Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ketok Mejik Tuai Apresiasi, Pengamat: Komedi Harus Berani Beda

Kota Medan
Ketok Mejik Tuai Apresiasi, Pengamat: Komedi Harus Berani Beda
Film Ketok Mejik (IDN Times/Indah Permata Sari)
  • Pengamat film Danil Irawan mengapresiasi Ketok Mejik karena mencoba komedi lokal berbeda lewat campuran thriller dan superhero, meski eksekusi serta strukturnya dinilai belum sepenuhnya rapi.
  • Danil menilai komedian yang bermain serius memperkuat cerita, karakter, dan motif film; ia juga mengingatkan sineas agar tidak sekadar mengejar tren horor komedi tanpa struktur cerita.
  • Ketok Mejik dinilai berani bereksperimen memadukan komedi dan superhero serta menyiratkan heroisme; di Medan, kunjungan Agus Kuncoro, Tarra Budiman, dan Buhun Warwer memadati bioskop.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Medan, IDN Times - Film terbaru Ketok Mejik mendapat sorotan dari pengamat film Dr. Danil Irawan. Menurutnya, film tersebut merupakan upaya menghadirkan komedi lokal dengan kemasan berbeda yang layak diapresiasi, meski eksekusinya belum sepenuhnya rapi.

"Filmnya mencoba membuat komedi Indonesia yang beda. Ada campuran thriller dan tipis-tipis ada unsur superhero-nya. Mereka juga mencoba membangun setiap elemennya," ujar Danil saat ditemui di Medan, pada Senin malam (11/8/2026).

  1. 1. Menempatkan komedian untuk bermain serius merupakan langkah penting

    IMG_20260811_165525.jpg
    Film Ketok Mejik (IDN Times/Indah Permata Sari)

    Danil menilai keberanian menempatkan komedian untuk bermain serius merupakan langkah penting. Dia menyebut hal itu sebagai bagian dari lakon yang menuntut akting lebih dari sekadar melucu.

    "Kita harus lebih menghargai film-film yang mencoba tampil beda daripada komedi yang lucu tanpa cerita. Ketok Mejik ini punya struktur cerita, punya karakter, punya motif. Mungkin belum sepenuhnya rapi, tapi ini usaha yang harus dihargai," jelasnya.

  2. 2. Soroti kecenderungan perfilman Indonesia yang masih berkutat pada tiga genre

    IMG_20260811_165344.jpg
    Pengamat film, Dr. Daniel Irawan (IDN Times/Indah Permata Sari)

    Dia menyoroti kecenderungan perfilman Indonesia yang masih berkutat pada tiga genre besar, yakni horor, komedi, dan drama. Dalam beberapa tahun terakhir, genre horor komedi memang mendominasi pasar setelah suksesnya film-film dengan formula serupa.

    "Fenomena saat ini genre komedi memang lagi naik. Tapi yang lebih dikejar filmmaker untuk keuntungan itu horor komedi. Dulu horor, kemudian geser ke horor komedi seperti Agak Lain yang laku banget. Padahal yang perlu dihargai adalah ketika satu film laku, jangan lantas diikuti terus tanpa mementingkan cerita dan struktur," kata Danil.

    Terkait pesan yang ingin disampaikan Ketok Mejik, Danil menilai film tidak selalu harus mengandung pesan moral secara eksplisit. Namun, karena mengangkat tema superhero, film ini tetap menyiratkan nilai heroisme.

    "Kalau kita punya kekuatan, kita harus menggunakannya dengan benar untuk membantu orang," ujarnya.

  3. 3. Ketok Mejik sebagai contoh keberanian bereksperimen dengan memadukan komedi dan elemen superhero

    IMG_20260811_165302.jpg
    Film Ketok Mejik (IDN Times/Indah Permata Sari)

    Danil juga memberikan masukan agar sineas Indonesia tidak terjebak pada pola meniru. Ia menyebut Ketok Mejik sebagai contoh keberanian bereksperimen dengan memadukan komedi dan elemen superhero, sesuatu yang jarang dilakukan.

    "Filmmaker Indonesia jangan terjebak pada ide yang hanya ingin mengikuti tren. Harus mencoba menciptakan sesuatu yang baru. Ketok Mejik ini punya banyak kebaruan, komedian disuruh main serius, kemudian mengeksplorasi superhero. Dulu ada Jagoan Instan tapi kurang berhasil karena tidak dikerjakan dengan cukup baik. Nah, yang seperti ini yang kita perlukan. Ibarat membuat minuman atau makanan, campurannya harus berbeda-beda agar film Indonesia bisa berkembang," ucapnya.

    Antusiasme penonton terhadap Ketok Mejik juga terlihat di Kota Medan. Bioskop Center Point Medan dipadati pengunjung karena kedatangan para pemain utama film tersebut, di antaranya Agus Kuncoro, Tarra Budiman, dan Buhun Warwer. Kedatangan para aktor itu memicu keramaian dan sesi sapa bersama penonton.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More