Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Beras Premium Langka di Ritel Modern Medan, HET Disorot

Kota Medan
2 min read
Beras Premium Langka di Ritel Modern Medan, HET Disorot
Beras merek premium di supermarket dibongkar untuk tidak dipajang (IDN Times/Indah Permata Sari)
  • Beras premium langka di ritel modern Medan dan Sumatra Utara saat panen raya, meski pasokan beras di pasar tradisional dinilai cukup.
  • Pengamat menilai HET berbenturan dengan biaya produksi: harga gabah mencapai Rp7.300 per kg, ditambah kemasan, tenaga kerja, distribusi, dan logistik.
  • Pemerintah didorong menelusuri seluruh rantai pasok karena kelangkaan menurunkan akses masyarakat serta berisiko mengganggu pengenalan merek beras premium.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Medan, IDN Times - Masyarakat di Sumatra Utara, khususnya Kota Medan, belakangan ini kesulitan mendapatkan beras premium di ritel modern. Ironisnya, kelangkaan itu terjadi di tengah musim panen raya padi, sementara pasokan beras di pasar tradisional justru tersedia cukup.

Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menilai kelangkaan beras premium di ritel modern tidak terlepas dari penerapan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

"Harga beras premium di pasar tradisional ada yang dijual di atas HET. Saya menduga kelangkaan beras premium di ritel modern tidak terlepas dari aturan ketat pemerintah yang menetapkan HET," ujar Gunawan.

  1. 1. Benturan harga pokok dan HET

    IMG_5590.jpg
    Beras merek premium di supermarket dibongkar untuk tidak dipajang (IDN Times/Indah Permata Sari)

    Menurut Gunawan, pelaku usaha penggilingan saat ini menghadapi kenaikan biaya produksi. Salah satunya adalah kenaikan harga gabah.

    Presiden Prabowo sebelumnya menetapkan harga pembelian gabah sebesar Rp6.500 per kg. Namun saat ini harga gabah di pasaran mencapai Rp7.300 per kg.

    "Jika dikonversi ke beras dengan rasio 50 persen, maka harga beras bisa mencapai Rp14.600 per kg," jelasnya.

    Jika ditambah biaya kemasan, upah tenaga kerja, distribusi atau logistik, hingga keuntungan di setiap rantai pasok, harga jual beras premium berpotensi berada di atas HET. Kondisi itu dinilai berbenturan dengan aturan distribusi beras premium yang ditetapkan pemerintah.

  2. 2. Pasokan aman, akses menurun

    IMG_5592.jpg
    Beras merek premium di supermarket dibongkar untuk tidak dipajang (IDN Times/Indah Permata Sari)

    Gunawan menegaskan secara umum tidak ada masalah serius pada pasokan beras di Sumut. Ketersediaan beras sangat cukup, terutama di musim panen seperti sekarang.

    "Masalahnya saat ritel modern tidak mendapatkan pasokan beras premium, maka aksesibilitas masyarakat untuk mendapatkan pasokan menurun. Mekanisme pasar beras saat ini tengah memperlakukan ritel modern dengan tidak adil," katanya.

    Ia menduga persoalan ada di level produsen. Saat ini kilang beras berhadapan dengan kenaikan biaya input produksi seperti harga plastik, upah tenaga kerja, biaya transportasi dan logistik, hingga kenaikan BBM nonsubsidi.

    "Artinya ada kenaikan biaya operasional yang pada akhirnya membuat kilang harus mensiasati pemasaran," ujarnya.

  3. 3. Risiko branding dan usulan kajian

    IMG-20251030-WA0158.jpg
    Peluncuran Penyaluran Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) untuk Pemberian Bantuan Pangan Beras dan Minyak Goreng Alokasi Oktober–November 2025 di Medan (Dok. Istimewa)

    Gunawan juga mengingatkan, jika beras premium tidak tersedia di ritel modern, merek atau branding beras premium berpeluang tidak lagi dikenal masyarakat. Hal itu juga dapat merugikan perusahaan kilang.

    Untuk itu, ia mendorong pemerintah melakukan penelusuran terkait kelangkaan beras premium di ritel modern.

    "Baiknya pemerintah melakukan penelusuran terkait dengan masalah beras premium yang langka di ritel modern. Lakukan kajian mendalam di setiap rantai pasok untuk mencari sumber persoalan," pungkasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More