Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Terserang EEHV, Anak Gajah Sumatra Mati di PLG Saree

Kota Medan
Terserang EEHV, Anak Gajah Sumatra Mati di PLG Saree
Yuna, anak Gajah Sumatra mati di PLG Saree, Kabupaten Aceh Besar. (Dokumentasi BKSDA Aceh)
  • Yuna, anak Gajah Sumatra di PLG Saree, Aceh, mati pada 11 Agustus 2026 setelah kondisinya mendadak memburuk; diagnosis awal BKSDA Aceh mengarah pada EEHV.
  • Sebelum mati, Yuna mengalami lemas, pembengkakan wajah, mata merah, dan lidah kebiruan. Nekropsi menemukan pendarahan organ pencernaan, sementara sampel organ diuji lebih lanjut.
  • BKSDA Aceh memperketat pemantauan serta pemeriksaan dini pada gajah berusia di bawah 14 tahun, terutama Gerry, Yuyun, dan Dilan, untuk mengantisipasi potensi penyebaran virus.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Banda Aceh, IDN Times - Yuna, anak Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) jinak yang ada di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Kabupaten Besar, Aceh mati pada Selasa (11/8/2026). Satwa dilindungi tersebut diduga terserang Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV).

"Berdasarkan diagnosa awal medis," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Ujang Wisnu Barata, Kamis (13/8/2026).

  1. 1. Kondisi kesehatan Yuna turun drastis sebelum mati

    Ilustrasi gajah mati (pexels.com/Katie Hollamby)
    Ilustrasi gajah mati (pexels.com/Katie Hollamby)

    Dia menyampaikan EEHV merupakan jenis virus mematikan yang sangat rentan menyerang anak gajah.

    Kondisi kesehatan Yuna, kata Ujang, memburuk dalam waktu sangat cepat. Pada Selasa pagi hingga siang, anak gajah itu masih terpantau aktif dan beraktivitas seperti biasa.

    Namun, kondisi berbeda terlihat sekitar pukul 16.00 WIB. Mahout atau pawang gajah mendapati Yuna dalam keadaan lemas dengan mata bengkak dan merah, wajah membengkak, serta lidah pucat kebiruan.

    Tim dokter hewan BKSDA Aceh bersama mahout kemudian memberikan penanganan medis darurat berupa cairan infus dan multivitamin.

    "Namun, kondisi Yuna terus mengalami penurunan secara drastis. Satwa tersebut akhirnya terjatuh dalam kondisi lemas dan tidak tertolong pada pukul 20.48 WIB," ujar Ujang.

    Dia mengatakan, tim medis langsung melakukan prosedur nekropsi usai Yuna dinyatakanmati. Proses tersebut kemudian dilanjutkan dengan pemakaman yang selesai sekitar pukul 00.30 WIB.

    Ujang menyampaikan, sebelum kematiannya, kondisi kesehatan Yuna sebenarnya berada dalam pemantauan rutin harian dan evaluasi medis setiap tiga bulan.

    Bahkan, berdasarkan pemeriksaan terakhir pada Juni 2026, Yuna dinyatakan dalam kondisi sehat dengan nilai Body Condition Index Score (BCIS) 5,5. Nilai ideal untuk gajah jinak berada pada kisaran 5 hingga 7.

    "Dalam dua hari sebelum peristiwa duka ini pun tidak ditemukan indikasi gejala sakit maupun penurunan kondisi fisik," ujarnya.

    Menurut Ujang, seluruh gajah binaan BKSDA Aceh di PLG Saree, Conservation Response Unit (CRU) Peusangan, maupun CRU Trumon mendapatkan pemeriksaan kesehatan secara rutin.

    Namun, kondisi Yuna mengalami penurunan dalam waktu sangat singkat.

    "Kondisi Yuna drop sangat cepat, yang berdasarkan diagnosa awal dipicu oleh serangan virus mematikan bagi anak gajah," katanya.

  2. 2. Tim medis menemukan sejumlah gejala

    ilustrasi gajah mati karena kekeringan (pixabay.com/Yuri)
    ilustrasi gajah mati karena kekeringan (pixabay.com/Yuri)

    Secara makroskopis, tim medis menemukan sejumlah gejala seperti pembengkakan wajah, mata merah, dan mukosa lidah kebiruan.

    Sementara pemeriksaan mikroskopis menunjukkan adanya pendarahan atau hemoragik pada organ pencernaan bagian dalam.

    Untuk memastikan penyebab kematian, BKSDA Aceh telah mengambil sejumlah sampel organ Yuna untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut.

    EEHV merupakan virus herpes yang secara khusus menginfeksi gajah dan terutama rentan menyerang anak gajah berusia di bawah 14 tahun.

    Virus tersebut menyerang lapisan dalam pembuluh darah atau endothelium. Kondisi itu dapat menyebabkan kebocoran darah dan cairan tubuh ke organ dalam hingga memicu syok dan kematian.

    Serangan virus tersebut dapat menyebabkan kematian secara mendadak dalam waktu 24 hingga 48 jam dengan tingkat kematian mencapai 80 persen.

    Penularan EEHV dapat terjadi melalui sejumlah cairan tubuh gajah, seperti sekresi belalai, air liur, maupun feses.

    Ujang menyebut kasus serupa pernah terjadi pada anak gajah bernama Intan yang berusia 4 tahun 3 bulan di CRU Trumon, Aceh Selatan, pada 2021.

  3. 3. BKSDA perketat pemantauan pemantauan anak gajah

    anak gajah saat hendak dibawa ke PLG di Minas (IDN Times/ dok BBKSDA Riau)
    anak gajah saat hendak dibawa ke PLG di Minas (IDN Times/ dok BBKSDA Riau)

    Sebagai langkah antisipasi, BKSDA Aceh kini memperketat pemantauan terhadap anak-anak gajah lainnya.

    Pemeriksaan medis dan deteksi dini dilakukan terhadap gajah berusia di bawah 14 tahun, terutama Gerry, Yuyun, dan Dilan.

    "Kami segera melakukan uji medis dan deteksi dini terhadap gajah anakan lain yang berusia di bawah 14 tahun, khususnya gajah Gerry, Yuyun, dan Dilan, guna mengantisipasi serta meminimalkan potensi penyebaran virus tersebut," kata Ujang.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More