Inspirasi Halal Indonesia menggelar Seminar Nasional bertajuk Membangun Ekosistem Halal untuk Masa Depan Indonesia (Dok. Tim Inspirasi Halal Indonesia)
Babe Haikal memaparkan Halal Value Chain yang mencakup pariwisata halal, ekspor-impor halal, produsen, dan sektor terkait halal telah menembus angka Rp6.400 triliun pada 2025.
Ia juga mencatat sektor pariwisata halal Indonesia kini berada di peringkat kedua dunia, naik dari posisi kelima tahun sebelumnya. Pencapaian itu disebut berkat penekanan pada aspek kebersihan dan kesehatan atau hygiene.
“Kebersihan dan kesehatan itu bagian dari halal. Bukan cuma no pork, no lard, no alcohol. Tapi prosesnya harus bersih, higienisnya terdata, no MSG-nya tidak berlebihan, dan seterusnya yang banyak kita kritisi dari cara-cara pembuatan yang tidak halal,” katanya.
Pertumbuhan ekonomi tersebut terus dikejar guna meningkatkan nilai tambah dan daya saing. Salah satu cara menghalau produk asing masuk ke Indonesia adalah dengan memperkuat produk dalam negeri.
Ia juga menekankan negara seperti China, Amerika, Jepang, hingga Korea lebih unggul karena tertib dalam sertifikasi halal.
“Kita mesti tertib halal juga, supaya kita bisa menang dan menjadi pilihan produk oleh konsumen masyarakat Indonesia yang sangat sensitif kalau soal halal,” ucapnya.
Penguatan ekosistem halal di Sumatra Utara diharapkan terus dilakukan secara berkelanjutan melalui sinergi pemerintah, lembaga terkait, pelaku UMKM, serta masyarakat.
Dengan semakin banyaknya UMKM yang memperoleh sertifikasi halal, produk lokal Sumatra Utara diharapkan mampu memiliki daya saing lebih kuat dan menjangkau pasar yang lebih luas.