Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengenal Lebah Begantong, Grup Orkes Melayu yang Curi Perhatian Prabowo

Kota Medan
4 min read
Mengenal Lebah Begantong, Grup Orkes Melayu yang Curi Perhatian Prabowo
Lebah Begantong (IDN Times/Istimewa)
  • Lebah Begantong, orkes Melayu asal Medan, menarik perhatian Presiden Prabowo di HUT ke-28 PAN setelah membawakan musik dan pantun hingga diajak berfoto di panggung.
  • Grup yang dibentuk pada 2017 ini berawal dari Gerakan Boemi Poetera untuk memperkenalkan budaya Melayu, dengan personel lintas etnis dan instrumen musik beragam.
  • Ciri khas pantun jenaka membuat mereka dikenal sejak viral pada 2020, lalu tampil di PON XXI serta mengembangkan karya musik Melayu melalui kanal dan katalog digital.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Medan, IDN Times – Penampilan Lebah Begantong di puncak HUT ke-28 PAN mendadak mendapat perhatian Presiden RI Prabowo Subianto. Di tengah suasana acara yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Jumat (18/9/2026) malam, Prabowo berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri tiga vokalis grup musik orkes Melayu asal Medan, Sumatra Utara, tersebut.

Ketiganya kemudian diajak naik ke atas panggung untuk berfoto bersama. Momen itu berlangsung sesaat setelah Lebah Begantong mengakhiri penampilannya dengan musik Melayu dan pantun. Lebah Begantong sukses melemparkan pantun-pantun dalam lirik nyanyiannya yang membuat Prabowo, Wapres Gibran hingga Seskab Mayor Teddy tersenyum.

Siapa sebenarnya Lebah Begantong? Berikut profilnya

  1. 1. Berawal dari gerakan memperkenalkan budaya Melayu

    Lebah Begantong (IDN Times/Istimewa)
    Lebah Begantong (IDN Times/Istimewa)

    Lebah Begantong tidak lahir semata-mata sebagai kelompok musik untuk mengejar panggung hiburan. Berdasarkan wawancara IDN Times dengan salah satu personelnya, Zainal Arifin Nasution, grup tersebut berawal dari Gerakan Boemi Poetera yang dipelopori Tengku Zainuddin.

    Sejak dibentuk, mereka membawa semangat untuk memperkenalkan budaya Melayu kepada masyarakat. Salah satu program yang pernah dijalankan adalah Ketipak Ketipung Melalak, dengan mendatangi sejumlah daerah seperti Tanjung Pura, Langkat, dan Desa Percut.

    "Ikuti zamanmu, jangan tinggalkan budayamu," menjadi jargon yang digunakan Lebah Begantong dalam menjalankan aktivitas keseniannya.

    Nama Lebah Begantong sendiri diberikan oleh Tengku Zainuddin. Menurut penuturan Zainal kepada IDN Times, nama tersebut memiliki makna agar para anggota selalu kompak dan menghasilkan hal-hal yang baik.

  2. 2. Diisi personel dari berbagai latar belakang

    Lebah Begantong_2.jpg
    Orkes Melayu Lebah Begantong menghibur penyintas banjir di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak. (Dok Rawantara)

    Ketika dibentuk pada 2017, Lebah Begantong terdiri dari 10 personel. Mereka memiliki latar belakang etnis yang berbeda, tetapi disatukan oleh ketertarikan terhadap musik dan budaya Melayu.

    DetikSumut mencatat personel awal Lebah Begantong terdiri dari Najibullah Al Maidani Lubis, Eva Gusmala Yanti, Muhammad Sadikin, Fahri Azwar Situmorang sebagai vokalis; Zainal Arifin Nasution pada gitar; Kiki Citra Asmara pada keyboard; Muhammad Rizwan pada biola; Muhammad Kholidi pada pak pong; Angki Chamaro Siahaan pada drum; serta Jamaluddin pada akordion.

    Kehadiran sejumlah instrumen tersebut membuat warna musik mereka tidak hanya bertumpu pada vokal. Gitar, biola, keyboard, drum, akordion, hingga pak pong menjadi bagian dari penampilan kelompok ini.

  3. 3. Pantun jenaka jadi ciri khas penampilan

    Lebah Begantong (Istimewa/IDN Times)
    Lebah Begantong (Istimewa/IDN Times)

    Salah satu hal yang membuat Lebah Begantong mudah dikenali adalah penggunaan pantun jenaka dalam pertunjukan. Pada 2020, penampilan mereka sempat viral setelah video yang memperlihatkan perpaduan musik Melayu dan pantun jenaka beredar di media sosial. Sejak saat itu, nama Lebah Begantong semakin dikenal masyarakat Sumatra Utara.

    Pantun yang dibawakan tidak sekadar menjadi selingan. Dalam penampilan mereka, pantun dapat digunakan untuk menyampaikan pesan, membangun interaksi dengan penonton, sekaligus menghadirkan sisi humor dalam pertunjukan musik Melayu.

    Hal tersebut juga menjadi objek kajian akademik. Penelitian Departemen Etnomusikologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang terbit pada 2026 mengkaji penggunaan pantun dalam lagu Tanjung Katung yang dibawakan Orkes Melayu Lebah Begantong. Penelitian tersebut menyebut pantun dalam pertunjukan musik Melayu bersifat fleksibel, improvisatif, dan kontekstual.

  4. 4. Dari komunitas ke panggung-panggung besar

    Lebah Begantong (IDN Times/Istimewa)
    Lebah Begantong (IDN Times/Istimewa)

    Eksistensi Lebah Begantong tidak hanya terlihat dari panggung-panggung komunitas atau pesta kawinan. Pada 2024, mereka mendapat kesempatan tampil dalam penutupan PON XXI Aceh-Sumut di Stadion Utama Sumut Sport Center, Deli Serdang.

    Dalam acara tersebut, Lebah Begantong dijadwalkan tampil dalam dua sesi. Pada sesi malam, mereka berkolaborasi dengan musisi Sumatra Utara, Viky Sianipar, bersama sejumlah artis lainnya. Salah satu lagu yang disiapkan untuk dibawakan adalah Ikan Dalam Kolam.

    Kesempatan tersebut menunjukkan bahwa musik Melayu masih memiliki ruang di panggung besar ketika dikemas dengan pendekatan yang mampu menjangkau penonton lebih luas.

  5. 5. Membawa musik Melayu ke ruang digital

    Lebah Begantong Orkestra Melayu (Istimewa/IDN Times)
    Lebah Begantong Orkestra Melayu (Istimewa/IDN Times)

    Lebah Begantong juga memiliki cara tersendiri untuk membuat musik Melayu tidak terasa jauh dari generasi muda. Perpaduan antara musik, humor, dan pantun membuat pertunjukan mereka tidak hanya berorientasi pada permainan musik. Interaksi dengan penonton menjadi bagian penting dari penampilan.

    Upaya tersebut sejalan dengan tujuan awal mereka yang ingin memperkenalkan budaya Melayu secara lebih luas. Bagi Lebah Begantong, mempertahankan budaya bukan berarti harus selalu membawanya dalam bentuk yang kaku. Justru, budaya dapat terus hidup ketika mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitasnya.

    Perjalanan Lebah Begantong juga berkembang ke platform digital. Mereka memiliki kanal resmi di YouTube yang memuat berbagai penampilan dan lagu Melayu.

    Pada 2024, misalnya, kanal resmi mereka mengunggah playlist berisi lagu-lagu Melayu yang pernah dibawakan. Sementara pada 2026, katalog digital Lebah Begantong juga mencakup album Musik Tradisional Melayu Sumatera yang berisi lagu seperti Makan Sirih, Pucuk Pisang, Sri Banang, Selayang Pandang, Lancang Kuning, Sri Deli, dan Zapin Kasih Dan Budi.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More