Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Lebih Dari Kopi, Kisah Sekata Kopi Jadi 'Rumah Kedua' Komunitas Medan

Lebih Dari Kopi, Kisah Sekata Kopi Jadi 'Rumah Kedua' Komunitas Medan
Pemilik Sekata Kopi, Muhammad David (Dok. Pribadi)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Muhammad David bangkit dari kegagalan EO saat pandemik dan mendirikan Sekata Kopi bermodal di bawah Rp150 juta, hasil riset ke 20 coffee shop di Jakarta dan Medan.
  • Sekata Kopi tampil beda dengan konsep homey serta area khusus vape agar semua pengunjung tetap nyaman tanpa terganggu asap rokok.
  • Respons positif membuat Sekata Kopi ekspansi ke Cambridge City Square dan menargetkan perluasan nasional sambil mengangkat kearifan lokal tiap kota.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Medan, IDN Times - Pandemik COVID-19 sangat berdampak dengan banyak usaha tumbang, termasuk Event Organizer (EO) milik Muhammad David. Namun, justru dari keterpurukan itu, pria asal Medan ini nemu jalan baru yaitu mendirikan Sekata Kopi.

Berangkat dari riset ke 20 coffee shop dan modal di bawah Rp150 juta, kedai ini kini jadi “rumah kedua” bagi komunitas Medan. Dari pecinta olahraga sampai komunitas lokal, semua mampir karena satu alasan: feel like home.

1. Bangkit dari warung seafood bermodal Rp150 Juta menjadi coffee shop

IMG_20260619_160328.jpg
Suasana di kafe Sekata Kopi (Instagram @sekatakopi.id)

Keputusan David terjun ke F&B bukan nekat. Dulu ia pernah kelola bisnis F&B modal miliaran. Tapi, momen di warung seafood pinggir jalan mengubah mindset-nya.

"Saya lihat warung seafood karyawannya 6 orang, omzetnya sama dengan kita yang modal miliaran. Dari situ saya sadar, bangun F&B nggak perlu uang gede. Yang penting riset dan konsep yang pas," kenang David.

Saat pandemik, ia riset ke 15 coffee shop yang ada di Jakarta dan 5 coffee shop di Kota Medan. Targetnya adalah membuat coffee shop matang dengan modal minim. Pilihan jatuh ke kopi karena David lihat komoditas ini sudah jadi kebutuhan, bukan sekadar tren.

Di setiap sudut Kota Medan, coffee shop menjamur. Seperti setiap 5 meter ada coffee shop.

Dia bertahan dengan usaha Sekata Kopi dengan kenyamanan homey, salah satunya pelayanan, dan tempatnya yang membuat pengunjung merasa balik ke rumah.

"Kalau saya nggak di rumah, ya saya punya rumah kedua yaitu Sekata Kopi. Kita nggak cuma jual kopi, tapi jual rasa rumah," ujarnya.

Kemudian, strategi ini jalan. Sekata Kopi tidak menilai bahwa coffee shop lain menjadi saingan, tapi sesama penopang industri F&B. Hasilnya, berbagai komunitas rutin berkumpul di sini.

2. Berani beda dengan menyediakan area vape untuk menjaga kenyamanan

IMG-20260619-WA0017(1).jpg
Pemilik Sekata Kopi, Muhammad David (Dok. Pribadi)

Inovasi Sekata Kopi tidak berhenti di konsep homey. David juga sediakan area khusus produk tembakau alternatif seperti vape dan tembakau.

Idenya muncul dari mengamati kebiasaan konsumen. Sebab, banyak yang beralih ke produk yang tidak dibakar. "Produk tembakau alternatif gak bikin bau dan asap. Jadi, pas buat coffee shop kita, pengunjung lain gak terganggu," kata David.

Karena beda dengan rokok, lokasi penggunaannya dipisah.

Lanjutnya, tujuan hadirnya coffee shop ini adalah dengan menjaga kenyamanan semua pengunjung.

3. Ekspansi ke mall dan mimpi Go nasional

IMG_20260619_160314.jpg
Suasana di kafe Sekata Kopi (Instagram @sekatakopi.id)

Respons pasar ke area vape positif. Sekata Kopi sekarang perluas area itu dan kini sudah ekspansi ke Cambridge City Square. Dengan target selanjutnya, merambah nasional sambil mengangkat kearifan lokal di setiap kota.

David memberikan pesan, bagi para calon entrepreneur yang masih ragu, untuk terus berani eksekusi, namun jangan lupa merencanakan bisnis.

"Apapun bisnisnya, sekecil apapun, business plan harus dibuat. Dan nggak ada yang nggak mungkin," pungkasnya optimis.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Arifin Al Alamudi
EditorArifin Al Alamudi

Latest News Sumatera Utara

See More