Harga Semen di Sumut Masih Tinggi, KPPU Cek Rantai Pasok

- KPPU menelusuri harga dan pasokan semen di Sumatera Utara dari produsen hingga toko bangunan.
- Harga semen di toko bangunan tercatat Rp70 ribu hingga Rp75 ribu per sak, di atas rentang harga normal.
- KPPU masih memverifikasi data dan belum menyimpulkan ada atau tidaknya pelanggaran persaingan usaha.
Medan, IDN Times – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) memperluas pendalaman terhadap harga dan pasokan semen di Sumatera Utara. Setelah menghimpun informasi dari sejumlah pemangku kepentingan, KPPU kini menelusuri pembentukan harga di setiap mata rantai distribusi, mulai dari produsen hingga toko material bangunan.
Pendalaman dilakukan untuk mencari tahu penyebab harga semen di sejumlah wilayah Sumut masih relatif tinggi. KPPU juga memeriksa kemungkinan adanya kekosongan stok, tambahan biaya logistik, perubahan alokasi pasokan, hingga pola distribusi yang memengaruhi harga di tingkat konsumen.
Proses tersebut masih berupa kajian dan verifikasi data. KPPU menegaskan belum menarik kesimpulan mengenai ada atau tidaknya pelanggaran persaingan usaha.
Hasil pemantauan teranyar KPPU menemukan harga semen di toko bangunan, berada pada rentang Rp70 ribu - Rp75 ribu per sak. Sementara, harga normal semen berada pada rentang Rp50 ribu – Rp65 ribu per sak.
1. KPPU cek harga semen dari produsen sampai toko

Aktivitas penataan semen kantong Semen Gresik di fasilitas warehouse storage milik SIG Group di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. (Dok. SIG) Kantor Wilayah I KPPU kini mengumpulkan dan memverifikasi data dari berbagai pihak dalam rantai pasok semen. Di antaranya produsen, distributor, toko bangunan, pengelola pelabuhan, perusahaan angkutan, serta pihak lain yang terlibat dalam distribusi.
Data yang ditelusuri meliputi volume produksi dan penjualan, alokasi pasokan ke Sumut, jadwal pengiriman, tingkat persediaan, perubahan harga, komponen biaya logistik, hingga skema distribusi.
Ketua KPPU Gopprera Panggabean mengatakan lembaganya tidak ingin terburu-buru menyimpulkan penyebab kenaikan harga sebelum seluruh data diperiksa.
"KPPU akan menelusuri waktu mulai berkurangnya pasokan, merek dan wilayah yang terdampak, pemberlakuan kuota atau pembatasan jumlah pembelian, serta pembentukan harga pada setiap tingkat distribusi. Kami juga akan menilai sejauh mana kondisi tersebut memengaruhi harga yang dibayar konsumen," ujar Gopprera.
KPPU juga akan membandingkan pergerakan harga dengan perubahan biaya, kondisi pasokan, permintaan, dan hambatan distribusi yang dapat dibuktikan.
"KPPU akan menguji apakah pergerakan harga berkorelasi dengan perubahan biaya, pasokan, permintaan, dan kondisi distribusi yang dapat diverifikasi. Apabila ditemukan kesepakatan antarpelaku usaha dalam penetapan harga atau pengaturan pasokan yang tidak memiliki justifikasi objektif dan didukung alat bukti yang cukup, KPPU akan menindaklanjutinya sesuai mekanisme penanganan perkara yang berlaku," tegasnya.
2. Sejumlah merek sempat kosong, biaya distribusi ikut naik

Area packer di pabrik semen terintegrasi milik SIG Group di Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan. (Dok. SIG) Dari pendalaman lapangan, KPPU menemukan sejumlah informasi yang masih harus diverifikasi. Salah satunya adalah laporan distributor di Kota Medan yang menyebut beberapa merek semen sempat mengalami kekosongan stok.
Distributor juga melaporkan adanya tambahan biaya distribusi, seperti biaya angkutan, parkir, hingga biaya tunggu saat kapal belum dapat bersandar. KPPU juga sedang mencocokkan informasi perubahan harga beli dari sejumlah produsen pada periode Juni hingga Agustus 2026 dengan dokumen transaksi dan data pendukung lainnya.
Pergerakan pasokan melalui Pelabuhan Belawan juga menjadi perhatian. Data awal KPPU menunjukkan volume pengiriman sempat menurun pada Mei 2026 sebelum kembali meningkat pada Juni 2026.
Data pengiriman Juli dan Agustus 2026 masih diverifikasi dan akan dibandingkan dengan persediaan distributor, volume penjualan, waktu tunggu pengiriman, serta harga eceran semen di pasar.
Kepala Kanwil I KPPU Ridho Pamungkas mengatakan berbagai faktor dalam rantai pasok harus dilihat secara bersamaan.
"Berbagai faktor memang muncul, mulai dari produksi, alokasi pasokan, distribusi, pelabuhan, angkutan, hingga kondisi persediaan pada tingkat distributor dan toko bangunan. Namun, faktor-faktor tersebut belum sepenuhnya menjelaskan mengapa harga semen di beberapa wilayah Sumatera Utara masih relatif tinggi dan mengapa beberapa merek mengalami kekosongan. Karena itu, kami perlu melihat datanya secara utuh dari produsen sampai ke pasar," ujar Ridho.
3. KPPU belum simpulkan ada pelanggaran persaingan usaha

SIG membuktikan resiliensi di tengah tantangan industri semen domestik yang masih menghadapi overcapacity dan tensi geopolitik yang memberi tekanan kenaikan harga-harga. (Dok. SIG) KPPU telah menjadwalkan permintaan data kepada sejumlah produsen dan distributor. Data tersebut nantinya akan dianalisis untuk mengetahui apakah tekanan pasokan di pasar lebih banyak dipengaruhi persoalan logistik, perubahan alokasi, kondisi persediaan, atau faktor lain dalam rantai distribusi.
Ridho mengatakan kesimpulan baru akan dibuat setelah seluruh data dibandingkan, termasuk kondisi harga dan pasokan sebelum, selama, dan setelah periode kenaikan.
"Kami ingin melihat pergerakan pasokan dan harga sebelum, selama, dan setelah periode kenaikan harga secara lebih rinci. Apabila persoalannya berasal dari kenaikan biaya dan kendala logistik, korelasinya harus terlihat dalam data. Sebaliknya, apabila ditemukan pola pengaturan atau pembatasan pasokan yang tidak dapat dijelaskan oleh faktor biaya maupun kondisi operasional, hal tersebut akan kami dalami lebih lanjut," pungkasnya.



















