Langit masih gelap, tapi tas ransel sudah dijinjingnya. Baju, rok, dan hijab sudah rapi ia pakai dan siap berangkat sekolah. Jarak 30 kilometer harus ia tempuh dari rumah menuju sekolah. Semangatnya lebih membara hari ini dan tak mau terlambat, karena hari ini adalah hari praktik di Workshop Alat Berat.
Dobrak Stigma, Luna Kejar Karir di Dunia Tambang Lewat SMKN 2 Batangtoru
Ia adalah Luna Saskia Siregar, siswi Kelas XI SMK Negeri 2 Batangtoru Jurusan Teknik Alat Berat. Demi mengejar cita-cita dan melawan stigma, ia rela jauh-jauh dari Desa Hutaraja Kecamatan Muara Batangtoru menimba ilmu ke Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara.
“Cita-cita saya jadi operator alat berat. Di kampung belum ada perempuan yang pernah kerja alat berat. Karena abang, saya jadi punya cita-cita dan suka belajar alat berat,” ujarnya pada IDN Times, Jumat (11/9/2026).
Sejak SMP Luna sering mendengar tentang alat berat dari abangnya yang bekerja sebagai Operator Alat Berat. Begitu masuk SMK, Luna menambatkan hati ke SMKN 2 Batangtoru.
Ibarat pepatah ‘Biar ruyung pecah, asal dapat sagunya, biarpun jarak sekolah jauh, yang penting dapat ilmunya’. Itu ditanamkan Luna dalam hati setiap berangkat ke sekolah dan harus ditempuh dalam satu jam. Bahkan ia sempat mendapat penolakan dari ayah,tapi semangatnya tak surut.
Dengan pertimbangan jurusan Teknik Alat Berat langka di Sumut serta peluang kerja yang besar karena keberadaan Tambang Emas Martabe, akhirnya Luna diizinkan sekolah jurusan teknik alat berat.
Sejak kelas X Luna sudah belajar berbagai hal tentang alat berat. Mulai dari dasar-dasar kejuruan teknik mesin, keselamatan kerja (K3LH), hingga dasar kelistrikan. Saat kelas XI Luna memperdalam soal mesin diesel, mesin penggerak, sistem hidrolik alat berat, hingga pengenalan komponen alat berat.
“Yang paling saya suka belajar praktik di ruang workshop alat berat. Alat berat ini kalau dipelajari teori saja susah pahamnya, kalau praktik bisa belajar nama komponen dan melihat langsung hubungan antar kompenen,” jelas perempuan 16 tahun ini.
Luna berharap kelak bisa mengikuti jejak abangnya dan membuktikan pada keluarga bahwa perempuan juga bisa jadi operator alat berat.
“(Kalau sudah tamat sekolah) Kerja dari Helper dulu, kalau sudah berpengalaman baru jadi operator. Mudah-mudahan bisa jadi operator alat berat juga di Tambang Emas Martabe,” ungkpanya.

Kepala SMKN 2 Batangtoru, Erikson BM Sihombing bercerita berdirinya sekolah ini pada 2012 dipicu oleh kehadiran Tambang Emas Martabe di Batangtoru. Kala itu Bupati Tapanuli Selatan, Syahrul Pasaribu melihat adanya peluang warga Tapsel dapat bekerja di Tambang Emas jika pendidikannya mumpuni.
Akhirnya, menurut Erikson, digagas pendirian SMKN 2 Batangtoru dengan jurusan yang berkaitan dengan tambang dan pembangkit listrik. Yakni Geologi Pertambangan, Teknik Alat Berat, Teknik Pembangkit Tenaga Listrik, dan Teknik Mesin.
Pada tahun 2019 PT Agincourt Resources (PTAR) selaku pengelola Tambang Emas Martabe mulai menjalin kerjasama strategis dengan SMKN 2 Batangtoru. Ditandai dengan kegiatan penandatanganan MoU untuk peningkatan mutu pendidikan. Di antaranya studi banding ke SMK 2 PGRI Ponorogo sekaligus assessment Kejuruan Teknik Alat Berat.
Pada Februari 2020 anak perusahan dari PT. United Tractors ini menginisiasi kerjasama dengan program Sekolah Binaan United Tractors (SOBAT). Bertujuan meningkatkan kualitas guru dan murid berupa Pendampingan dan Penguatan Sinkronisasi Kurikulum yang Link and Match dengan dunia usaha/dunia insdustri (DUDI), pengembangan Teaching Factory (TeFA) sesuai standar prosedur dunia industri.
“Waktu itu United Tractors dan PTAR membawa guru tamu ke sini, dari UT Schools dan SMK 2 Ponorogo datang ke sekolah ini,” jelas Erikson.
Adapula kerjasama Praktek Kerja Industri Siswa, magang guru, uji sertifikasi guru dan siswa, serta pengembangan dan penguatan sarana dan prasarana penunjang kejuruan teknik alat berat. Hingga bantuan berupa alat simulator keselamatan untuk praktik di ruang safety centre.
Pada 2022 kerjasama terus berlanjut. PTAR menyerahkan bantuan alat peraga senilai Rp1,4 Miliar kepada SMKN 2 Batangtoru untuk peningkatan mutu program Link and Matc. Ini merupakan bagian dari program SOBAT yang ditandatangani 2020.
“Selain alat peraga, PTAR memberikan pelatihan pada 5 guru ke UT Schools Jakarta untuk belajar mengenai pengoperasian dan perawatan dari alat-alat ini serta untuk membuka TeFA di sekolah ini,” jelas alumni IKIP Medan ini (Sekarang Unimed).
Ketua Jurusan Teknik Alat Berat SMKN 2 Batangtoru, Rahmawati Siregar adalah salah satu guru yang mengikuti pelatihan Basic Technology Course di UT Schools pada 2024. Menurutnya selain untuk meningkatkan ilmu mengajar, guru juga didorong membuka bengkel servis alat berat di sekolah.
Menurutnya pelatihan tersebut sangat membantu peningkatan pemahaman K3, mesin alat berat, hidrolik dan berbagai hal seputar servis mesin alat berat. Kemudian peserta didorong membuka bengkel servis alat berat di sekolah atau Teaching Factory (TeFA).
“Ke depannya guru akan jadi asesor, kami bisa memanfaatkan siswa-siswa yang sudah tamat untuk dilatih di sini dan dapat sertifikat yang setara dengan Lembaga Sertifikasi Profesi Alat Berat Indonesia (LSP ABI),” jelasnya.
Usai mengikuti pelatian ini, Rahmawati membawa dua siswanya mengikut SOBAT Competition tingkat SMK di UT Schools pada 2025 dan meraih Juara Harapan 2.
“Ini jelas membanggakan buat sekolah. Kompetisi dari UT Schools membuktikan siswa kami bisa bersaing di level nasional dalam hal Jasa Servis Alat Berat,” kata Rahmawati.
Dengan kelangkaan jurusan Teknik Alat Berat dan Geologi Pertambangan di Sumut, menurut Rahmawati, SMKN 2 Batangtoru kini jadi favorit. Banyak siswa mendaftar berasal dari tempat yang jauh seperti Luna Saskia. Bahkan ada yang berasal dari kabupaten tetangga dan rela merantau.
Menurutnya program SOBAT yang sejalan dengan kurikulum vokasi menjadi salah satu daya tarik bagi orangtua untuk mendaftarkan anaknya ke SMKN 2 Batangtoru. Program ini sangat mendukung peningkatan mutu program pendidikan link and match dengan DUDI dan mendorong kesiapan alumni memasuki dunia kerja yang berdaya saing tinggi.
“Beberapa lulusan kita juga ada yang diterima bekerja di PTAR dan berbagai perusahaan besar. Selain itu ada juga yang dapat beasiswa kuliah, salah satunya ke Politeknik Astra,” ungkapnya.
Ia berharap kerjasama antara PTAR, United Tractors dan SMKN 2 Batangtoru terus terjalin dan kedepan bisa mendapat hibah alat berat untuk membantu meningkatkan kualitas pendidikan siswa.
Manager Community Development PTAR, Rohani Simbolon menjelaskan sejak 2019 pihaknya memang sudah menjalin kerjasama intens dengan SMKN 2 Batangtoru. Hal ini tidak terlepas karena keberadaaan SMKN 2 Batangtoru sesuai dengan core business PTAR.
Setelah sukses pada 2019, setahun berikutnya SMKN 2 Batangtoru masuk dalam program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PTAR.
“Pada saat itu ada program pemerintah SMK Link and Match dengan Dunia Industri/Dunia Usaha. Kita mengadopsinya, berkontribusi kepada program pemerintah untuk SMK vokasi. Hal yang pertama kita lakukan saat itu bekerja sama dengan UT Schools membawa guru studi banding ke SMK Ponorogo yang merupakan binaan UT juga,” ujarnya.
Setelah itu, tambah Rohani, dalam prosesnya SMKN 2 Batangtoru memerlukan Workshop dan Bengkel Pintar tempat siswa melihat langsung proses kerja mesin, mengenal kompenen dan membuka jasa servis alat berat.
“Alat berat yang dimaksud tidak hanya ekskavator, alat pertanian, dan lainnya. Harapannya dari SMK ini melahirkan lulusan yang siap kerja. Ada juga beberapa lulusan dapat beasiswa melanjutkan ke Basic Mechanic Course (BMC), ada beberapa ke UT Schools dan juga masuk Poltek Astra,” ungkapnya.
Selama ini PTAR juga membuka kesempatan kerja yang luas untuk warga lokal, terutama perempuan. Sesuai komitmen Marsipature (Mari Kita Bangun) yang dipegang oleh PTAR.
Melalui komitmen Marsipature, PTAR berinvestasi dalam pengembangan profesional dan pribadi karyawan lokal. Per tahun 2024, PTAR mempekerjakan sekitar 3.500 orang, dan 76 persen di antaranya berasal dari desa lingkar tambang.
Bahkan dalam lima tahun terakhir, PTAR berhasil menjaga jumlah karyawan perempuan sebesar 20 persen dari total karyawan. Sebagian pekerja perempuan berasal dari lingkar tambang yang menempati posisi di berbagai bidang, seperti unit operasional, keselamatan hingga eksplorasi.



















