Siswa SMAN 2 Medan Siapkan Strategi Masuk PTN dan Sekolah Kedinasan

- Siswa kelas XII SMAN 2 Medan mematangkan persiapan TKA 2026 melalui bimbingan sekolah, les tambahan, buku, media sosial, serta belajar mandiri sesuai target perguruan tinggi atau sekolah kedinasan.
- TKA dinilai membantu memverifikasi nilai rapor untuk jalur SNBP dan SNBT, meski sebagian siswa gugup karena nilai tes disebut berpotensi menjadi syarat pendaftaran sekolah kedinasan.
- Siswa menilai materi TKA dapat dihadapi dengan persiapan serius dan berkaitan dengan SNBT; pilihan mata pelajaran disesuaikan dengan jurusan impian, seperti teknik, pertanian, dan kedokteran gigi.
Medan, IDN Times - Menjelang pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026, siswa kelas XII SMA Negeri 2 Medan mulai mematangkan persiapan. Tidak hanya mengandalkan bimbingan dari sekolah, mereka juga mengikuti bimbingan belajar tambahan di luar sekolah dan belajar mandiri melalui buku serta media sosial.
Salah satu siswa kelas XII-Newton 1, Abie Danu Pandyo (16), mengaku memanfaatkan program bimbingan TKA yang difasilitasi sekolah. Selain itu, ia juga belajar secara otodidak.
"Saya belajar dari program bimbingan sekolah yang memang khususnya untuk TKA. Saya juga belajar otodidak dari rumah, beli buku sama lihat materi-materi di sosial media," ujar Abie di Medan, Rabu (17/9/2026).
Hal serupa disampaikan Fatih Wirandra Kresna (16). Meski target utamanya masuk sekolah kedinasan Universitas Pertahanan (Unhan), ia tetap mempersiapkan diri menghadapi TKA. Ia menilai TKA penting karena berpotensi menjadi syarat masuk sekolah kedinasan.
"Sebenarnya TKA itu kurang untuk diprioritaskan, tapi karena ada bantuan dari sekolah ngasih les gratis, jadi terbantu. Saya juga les di Askia Kedinasan, di sana ada tambahan untuk TKA," kata Fatih.
Fatih tercatat mengikuti tiga bimbingan belajar, yakni bimbingan Bahasa Inggris di Johor, bimbingan kedinasan Askia, dan bimbingan dari sekolah.
Sementara itu, Gabriel Obeyelvin Sihite (17) yang bercita-cita masuk Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Sumatera Utara (USU) mengaku fokus penuh pada TKA. Ia juga mengikuti bimbingan di Ganesha Operation (GO) untuk persiapan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) sebagai langkah antisipasi.
"Karena tujuan utama saya itu FKG USU, saya pertama fokuskan ke TKA. Walaupun les di luar sekolah berfokus sama SNBT untuk jaga-jaga," tutur Gabriel.
1. TKA dinilai jadi verifikator nilai rapor

Para siswa SMAN 2 Medan siapkan strategi TKA 2026 (IDN Times/Indah Permata Sari) Ketiga siswa tersebut mengaku sempat gugup menghadapi TKA, terlebih pelaksanaan tahun ini merupakan tahun kedua. Namun, mereka menilai TKA memiliki dampak positif sebagai verifikator nilai rapor untuk masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan SNBT.
"Kalau ditanya pandangan soal TKA ini, ya bagus karena untuk membuktikan nilai kita betul atau tidak sesuai yang di rapor. Jadi kalau TKA ini dapat membantu untuk nilai rapor saya juga," ujar Abie.
Fatih menambahkan kekhawatiran muncul karena adanya informasi bahwa nilai TKA juga akan menjadi syarat pendaftaran sekolah kedinasan. "Itu yang bikin makin takut, karena belum terlalu mempersiapkan materi TKA," ucapnya.
2. Para siswa menilai soal TKA tidak terlalu sulit jika dipersiapkan dengan serius

Para siswa SMAN 2 Medan siapkan strategi TKA 2026 (IDN Times/Indah Permata Sari) Terkait tingkat kesulitan soal, para siswa menilai soal TKA tidak terlalu sulit jika dipersiapkan dengan serius. Bahkan, materi TKA disebut memiliki keterkaitan dengan materi SNBT, khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.
"Bahasa Indonesia itu materinya cukup mirip dengan SNBT, dari pemahaman baca-menulis juga literasi. Jadi persiapan TKA itu sebenarnya juga terhubung dari SNBT," kata Fatih.
3. Pilih mapel sesuai cita-cita

Para siswa SMAN 2 Medan siapkan strategi TKA 2026 (IDN Times/Indah Permata Sari) Untuk mata pelajaran pilihan, para siswa memilih sesuai dengan jurusan yang dituju. Abie yang ingin masuk Teknik Industri memilih Fisika dan Matematika Tingkat Lanjut. Fatih memilih Fisika dan Biologi karena ingin melanjutkan ke Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan jurusan pertanian jika tidak lolos sekolah kedinasan.
Sementara Gabriel yang ingin menjadi dokter gigi seperti kakeknya, memilih Biologi dan Kimia.
"Kemarin saya terinspirasi dari kakek saya yang kebetulan juga dokter gigi. Karena anak-anak beliau tidak ada yang meneruskan, jadi mungkin saya bisa meneruskan," kata Gabriel.



















