Harga Emas Dunia Tembus $4.650 per Ons Troy, Berikut Faktornya

- Harga emas dunia menguat ke sekitar US$4.650 per ons troy setelah minyak mentah turun ke US$86 per barel, sehingga spekulasi kenaikan suku bunga acuan mereda.
- Penguatan emas didorong rencana buyback obligasi pemerintah AS, sikap The Fed menahan bunga, inflasi terkendali, geopolitik stabil, serta ancaman sanksi AS terhadap Iran yang lebih ringan.
- Pengamat Gunawan Benjamin memproyeksikan emas berpeluang menyentuh US$5.000 per ons tahun ini, meski volatilitas dan koreksi jangka pendek berpotensi tertahan di sekitar US$4.500.
Medan, IDN Times - Harga emas dunia kembali menguat tajam pada perdagangan hari ini Rabu (26/8/2026). Penguatan dipicu oleh melemahnya harga minyak mentah dunia yang menurunkan spekulasi kenaikan suku bunga acuan.
Berdasarkan pantauan pasar, harga emas dunia melonjak ke kisaran $4.650 per ons troy. Kenaikan itu terjadi setelah harga minyak mentah dunia turun ke level $86 per barel.
Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menjelaskan, penurunan harga minyak mentah dipicu oleh pembahasan pembentukan koridor gabungan sementara di Selat Hormuz antara Iran dan Oman. Pembicaraan teknis kedua negara disebut akan terus berlanjut untuk mewujudkan koridor maritim permanen di masa mendatang.
1. Sederet sentimen dorong penguatan emas

ilustrasi emas (unsplash.com/Zlaťáky.cz) Menurut Gunawan, ada sejumlah faktor yang membuat harga emas terus menjanjikan meskipun belakangan meroket cukup tajam.
"Beberapa faktor pemicu kenaikan harga emas belakangan ini di antaranya ada rencana buy back obligasi pemerintah AS, melemahnya harga minyak mentah, sikap Bank Sentral AS yang akan menahan besaran bunga acuan, data ekonomi yang belum menunjukkan adanya gangguan inflasi tak terkendali, hingga tensi geopolitik yang cenderung stabil," ujar Gunawan.
Ia menambahkan, ancaman sanksi ekonomi AS terhadap Iran juga tidak se-agresif perkiraan pasar sebelumnya. Hal itu turut meredakan kekhawatiran pasar.
2. Fundamental masih kuat, rawan volatilitas

ilustrasi emas (unsplash.com/Zlaťáky.cz) Mengacu pada sejumlah sentimen tersebut, Gunawan menilai harga emas ke depan masih berpeluang bergerak sangat volatil. Namun secara fundamental, eskalasi perang yang memburuk akan memicu ketakutan di kalangan pelaku pasar sehingga mereka cenderung mengakumulasi aset safe haven.
"Sehingga pada dasarnya saat tensi geopolitik memburuk, fundamental emas kian menguat," katanya.
Gunawan menuturkan, koreksi harga emas sebelumnya yang sempat melemah di bawah $4.000 per ons troy lebih disebabkan kekhawatiran akan kenaikan bunga acuan The Fed. Namun kekhawatiran itu kini mulai memudar, meskipun harga minyak mentah beberapa kali mencoba mendekati $100 per barel.
"Ini artinya pasar tidak lagi memberikan bobot yang signifikan terkait spekulasi kenaikan bunga acuan ke depan, meskipun inflasi masih menjadi ancaman serius perekonomian global," jelasnya.
3. Peluang sentuh $5.000, koreksi tertahan di $4.500

ilustrasi emas (pexels.com/Michael Steinberg) Dengan kondisi tersebut, Gunawan memperkirakan harga emas berpeluang melanjutkan tren kenaikan. Pada tahun ini, harga emas berpeluang kembali mencoba menyentuh level $5.000 per ons troy. Meski demikian, secara teknikal harga emas masih berpeluang mengalami koreksi dalam jangka pendek.
"Walau demikian, potensi koreksi teknikal dalam waktu dekat masih akan mampu tertahan di kisaran level psikologis $4.500 per ons," pungkasnya.


















