segera turun ke lokasi dan mengambil tindakan nyata. Jangan sampai nanti ada korban berikutnya baru dilakukan penanganan serius," sebut Firmansyah
Ia juga mengingatkan bahwa kesabaran warga memiliki batas. Jika ancaman terhadap keselamatan jiwa terus berlangsung tanpa penanganan, bukan tidak mungkin warga akan mengambil tindakan sendiri untuk melindungi diri dan keluarganya.
"Kami takut masyarakat bertindak sendiri karena merasa keselamatannya terancam. Kalau itu sampai terjadi, justru masyarakat yang bisa berhadapan dengan hukum. Padahal mereka hanya ingin melindungi diri dan keluarganya dari ancaman satwa liar," tegas Firmansyah
Warga berharap BKSDA Provinsi Riau segera menerjunkan tim untuk melakukan identifikasi, pemantauan, hingga evakuasi terhadap beruang yang berkeliaran di sekitar permukiman. Sehingga rasa aman warga dapat kembali pulih.
Sementara itu, Plh Kepala BBKSDA Provinsi Riau Ujang Holisudin saat dikonfirmasi IDN Times mengatakan, pihaknya telah menerima laporan atas kejadian tersebut.
"Laporan baru kami terima tadi siang," kata Ujang.
Saat ini, ditambahkannya, pihaknya telah menurunkan tim ke lokasi untuk melakukan pemantauan dan menyusun strategi untuk mengevakuasi beruang tersebut.
"Saat ini tim sudah turun ke lapangan untuk menyelesaikan konflik tersebut," pungkasnya.



















