Mualem meminta pemerintah kabupaten/kota melakukan upaya terpadu untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat di wilayah masing-masing.
Gubernur Aceh Minta Bupati dan Wali Kota Siaga Potensi Bencana Akhir Tahun

- Gubernur Aceh Muzakir Manaf meminta bupati dan wali kota meningkatkan kesiapsiagaan bencana karena BMKG memprediksi hujan menengah hingga tinggi di sejumlah wilayah pada Oktober–Desember 2026.
- Pemerintah daerah diminta menyesuaikan langkah dengan prediksi hujan, mulai dari konservasi air dan pencegahan karhutla hingga pembersihan drainase, Tas Siaga Bencana, serta pemantauan peringatan dini.
- Ancaman banjir dan longsor meningkat saat musim hujan, terutama di kawasan terdampak sebelumnya yang tanahnya masih labil; sinergi Forkopimda, TNI-Polri, instansi, dan kampus ditekankan.
1. Curah hujan diprediksi meningkat hingga Desember

Ilustrasi cuaca ekstrem (ANTARA FOTO/Rahmad) Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, mengatakan imbauan tersebut disampaikan Mualem berdasarkan informasi prediksi curah hujan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas II Aceh.
BMKG memprediksi pada Oktober hingga Desember 2026 terdapat wilayah di Aceh yang akan mengalami curah hujan dengan intensitas menengah hingga tinggi.
“Langkah itu perlu dilakukan untuk mengantisipasi dampak dari peningkatan intensitas curah hujan yang akan terjadi selama kurun waktu tiga bulan ke depan,” kata Nurlis dalam keterangan tertulis yang diterima Jumat (18/9/2026).
Imbauan tersebut juga disampaikan secara tertulis kepada seluruh bupati dan wali kota melalui surat Gubernur Aceh Nomor 300.2/11114 tertanggal 14 September 2026. Surat itu ditandatangani Pelaksana Tugas (Plt) Sekda Aceh Taufik atas nama Gubernur Aceh.
2. Pemda diminta siapkan langkah sesuai prediksi hujan

Ilustrasi cuaca ekstrem. (IDN Times/Mardya Shakti) Nurlis mengatakan, BMKG memberikan sejumlah langkah kesiapsiagaan yang dapat dilakukan pemerintah dan masyarakat berdasarkan prediksi curah hujan di masing-masing wilayah.
Untuk daerah yang diprediksi mengalami curah hujan rendah, langkah yang disarankan antara lain konservasi dan penghematan air, perbaikan kebocoran, pembangunan infrastruktur resapan seperti biopori, sumur resapan dan embung.
Sektor pertanian juga diminta menyesuaikan dengan kondisi tersebut melalui penggunaan varietas tahan kering, palawija hingga sistem irigasi tetes. Pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga menjadi bagian dari kesiapsiagaan.
Sementara untuk wilayah yang diprediksi mengalami curah hujan tinggi hingga sangat tinggi, masyarakat diminta membersihkan lingkungan dan drainase melalui gotong royong.
Masyarakat juga diimbau menyiapkan Tas Siaga Bencana (TSB) yang berisi dokumen penting dan perlengkapan dasar, menjaga keamanan kelistrikan serta aset, dan memantau informasi peringatan dini BMKG.
“Jika kondisi membahayakan, masyarakat diminta siap melakukan evakuasi,” ujar Nurlis.
3. Mualem ingatkan ancaman banjir dan longsor

ilustrasi cuaca ekstrem (pexels.com/Ralph W. lambrecht) Sebelumnya, Mualem juga telah mengingatkan masyarakat mengenai potensi bencana hidrometeorologi seiring masuknya musim hujan.
Imbauan itu disampaikan setelah terjadi banjir dan longsor di sejumlah wilayah tengah Aceh. Menurut Mualem, kondisi tanah di kawasan yang sebelumnya terdampak bencana masih rentan.
“Pak Gubernur menyampaikan bahwa bencana hidrometeorologi yang terjadi setahun lalu membuat tanah di kawasan bencana belum kokoh dan labil,” kata Nurlis, Senin (14/9/2026).
Pada 3 September 2026, Mualem juga mengingatkan bahwa kondisi musim hujan dapat meningkatkan risiko banjir, longsor, dan bencana lainnya di sejumlah wilayah.
Mualem menekankan pentingnya sinergi seluruh unsur Forkopimda Aceh, termasuk TNI dan Polri, bersama pemerintah kabupaten/kota, instansi terkait, serta perguruan tinggi negeri dan swasta.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan, mempercepat respons di lapangan, dan memastikan keselamatan masyarakat menjadi prioritas.




















