Area pasca tambang kerap menimbulkan konflik di masyarakat. Baik dalam hal komitmen rehabilitasi hutan yang diabaikan hingga lubang bekas tambang yang memakan korban.
PT Agincourt Resources (PTAR) anak perusahan PT United Tractors punya komitmen berbeda. Di tengah eksplorasi tambang emas martabe yang masih berjalan, rehabilitasi hutan sudah dilakukan. Per Juli 2026, total 56,75 hektare lahan sudah berhasil direhabilitasi dari target 521,37 hektare pada tahun 2034.
Jejak Lestari United Tractors di Bumi Tapanuli
Junior Supervisor Environmental Rehabilitation PTAR, Yuni Pulungan mengatakan rehabilitasi bertahap ini adalah bagian dari program konservasi perusahaan yang bertujuan untuk pemulihan kawasan di sekitar wilayah operasional Tambang Emas Martabe, Kabupaten Tapanuli Selatan.
Ibarat pepatah lama ‘Pohon yang ditanam hari ini adalah peneduh bagi generasi esok’. PTAR ingin saat izin berakhir pada tahun 2034, rehabilitasi sudah berjalan 100 persen. Saat operasional berhenti, ‘jubah hijau’ Hutan Batangtoru sudah kembali terpasang.
“Dalam proses pemulihan ekosistem, PTAR mengembangkan pembibitan menggunakan tanaman lokal. Saat ini terdapat 60 ribu bibit dengan 70 spesies tanaman yang dikembangkan di pusat pembibitan untuk mendukung kegiatan reklamasi dan rehabilitasi,” jelas Yuni pada IDN Times, Jumat (11/9/ 2026).
Bibit yang ditanam, tambah Yuni, tidak sembarangan. Semuanya berasal dari tanaman asli Hutan Batangtoru. Caranya, pertama diambil langsung cabutan-cabutan dari pohon induk yang ada di alam sekitar operasional PTAR.
Lalu anakan bibitnya dibawa ke Pusat Pembibitan PTAR atau Nursery. Dilakukan perawatan dan setelah cukup umur akan dibawa ke area-area reklamasi untuk dijadikan tanaman sisipan. Jenis tanaman yang dikembangkan antara lain beringin, kapur, meranti, jotik jotik, barus, durian, cempedak hutan, nangka hutan, dan jengkol hutan. PTAR juga mengembangkan sejumlah tanaman lokal atau endemik.
“Tanaman lokal yang hanya ada di Batangtoru atau endemik itu Simarbaliding dan Torop” katanya.
Simabaliding dikenal dengan nama ilmiah Ixonanthes petiolaris, merupakan tanaman yang berasal dari Sumatra, khususnya di Tapanuli. Sedangkan Torop yang merupakan sumber pakan penting bagi satwa liar di hutan, terutama orangutan Tapanuli yang habitatnya berada di Ekosistem Batangtoru.
Kawasan yang menjadi sasaran rehabilitasi merupakan area preservasi PTAR yang sebelumnya telah dipetakan. Seperti di area perkantoran hingga area pit seperti dinding Tailing Storage Facility (TSF). Tujuannya untuk menjaga keanekaragaman hayati sekaligus mendukung keberlanjutan ekosistem.
Jenis tanaman yang digunakan untuk reklamasi di satu area juga berbeda sesuai karakternya. Ada tanaman kacang-kacangan atau Legume Cover Crops (LCC) dan tanaman tegakannya.
“Setelah area rehabilitasi sudah ditentukan, kita isi dulu dengan tanaman kacangan atau LCC tanaman yang cepat tumbuh dan membuat tanah jadi lebih subur. Setelah beberapa bulan kemudian kita masukan tanaman-tanaman pionir,” bebernya.
Secara berkala tim Biodiversity PTAR akan memantau pertumbuhan tanaman sekaligus fauna atau serangga apa saja yang menghampirinya. Berdasarkan rekomendasi tim Biodiversity Advisory Panel (BAP), PTAR menjalin kerjasama dengan lembaga Research Center for Climate Change Universitas Indonesia (RCCC UI) untuk melakukan monitoring dan pemantauan.
Apa yang dilakukan Yuni Pulungan dan tim Nursery adalah bagian kecil dari upaya konservasi yang diinisiasi oleh PTAR sejak beroperasi 2012.
Beberapa upaya Konservasi PTAR di antaranya: Pertama, pembentukan Panel Penasehat Keanekaragaman Hayati (Biodiversity Advisory Panel/BAP) berisi pakar ilmiah independen dari berbagai universitas untuk memberi masukan pengelolaan keanekaragaman hayati. Di antaranya adalah Rondang Siregar, Dr Sri Suci Utami Atmoko, Dr Puji Rianti dan Dr Onrizal.
Kedua, Hierarki Mitigasi: Hindari-Minimalkan-Pulihkan-Imbangi. Prinsipnya sederhana, dampak terhadap biodiversitas diupayakan untuk dihindari terlebih dulu, kemudian diminimalkan, dipulihkan, dan apabila diperlukan diimbangi.
Ketiga, Lindungi Sebelum Buka Lahan. Artinya Sebelum land clearing, dilakukan survei dan pemeriksaan fauna. Jika ditemukan satwa dilindungi, kegiatan di sekitar lokasi dapat dihentikan untuk memastikan prosedur perlindungan dijalankan.
Keempat, Rehabilitasi Progresif yang dilakukan secara bertahap tanpa harus menunggu kegiatan tambang berakhir. Kelima, Menjaga Konektivitas Habitat Melalui jembatan arboreal yang membantu satwa penghuni tajuk berpindah antarpohon.
Keenam, Area Konservasi PTAR seluas 1.985,47 Hektare sebagai bagian dari upaya menjaga biodiversitas di sekitar wilayah operasi.
Ketujuh, membangun Stasiun Riset Batangtoru yang dilengkapi teknologi dan fasilitas untuk mendukung kegiatan penelitian dan konservasi. Pengembangannya membuka ruang kolaborasi dengan akademisi, LSM, dan masyarakat.
Dengan tujuh upaya konservasi ini, PTAR ingin meninggalkan jejak lestari jangka panjang dan berkelanjutan di Tapanuli Selatan pasca operasional tambang berakhir.

Dr Onrizal, salah satu anggota BAP mengatakan semua inisiatif keberlanjutan yang diusung PTAR menjadi bukti kegiatan eksplorasi dan konservasi bisa berjalan seirama. "Jika eksplorasi tidak memerhatikan konservasi keanekaragaman hayati, maka nanti anak-anak cucu kita gak akan bisa lagi lihat Orangutan Tapanuli, Harimau Sumatra, Tapir, Beruang Madu dan Flora langka di dalamnya," ujar Onrizal beberapa waktu lalu.
Pria yang akrab disapa Oni ini menjelaskan era bisnis modern kini semakin berkembang. Perusahaan semakin didorong mengadopsi pendekatan berkelanjutan untuk memastikan bahwa kegiatan operasional tidak hanya menguntungkan secara finansial tetapi juga memberikan dampak positif pada lingkungan, masyarakat, dan tata kelola perusahaan.
"PTAR telah melakukan pekerjaan yang cukup besar dalam kaitannya dengan inisiatif konservasi untuk melindungi Orangutan Tapanuli di ekosistem Batangtoru yang lebih luas. Apa yang dilakukan PTAR sudah melebihi dari apa yang sudah dipersyaratkan pemerintah, contohnya BAP tidak ada diatur tetapi dibuat oleh PTAR,” bebernya.
Menurut Dosen Fakultas Kehutanan USU ini PTAR juga memiliki pusat riset yang akan sangat membantu mengembalikan Hutan Batangtoru ke ekosistem awal jika PTAR berhenti beroperasi pada 2034. Sejak awal tambang beroperasi, pohon di hutan Batangtoru sebagian diambil dan dikembangbiakkan di pusat pembibitan untuk mewujudkan living of harmony. Jadi tambang tidak merusak habibat asli flora dan fauna.
Jika flora dikembangbiakkan di nursery, maka fauna diberlakukan dengan cara berbeda. Alih-alih ditangkap, fauna dibiarkan berkembang biak sendiri dan dirancang agar operasional tambang tidak membuat mereka terjebak atau terisolasi sehingga meminimalisir risiko kematian. Kemudian dibangun Canopy Bridge atau jembatan arboreal antar koridor sebagai jalur lalu lintas agar primata tidak terisolasi.
"Jadi ketika nanti Kawasan tambang PTAR direklamasi atau direhabilitasi, floranya kembali seperti semula dan fauna akan kembali lagi ke situ," jelasnya.

Pengamat Kebijakan Publik USU, M Farhan Rizki, S.AP, M.AP menjelaskan di era digital dan tantangan perubahan iklim saat ini, sebuah perusahaan tidak bisa lagi hanya bicara soal pemasukan atau keuntungan semata. Namun harus lebih aware dengan komunitas sekitar dan punya program ramah lingkungan sebagai bagian mendukung target pemerintah untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK).
“Perusahaan saat ini wajib untuk peduli terhadap komunitas di sekitarnya dan lingkungan agar keberadaan mereka membawa manfaat. Selain demi keberlanjutan bisnis, ini juga demi keberlanjutan hidup masyarakat sekitar yang lebih baik dan keberlangsungan bumi yang kita tinggali bersama,” katanya pada IDN Times, Jumat (18/9/2026).
Memang Negara, kata Farhan, secara tegas sudah mengatur tentang kewajiban CSR atau TJSL setiap perusahaan. Namun tidak sedikit perusahaan hanya melaksanakannya secara seremoni dan tidak tepat sasaran. Ibarat sekadar menanam pohon tapi tidak merawatnya untuk tumbuh.
Ia berharap praktik ramah lingkungan dan upaya konservasi PTAR bisa menjadi role model bagi perusahaan lain di Indonesia.



















