Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ketika Limbah Makanan INALUM Menyapa Masa Depan Ratusan Anak

Kab. Batu Bara
7 min read
Ketika Limbah Makanan INALUM Menyapa Masa Depan Ratusan Anak
Dedi Syahputera atau Pak Untung Pendiri Budidaya Maggot dan Bank Sampah Berseri (IDN Times/Arifin Al Alamudi)
  • Dedi Syahputera bersama INALUM mengolah 200–400 kilogram limbah makanan katering per hari menjadi maggot untuk pakan ternak, sehingga hampir seluruh sisa organik tidak berakhir di TPA.

  • Kelompok Sari Larva Berdaya yang dibentuk sejak 2021 mempekerjakan 15 orang, mayoritas perempuan, serta mengelola 21 bak maggot dengan dukungan pelatihan dan fasilitas dari INALUM.

  • Keuntungan budidaya maggot dan Bank Sampah Berseri membiayai Paket C gratis bagi 200 siswa; bank sampah juga mengolah palet, ban, kertas, dan kardus menjadi produk bernilai guna.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Batubara, IDN Times – Ratusan kilogram sisa makanan dari dapur PT Indonesia Asahan Aluminium Persero (INALUM) tidak lagi berakhir sebagai beban lingkungan yang membisu. Di tangan Dedi Syahputera tumpukan limbah organik itu "dihidupkan" kembali melalui budidaya ulat maggot untuk membiayai sekolah Paket C gratis bagi ratusan anak setempat.

Ide brilian tersebut tercetus di kepala Dedi beberapa tahun lalu. Bak gayung bersambut, ide keberlanjutan dari Dedi diterima INALUM. Pria yang biasa dipanggil OK Untung kini menjadi mitra INALUM untuk mengelola limbah makanan catering perusahaan menjadi budidaya ulat maggot.

Selanjutnya Ulat Maggot tersebut digunakan Untung untuk pakan ternak seperti ayam, bebek, ikan lele, ikan nila, ikan gurami, entok, dan lain sebagainya.

Selain itu pria 40 tahun ini juga mendirikan Bank Sampah untuk menampung sampah dari masyarakat dan sampah sisa produksi INALUM di Kuala Tanjung, Kabupaten Batubara, Provinsi Sumatra Utara. Keuntungan dari beternak dan bank sampah ini dialokasikan Untung untuk membiayai operasional Sekolah Paket C yang ada di dekat rumahnya.

“Banyak anak putus sekolah di kampung ini, jadi kami dorong untuk ikut Sekolah Paket C agar punya ijazah, bisa kerja, dan semuanya gratis. Penghasilan hasil dari Sari Larva Berdaya (SLB) dan Bank Sampah ini yang kita gunakan untuk operasional sekolah Paket C,” ungkapnya pada IDN Times beberapa waktu lalu.

Untung adalah pendiri tempat budidaya Maggot Kuta di Kuala Tanjung, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batubara, Sumut pada 2021. Kemudian Untung dibantu INALUM untuk membentuk kelompok budidaya Maggot yang diberi nama Sari Larva Berdaya (SLB). Sehingga setiap hari bisa lebih banyak sampah sisa makanan yang bisa diolah dan lebih banyak penerima manfaatnya.

“Setiap hari ada 200-400 kilogram limbah catering atau kantin perusahaan INALUM. Daripada hanya jadi sampah yang dibuang ke TPA, maka kita didorong untuk memanfaatkan sampah tersebut,” kata dia.

WhatsApp Image 2025-09-01 at 08.15.20_8666060a.jpg
Ternak ikan di Sari Lava Berdaya (SLB) (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Untung dan anggota SLB lainnya kemudian difasilitasi untuk belajar tentang budidaya maggot dan diajak study banding ke berbagai tempat yang sudah berpengalaman. Dari sini pengetahuan mereka meningkat dalam hal manajemen.

Kini sebanyak 15 orang bekerja di Sari Larva Berdaya (SLB) dan sebagian besar adalah perempuan. Ada petugas yang memilah sampah di Kantor INALUM,ada petugas mengantar sampah ke lokasi budidaya maggot SLB, da nada yang membudidaya maggot. Sisa sampah yang tidak bisa diolah akan dikirimkan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Cara ini menunjukkan komitmen INALUM sebagai Grup MIND ID untuk memimpin transisi industri tambang menuju arah green mining, dengan tata kelola lingkungan, teknologi bersih, dan berbagai inisiatif strategis keberlanjutan. Sekaligus membuktikan perusahaan proaktif membangun kekuatan social mulai dari UMK binaan dan pendidikan di daerah pelosok.

“Sampah sisa makanan dan catering ini hampir 100 persen bisa digunakan untuk budidaya maggot. Hanya sedikit yang terbuang ke TPA. Ini sebuah langkah bagus peduli lingkungan dengan cara menekan jumlah sampah yang dibuang dari perusahaan ke TPA,” terangnya.

Untuk budidaya maggot dibutuhkan waktu 20 hari. SLB memiliki 21 bak untuk budidaya Maggot dan setiap hari bisa dipanen sesuai kebutuhan pakan ternak.

Selain sampah sisa catering dan makanan, Untung juga mengelola sampah lainnya. Di area bersebelahan dengan Budidaya Maggot, ia mendirikan Bank Sampah Berseri. Tidak hanya menampung sampah dari INALUM, Untung juga menerima sampah dari warga.Hasil penjualan sampah bisa ditukar dengan sembako.

Bank sampah ini baru didirikan dua tahun terakhir. Sampah palet, ban bekas, dan lain sebagainya dari kantor dan pabrik INALUM semuanya ditampung oleh Bank Sampah Berseri. Kayu palet disulap Untung jadi meja, kursi, dan perabotan.

“Yang terbaru ini kami sedang belajar mengubah ban bekas jadi batako atau paving block. Ini kami sudah uji coba dua bulan terakhir, ban dihancurkan kemudian diolah dicampur dengan semen dan pasir, dipress menjadi batako. Peralatannya kita mendapat dukungan juga dari INALUM,” jelasnya.

Sedangkan sampah kertas dan kardus bekas dicampur dengan batang pisang diolah oleh Bank Sampah Berseri menjadi paper bag. Saat ini untuk tengah gencar mempromosikan produk Bank Sampah Berseri berupa Batako dan Paper Bag. Jika menemukan pasar yang lebih luar, sampah yang bisa dikelola untuk bahan produksi akan lebih besar jumlahnya.

WhatsApp Image 2025-09-01 at 08.15.22_825918a6.jpg
Ari Nasabah Bank Sampah Berseri (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Ari, seorang nasabah Bank Sampah Berseri mengaku senang dengan keberadaan bank sampah. Ia rutin mengantarkan sampah setiap seminggu sekali. Setiap hasil penjualan sampah akan dicatat di buku nasabah dan saat jumlahnya sudah mencukupi bisa ditukarkan menjadi sembako.

“Saya baru dua bulan terakhir ini saja tahu ada bank sampah, dari pada saya buang mending saya antar kemari, walaupun jumlah uang yang diterima sedikit, namun lebih baik disbanding dibuang,” katanya.

Selain itu, Ari beralasan hasil keuntungan Bank Sampah Berseri digunakan untuk membiayai program pendidikan kesetaraan setara SMA atau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Paket C di Sekolah Al Mukhlisin. Sehingga akan lebih kelihatan manfaatnya oleh masyarakat sekitar.

“Kita gak sangka juga kan, ternyata sampah dari rumah kita bisa bermanfaat untuk orang lain yang secara pendidikan kurang beruntung. Makanya saya jadi rutin setor sampah ke sini,” ungkapnya.

PKBM Paket C Al Mukhlisin digelar setiap hari minggu. Tak hanya di kelas, siswa yang rata-rata berusia 17-20 tahun kerap diajari langsung ke lapangan sesuai minat dan bakat. Total kini ada 200 murid. Bahkan lulusannya sudah ada yang dipekerjakan di Sari Larva Berdaya dan bank Sampah Berseri.

“Jadi manfaatnya untuk dia juga kembali ke kita, ada yang bagus kami rekrut juga ikut di sini (SLB dan Bank Sampah). Sebentar lagi kami mau buka kafe, baristanya rencananya dari adek-adek yang putus sekolah dan sedang ambil Paket C. Mereka kan putus sekolah karena ekonomi. mereka bukan nakal, bukan bandal, kurang dikasih perhatian aja. Alhamdulillah kita tiap hari minggu mendidik anak-anak. Jadi motivasilah untuk adek-adek kita di sini,” tambah Untung.

Jadi Paket C, menurut Untung, membuat anak-anak putus sekolah jauh dari narkoba, judi, dan tindak kriminal.

Direktur Bank Sampah Induk (BSI) New Normal Yasra Al Fariza (kanan) (IDN Times/Prayugo Utomo)
Direktur Bank Sampah Induk (BSI) New Normal Yasra Al Fariza (kanan) (IDN Times/Prayugo Utomo)

Yasra Fariza pegiat Bank Sampah di Sumatra Utara menilai upaya yang dilakukan oleh OK Untung patut didukung dan mendapat apresiasi dari banyak pihak. Menurutnya saat ini sampah masih menjadi polemik besar di perkotaan dan daerah berkembang.

Penanganan sampah, tambahnya, di mata pemerintah masih berkutat pada pengelolaan dan terbentur anggaran. Akhirnya sampah terbuang sebagian besar ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Lainnya, berserakan di jalan, menyumbat drainase dan dibiarkan. Selain kebijkan pemerintah, kesadaran masyarakat akan pengelolaan sampah masih minim.

"Perlu upaya ekstra, bantuan swasta dan kolaborasi dalam jangka waktu panjang untuk membangkitkan kesadaran akan dampak sampah," ujar pendiri Bank Sampah Induk (BSI) New Normal Kota Medan ini.

Keberadaan Bank Sampah menurut Yasra bisa menjadi wadah edukasi kepada masyarakat. Mulai dari pemilahan sampah, daur ulang sampah, budidaya magot hingga pelatihan membuat produk kerajinan tangan dari sampah.

“Kita harus terus memberikan edukasi, agar mindset, perilakunya terbentuk. Sehingga tidak perlu lagi ada regulasi. Jadi masyarakat bisa memilah sampah dari rumah. Kalau dipilah dari sumbernya, bisa jadi bahan baku daur ulang,” ungkapnya.

Bagi Yasra, ini adalah upaya kecil masyarakat untuk menjaga lingkungan. Di tengah krisis iklim yang kian mengancam. Terlebih untuk mengurangi tonase sampah yang kian menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Konsep 3R: Reuse, Reduce, Recycle harus terus digalakkan. Memang, kata Yasra, untuk menyadarkan masyarakat prosesnya gampang-gampang susah. Apalagi harus merubah pola perilaku yang sudah tertanam bertahun-tahun dalam menyikapi sampah. Jika digalang dengan serius, pengelolaan sampah bukan pepesan kosong belaka.

Kata Yasra, pengelolaan sampah yang baik akan memberi dampak ekonomi kepada masyarakat. Dia juga sudah membuktikan, dalam setahun misalnya, BSI New Normal Medan mampu menghasilkan uang Rp100 juta hanya dari sampah.

“Jika sampah ini dikelola dengan baik, maka akan menjadi sumber matapencaharian baru. Produk turunan dari sampah juga sebenarnya menjanjikan. Karena seperti sampah plastik, ada yang tidak diterima oleh pabrik. Sehingga harus dikelola. Ini butuh perhatian khusus,” imbuhnya.

Dengan adanya pengelolaan yang berkelanjutan, sampah yang semula tak bernyawa kini seolah berbisik lembut, membawa kabar bahwa tak ada cita-cita yang benar-benar pergi selama ada kepedulian yang terus merawatnya. Dari tumpukan limbah INALUM ini, sebuah masa depan sedang dirajut—membuktikan bahwa kemanusiaan dan kelestarian alam bisa saling memeluk dalam wujud yang paling bersahaja.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More