Strategi Sumut Kejar Target Capaian CKG, Gandeng Sekolah hingga Ormas

Medan, IDN Times- Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) terus digeber sebagai pintu masuk untuk mengetahui kondisi kesehatan masyarakat, termasuk mengantisipasi risiko penyakit tidak menular. Sejak digulirkan pemerintah Februari 2025 sebagai salah satu program prioritas Prabowo Subianto-Gibrann Rakabuming Raka, capaian CKG terus digenjot dan meningkat, meskipun masih banyak daerah yang harus dipacu agar bisa mencapai target.
Kementerian Kesehatan menargetkan tahun 2026 ini 46 persen masyarakat Indonesia melakukan CKG. Pemerintah daerah pun harus menyiapkan strategi jitu menggenjot realisasi CKG. Sumatra Utara misalnya. Sudah 3.810.401 orang yang menggunakan layanan ini di puskesmas wilayahnya masing-masing. Ini berarti sudah 23,92 persen dari sasaran 15.925.172 warga Sumut. Hal itu berdasar data yang dipaparkan Dinas Kesehatan Sumut per 21 Agustus 2026.
“Target kita untuk tahun 2026 ditetapkan kementerian kesehatan sebesar 46 persen. Saat ini sudah di posisi 23,93 persen. Masih ada 4 bulan lagi untuk mengejar target tersebut,” kata Sekretaris Dinas Kesehatan Sumut Hamid Rizal kepada IDN Times, Kamis (27/8/2026).
Saat ini Kabupaten Pakpak Bharat menempati peringkat tertinggi capaian CKG dengan 28.804 warga. Sudah 48,84 persen dari 58.976 jumlah sasaran. Sementara Toba Samosir di urutan kedua dengan 105.411 warga dan persentase 46.69 persen.
Namun yang mengejutkan di tiga urutan terbawah ada Kota Medan, Ibu kota Sumatra Utara. Bersama Nias, dan Nias Selatan, ketiga daerah ini mendapat atensi untuk digeber peningkatan layanan. Dari 2.525.872 warga Medan baru 191.525 warga yang sudah melakukan CKG. Ini berarti hanya 7,58 persen.
Sementara Nias 10.666 orang dengan persentasenya 6,85 persen dan Nias Selatan di urutan terbawah mencapai 14.497 warga dengan persentase 3.76 persen.
“Kita apresiasi beberapa kabupaten/kota yang tinggi pencapaian CKG. Namun ada beberapa daerah yang menurut kami harus digenjot, mengingat waktu kita tidak banyak sampai. Atensi khusus kami Kabupaten Nias Selatan itu masih termasuk cukup rendah. Begitu juga dengan Kota Medan yang menjadi kunci. Kalau bisa maksimal dalam mencapai CKG dengan jumlah penduduk yang banyak sudah bisa meningkatkan capaian dalam mengejar target,” beber Hamid.
Beberapa strategi pun disiapkan. Puskesmas sebagai ujung tombak pun didorong berkolaborasi dengan berbagai lintas sektor. Salah satunya berkolaborasi dengan organisasi kemasyarakatan.
“Kita mendorong ormas-ormas besar dan eksis di masyarakat dapat bekerjasama dengan Dinkes dan Puskesmas sebagai ujung tombak CKG. Kita menggelar CKG di luar gedung puskesmas. Secara SOP kita dibenarkan melakukan rangkaian CKG di tempat-tempat terbuka. Di gedung=-gedung di luar puskesmas ataupun tempat lain. Kiranya dari CKG itu nanti ada pemeriksaan lebih lanjut yang dibutuhkan. Maka kita meminta sasaran tersebut untuk hadir di puskesmas,” ucap Hamid.
Memang idealnya CKG digelar di puskesmas karena ketersediaan alat dan bahan medis serta sumber daya manusianya. “Kami kira lebih komplit ada di puskesmas tapi mengingat kita harus melakukan upaya terobosan agar target dapat tercapai. Kolaborasi dengan organisasi masyarakat tersebut membuatnya lebih fleksibel,” ucapnya.

Strategi selanjutnya, kolaborasi dengan kampus dan sekolah. Terutama saat momen penerimaan mahasiswa dan siswa baru.
“Untuk kampus beberapa waktu lalu telah melakukan proses menerimaan mahasiswa baru. Khususnya kampus besar dapat dielaborasi penerimaannya dengan CKG, sehingga kita juga melebarkan sayap aktivitas kita ke mahasiswa baru tersebut. Kami menerjunkan tim dari Dinkes juga ke sana. Karena ujung tombak dari puskemas, kita melibatkan puskesmas terdekat. Misalnya kampus USU, kita mendorong Puskesmas Padang Bulan, dan di sekitar kampus USU untuk dapat berpartisipasi aktif,” ungkapnya.
Selain kampus, Dinkes juga berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Baik di tingkat provinsi maupun kabupaten kota. Termasuk kementerian agama.
“Untuk menjaring di sekolah. CKG ini sudah ada sasaran-sasaran diperuntukkan. Termasuk anak sekolah. kita kejar di bulan penerimaan siswa baru. Secara SOP ditetapkan Juni-Juli sebagai timing pendaftaran siswa baru di sekolah,” bebernya.
Hamid megakui ada banyak tantangan dalam mencapai target realisasi CKG. Terutama dalam menggugah kesadaran masyarakat pentingnya mendeteksi penyakit sejak dini. Butuh kerja sama lintas sektor.
“Tidak bisa hanya dinkes semata yang gerakkan. Belajar dari imunisasi dan vaksin covid, dengan regulasi yang ketat, capaian vaksinasi dapat dipenuhi. Lebih kurang harusnya dilakukan hal yang sama. Perlu pergerakan bersama lintas sektor. Contoh kalau menggerakkan masyarakat harus dapat dukungan dari pemerintah desa, pemerintah kelurahan, kecamatan dan institusi lain,” ucapnya.
Hamid bahkan menilai regulasi tertentu dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan partisipasi. Salah satu contohnya adalah kewajiban pemeriksaan kesehatan bagi kelompok tertentu dalam proses penerimaan atau perekrutan.
“Seperti yang dilakukan di penerimaan karyawan SPPG. Ada wajib cek kesehatan gratis. Minimal di puskesmas. Itu akan mengupgrade,” ucapnya.
Sejauh ini masyarakat yang menggunakan CKG sudah merata di berbagai kalangan usia. Mulai dari bayi lahir samai lansia. “Dari data yang paling masif kelompok umur usia produktif. Berikutnya baru kelompok usia rentan ibu hamil, bayi, balita. termasuk lansia,” tambahnya.
Satu hal yang sebenarnya digarisbawahi dari program CKG adalah tindaklanjutnya. CKG merupakan jalan untuk mendeteksi penyakit, untuk kemudian mencegah ataupun mengobatinya. Langkah preventif setelah itu yang harus jadi perhatian.
“Kita masih menghadapi bahaya penyakit-penyakit menular seperti demam berdarah, malaria. Pada sisi yang lain dari CKG yang kita lakukan, tidak sedikit kita menemukan peningkatan kasus penyakit terkait dengan pola hidup. Meningkatnya risiko penyakit jantun, hipertensi, risiko diabetes, dan lainnya yang kita temukan dari CKG. Ke depan kita harus melakukan upaya preventif, dari data yang kita temukan,” katanya.
Misalnya, peserta yang memiliki tekanan darah di atas batas normal dapat diberikan edukasi mengenai perubahan pola makan dan perilaku. Sementara peserta dengan kondisi tertentu dapat diarahkan menjalani pemeriksaan lanjutan atau mendapatkan rujukan.
“Tidak bisa kita samaratakan. Sesuai kondisi masing-masing. Penyampaian hasil kepada yang bersangkutan itu penting,” kata Hamid.

Secara nasional, cakapai CKG yang diungkap Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencapai 73,8 juta orang hingga 31 Juli 2026. Dari 73,8 juta peserta tersebut, sebanyak 62,7 juta orang menjalani skrining melalui puskesmas dan kegiatan komunitas. Sementara 11,1 juta lainnya merupakan anak sekolah. Layanan CKG kini tersedia bagi seluruh kelompok umur melalui lebih dari 10.000 puskesmas, sekolah, dan komunitas.
Jumlah ini melampaui capaian CKG sepanjang 2025 yang mencapai sekitar 70 juta peserta. Pada 2026, pemerintah menargetkan program tersebut menjangkau 130 juta penduduk.
Pemerintah kini tidak hanya mengejar jumlah warga yang diperiksa, tetapi memastikan hasil skrining ditindaklanjuti melalui edukasi, pengobatan, pemantauan, hingga rujukan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan keberhasilan CKG tidak cukup diukur dari banyaknya masyarakat yang menjalani pemeriksaan. Menurutnya, hasil pemeriksaan harus diikuti dengan penanganan agar masyarakat yang memiliki risiko kesehatan dapat segera ditangani.
“Tujuan CKG bukan hanya mengecek, tetapi membuat masyarakat sehat. Setelah akses diperluas, fokus kita adalah memastikan masalah yang ditemukan langsung ditangani,” ujar Budi dalam Media Briefing Evaluasi CKG di Gedung Adhyatma Kemenkes, Jakarta Selatan, 4 Agustus 2026 lalu.
Masyarakat sendiri saat ini sudah merasakan manfaat CKG. Selain mendeteksi penyakit, masyarakat bisa lebih antisipatif meski hasil tes positif untuknya.
Seperti diakui warga Medan Marelan Karmila. Dengan melakukan CKG di Puskesmas wilayah tempat tinggalnya, Karmila kini bisa lebih mengantisipasi risiko penyakit.
“Sebenarnya dari dulu pengin tes kesehatan, tapi takut biayanya mahal. Nah, setelah ada CKG saya beranikan cek. Ternyata ada beberapa risiko penyakit yang kemudian saya tahu misalnya diabetes atau hipertensi,” kata Karmila kepada IDN Times, Kamis (27/8/2026).
Setelah melakukan CKG, Karmila kini lebih rajin berolahraga. Hal ini agar dirinya bisa lebih sehat dan tidak terserang penyakit yang berbahaya. “Antisipasi itu bagus, daripada nanti terlambat,” pungkasnya.


















