Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ekonomi Menilai Daging Ayam Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar Agustus

Kota Medan
Ekonomi Menilai Daging Ayam Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar Agustus
Beberapa orang melewati lapak penjual daging ayam potong. (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • Sumatra Utara diproyeksikan mengalami inflasi Agustus 2026 di atas 0,41 persen secara bulanan, dengan daging ayam sebagai penyumbang terbesar setelah harganya naik 17–25 persen.
  • Tekanan harga juga datang dari cabai, beras, ikan segar, emas, sayuran, dan material bangunan. Sebaliknya, bawang putih, jeruk, tomat, wortel, bayam, serta sawi hijau berpotensi menahan inflasi.
  • Kenaikan biaya pakan, logistik, plastik, ayam bakalan, dan multivitamin akibat tensi geopolitik mendorong harga ayam. Cuaca dan kekeringan dinilai dapat memperpanjang tekanan inflasi hingga akhir tahun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Medan, IDN TimesSumatra Utara diproyeksikan kembali mengalami inflasi pada Agustus 2026. Secara month to month atau mtm, inflasi Sumut diperkirakan mencapai lebih dari 0,41 persen.

Pengamat Ekonomi, Gunawan Benjamin, mengatakan komoditas penyumbang inflasi terbesar berasal dari daging ayam yang mengalami kenaikan dalam rentang 17 persen hingga 25 persen secara bulanan.

"Pada bulan Agustus secara mtm, Sumut diproyeksikan akan mencetak inflasi mencapai lebih dari 0,41 persen. Komoditas penyumbang inflasi terbesar datang dari daging ayam yang alami kenaikan dalam rentang 17 persen hingga 25 persen secara bulanan," ujar Gunawan, Kamis (27/8/2026).

  1. 1. Cabai dan ikan segar ikut tekan harga

    Ilustrasi cabai merah keriting.
    Ilustrasi cabai merah keriting. (Dok. Bapanas)

    Selain daging ayam, komoditas lain yang turut mendorong inflasi adalah cabai rawit yang naik 8 persen hingga 10 persen, cabai merah 1,6 persen hingga 11 persen, dan beras yang stabil cenderung naik hingga 1,8 persen.

    Harga sejumlah ikan segar juga terpantau naik. Ikan kembung naik sekitar 8,6 persen, ikan tongkol 6 persen, ikan dencis 1,3 persen, dan udang basah 5,7 persen.

    Kenaikan juga terjadi pada sejumlah komoditas lain seperti emas yang naik sekitar 7 persen, serta sayur-sayuran seperti kacang panjang dan kangkung. Material bangunan seperti cat tembok, semen, dan besi beton juga mengalami kenaikan harga.

  2. 2. Bawang merah dan bawang putih berpotensi deflasi

    Bawang Merah di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung. (IDN Times/Muhaimin)
    Bawang Merah di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung. (IDN Times/Muhaimin)

    Di sisi lain, Gunawan menilai sejumlah komoditas berpotensi menyumbang deflasi. Bawang merah diproyeksikan menyumbang deflasi pada Agustus 2026, meskipun di sebagian pedagang masih tercatat kenaikan.

    "Namun saya menilai bawang merah akan menyumbang deflasi di bulan Agustus," katanya.

    Komoditas lain yang berpotensi menahan laju inflasi adalah bawang putih yang turun sekitar 15 persen, jeruk 13 persen, tomat dan wortel sekitar 5 persen, serta bayam dan sawi hijau.

  3. 3. Biaya produksi dan geopolitik jadi pemicu

    Ilustrasi daging dan bawang bombai (Pixabay)
    Ilustrasi daging dan bawang bombai (Pixabay)

    Menurut Gunawan, sumbangan inflasi Sumut pada Agustus dipicu oleh kenaikan biaya input produksi. Dampak tensi geopolitik yang memanas di wilayah Timur Tengah telah mendorong kenaikan biaya pakan, logistik, plastik, ayam bakalan atau grand parent stock, hingga multivitamin.

    Kenaikan harga daging ayam juga berdampak pada bahan olahan. Harga nasi dengan lauk ayam ikut naik. Kondisi ini menjadi beban berat bagi usaha kuliner seperti rumah makan, rumah tangga, hingga pengelola dapur Makan Bergizi Gratis atau MBG.

    "Laju kenaikan inflasi di Sumut berpeluang masih akan berlanjut di masa mendatang setidaknya hingga tutup tahun," ujarnya.

    Gunawan menyebut faktor cuaca menjadi ancaman utama potensi lonjakan inflasi ke depan. Sejumlah wilayah di luar Sumut mengalami kekeringan hebat akibat El Nino. Bahkan di beberapa daerah di Tanah Air terjadi kebakaran hutan.

    "Sumut masih sulit untuk mengelak dari tekanan inflasi, meskipun wilayah ini relatif aman dari ancaman kekeringan," pungkasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More