Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Mengintip Transformasi Teluk Bayur Jadi Pelabuhan Hijau dan Sustainability

Mengintip Transformasi Teluk Bayur Jadi Pelabuhan Hijau dan Sustainability
Gantry Jib Crane bertenaga listrik di PTP Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur (IDN Times/Arifin Al Alamudi)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Sisi Positif
  • Pelabuhan Teluk Bayur bertransformasi menjadi pelabuhan hijau dengan digitalisasi dan elektrifikasi, menghadirkan layanan 24 jam berbasis sistem online yang transparan dan efisien.
  • PTP Nonpetikemas Teluk Bayur menerapkan standar HSSE ketat dengan prinsip Zero Accident, termasuk simulasi tanggap darurat dan penggunaan oil boom untuk mencegah pencemaran laut.
  • Penerapan konsep Green Port di Teluk Bayur dinilai sebagai langkah nyata BUMN dalam mendukung penurunan emisi gas rumah kaca serta menciptakan nilai keberlanjutan bagi komunitas sekitar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Padang, IDN Times - Jam dinding sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, tiba-tiba terdengar deru kereta api dari Kamar Kos di Jalan Kapalo Koto, Kota Padang. Itu adalah suara kereta di jalur khusus dari Stasiun Indarung menuju Pelabuhan Teluk Bayur.

Adalah PT Semen Padang satu-satunya perusahaan yang menggunakan jalur itu untuk mengangkut klinker, gypsum, dan bahan campuran pembuat semen lainnya. Di saat warga Padang tertidur lelap, aktivitas ekonomi ternyata tetap terjaga di Pelabuhan Teluk Bayur.

Pelabuhan ini merupakan salah satu yang tertua di Pulau Sumatra. Dahulu diberi nama Emmahaven oleh kolonial Belanda. Era 1960-an komponis Indonesia, Zaenal Arifin menciptakan lagu berjudul ‘Teluk Bayur’ yang terinspirasi dari kenangan dan keindahan pelabuhan ini. Lagu yang dipopulerkan Ernie Djohan ini terus menghiasi radio Indonesia hingga era 1980-an dan membuat nama Teluk Bayur makin dikenal di Tanah Air.

“Gak pernah kita sangka pelabuhan bersejarah ini masih bertahan sampai sekarang, bahkan kini menjadi salah satu pelabuhan kunci dalam jaringan PTP Nonpetikemas,” kata Fauzi, SE, MBA, Branch Manager PTP Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur kepada IDN Times, 5 Juni 2026.

Wajah Fauzi terlihat riang hari ini, pasalnya ini adalah hari ulang tahunnya. Sebelum mengajak IDN Times berkeliling pelabuhan, para karyawan sempat memberinya surprise, menyanyikan lagu ‘Selamat Ulang Tahun’, dan memotong kue tart.

Baginya ulang tahun kali ini sangat spesial. Pertama, akan menjadi tahun terakhirnya bekerja di Teluk Bayur, karena tahun depan sudah memasuki masa pensiun. Kedua, menjadi tahun ke-30 pengabdiannya bersama Pelindo.

Pasca lulus dari Akademi Ilmu Pelayaran (Sekarang bernama SKIP) Jakarta tahun 1996, ia langsung bergabung dengan Pelindo. Baru tahun 2010 ia ditugaskan di Teluk Bayur.

“Waktu Pelabuhan Teluk Bayur masih dikelola oleh Pelindo II, kerjasama antara PT Semen Padang, KAI, dan Pelabuhan sudah terjalin,” ungkapnya saat ditanya soal deru kereta api yang terdengar dini hari tadi.

Pasca merger Pelindo tahun 2021, Terminal Curah Cair, Curah Kering, dan General Cargo Teluk Bayur berpindah pengelolaan dari Pelindo II ke PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas) Cabang Teluk Bayur. Kerjasama Semen Padang-KAI-Pelabuhan Teluk Bayur terus berlanjut. Secara rutin Semen Padang mengimpor bahan baku pembuat semen.

Setelah Merger pula, tambah Fauzi, banyak perubahan yang terjadi di Pelabuhan Teluk Bayur. Salah satunya kini Teluk Bayur sudah bertransformasi jadi pelabuhan yang melayani ekspor-impor internasional dan menerapkan prinsip pelabuhan hijau (green port) dan sustainability.

“Banyak pelabuhan melayani ekspor-impor internasional, tapi tidak semuanya menerapkan prinsip green port and sustainability. Salah satu yang paling mudah di lihat di sini adalah digitalisasi dan elektrifikasi ” beber lulusan Magister Administrasi Bisnis dari Kühne Logistics University (KLU), Hamburg, Jerman ini.

1. Digitalisasi dan Elektrifikasi Ramah Lingkungan

ARFL3798.JPG
Ruang Kontrol Pelabuhan Teluk Bayur (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Dengan digitalisasi melalui Pelindo Terminal Operating System Multipurpose (PTOS-M) dan elektrifikasi memungkinkan pelayanan di Pelabuhan Teluk Bayur berlangsung 24 jam nonstop tanpa perlu transaksi tatap muka. Tak heran hingga dini hari pelabuhan masih beroperasi.

“Saat ini pelayanan jasa kepelabuhan harus diajukan oleh pengguna jasa PTP Nonpetikemas secara online melalui Intergrated Billing System (IBS). Dengan pelayanan online dan sistem digital yang kita punya ini pengajuan layanan tidak memerlukan transaksi tatap muka lagi,” ujarnya

IBS, tambahnya, terintegrasi langsung dengan PTOS-M. Sehingga operator dan pengguna jasa dapat memonitor setiap tahapan layanan dari awal sampai akhir kegiatan. Semakin sedikit transaksi tatap muka, waktu operasional akan semakin efektif, memperkecil pungutan liar di lapangan, dan lebih transparan.

Dengan IBS ini, antrean pelayanan tidak bisa diakali atau pilih kasih, akan diproses sesuai antrean pendaftaran. Selain itu pengguna jasa juga tidak bisa mengibuli sistem. Jika melakukan wanprestrasi, misalnya tidak bayar atau muatan tidak sesuai data maka akun pengguna jasa akan langsung terkunci transaksinya.

“Kalau sudah terkunci, melakukan transaksi di pelabuhan pun tidak akan bisa. Jadi dengan sistem IBS ini semua jadi lebih transparan, pengguna dan pemberi jasa diuntungkan,” jelasnya.

Ini semua merupakan bagian dari transformasi layanan PTP Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur yang telah dilakukan sejak tahun 2023. Tujuannya untuk mendukung penggunaan teknologi ramah lingkungan dengan implementasi elektrifikasi dan digitalisasi.

Dengan elektrifikasi, 3 unit Gantry Jib Crane tidak lagi menggunakan genset bertenaga solar melainkan menggunakan listrik yang lebih ramah.

“Semua fasilitas yang kita miliki memperkuat peran Teluk Bayur sebagai gerbang logistik utama di Sumatra Barat. Pupuk hingga beras subsidi dari Pemerintah Pusat untuk warga Sumbar semua masuk dari sini. Tidak hanya melayani kapal lokal tetapi juga internasional. April lalu kami melayani muat produk turunan kelapa sawit MT Southern Anoa untuk tujuan ekspor ke Port Qasim, Pakistan.” jelasnya.

Transformasi yang dilakukan mencakup peningkatan fasilitas dan peralatan pelabuhan. PTP Nonpetikemas Teluk Bayur kini memiliki dermaga sepanjang 917,3 meter persegi (m2) dan area penumpukan seluas 36.341 m2, yang mendukung berbagai jenis kargo.

Setelah transformasi dilakukan pada akhir 2023, kekuatan pelayanan semakin andal didukung dengan peningkatan kompetensi SDM yang tersertifikasi. Tak hanya elektrifikasi 3 unit Gantry Jib Crane saja, ada juga Wheel Loader 5 Unit, Excavator 3 Unit, Head Truck 2 Unit, Reach Stacker 1 Unit, Hopper 2 Unit, Dump Truck 6 Unit, Grab 3 Unit, Flexible Hose 35 Unit, Pipa Galvanis 27 unit, ditambahkan untuk mendukung operasional yang lebih efisien dan cepat.

“Awalnya memang saya dan karyawan di sini agak gagap dengan transformasi ini, termasuk pengguna jasa. Kita imbangi dengan peningkatan kapasitas, pelatihan, transformasi pengetahuan akhirnya kami bisa menjalankan dengan baik,” tambah Fauzi.

ARFL3982.JPG
Fauzi, Branch Manager PTP Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Pasca transformasi, Fauzi mengakui kinerja penanganan komoditas di pelabuhan Teluk Bayur menunjukkan tren positif. Semester pertama pasca transformasi, penanganan curah cair, khususnya CPO (Crude Palm Oil), mencapai 6.577 ton dan throughput sebanyak 1,5 juta ton (Per Juli 2024). CPO yang ditangani untuk ekspor ke berbagai negara, termasuk Malaysia, Bangladesh, Myanmar, Spanyol, India, dan banyak lainnya.

Pada tahun 2025, Teluk Bayur mencatat aktivitas throughput sebesar 5,79 juta ton. Meskipun sempat terjadi musibah banjir bandang di Sumatra Barat pada akhir Tahun 2025 dimana jalur logistik darat dari hinterland sempat terputus.

Hingga awal 2026, PTP Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur terus membukukan kinerja positif. Quater I (Q1) Tahun 2026, capaian throughput telah menyentuh 1,51 juta ton atau 118,69 persen di atas target yang ditetapkan. Apabila dibandingkan dengan capaian throughput Triwulan I Tahun 2025 naik 11,03 persen dari capaian sejumlah 1,36 juta ton.

“Angka-angka ini kan gak bisa bohong. Dengan optimalisasi infrastruktur dan layanan serba digital, PTP Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur membuktikan diri mampu menjadi mitra strategis bagi pelaku industri di Sumatra Barat dan posisi kami berperan penting untuk mempercepat arus logistik nasional,” kata pria yang sebentar lagi akan memasuki masa pensiun ini.

Meski terus membukukan kinerja positif, Fauzi tidak berpuas diri. Ia ingin di sisa satu tahun menuju masa pensiun terus meng-upgrade layanan di Pelabuhan Teluk Bayur.

“Salah satunya target saya sebelum pensiun ingin meningkatan kapasitas dermaga sebetulnya. Dermaga Khusus Curah (DKC) Gaung itu masih bisa dimaksimalkan fungsingnya” tegasnya.

Kedua, kerjasama pemanfaatan dermaga milik Tambang Batubara PT Bukit Asam yang kini tidak dikelola karena produksi perusahaan yang sudah tidak ada lagi.

“Kalau bisa harapannya Bukit Asam serahkan pengelolaan dermaga ke kita, serah operasi namanya. Itu bisa memperpanjang dermaga umum, jadi statusnya bukan lagi dermaga khusus,” pungkasnya.

Amrianto, Mandor Stevedoring dari PT Swarna Dwipa Pratama yang ditemui saat proses bongkar muat di Pelabuhan Teluk Bayur mengatakan pihaknya sudah menjalin kerjasama PTP Nonpetikemas selama 5 tahun. Perusahaannya menjadi penyalur pupuk bersubsidi dari Aceh ke Sumatra Barat.

“Dari sebelum digitalisasi sampai sekarang kami terus menjalin kerjasama dengan Teluk Bayur. Phonska, Urea dan semua pupuk bersubsidi untuk warga Sumbar jalur masuknya dari sini,” katanya.

Ia mengaku pasca digitalisasi pelayanan di Teluk Bayur lebih cepat dan transparan. Misalnya dalam hal bongkar muat, antrean kapal bisa dipantau secara online. Sehingga truk pengangkut milik pengguna jasa tidak dibuat terlalu lama menunggu di pelabuhan.

“Kalau dulu cuaca buruk misalnya, kadang kita gak bisa prediksi berapa lama lagi kapal bersandar. Kalau sekarang sudah bisa kita pantau dari aplikasi yang diberi pelabuhan untuk kami. Jadi sopir tahu kapan harus datang dan begitu selesai mengangkut barang harus langsung keluar tidak boleh berlama-lama di pelabuhan,” terangnya.

Selain itu, bagi Amri, yang paling bermanfaat dirasakan dari elektrifikasi dan digitalisasi di Pelabuhan Teluk Bayur adalah waktu bongkar muat barang lebih cepat dan waktu antrean kapal lebih pendek.

Sistem scan barcode sopir truk, menurut Amri juga sangat membantu pengguna jasa. Dengan sistem ini, hanya sopir yang diberi barcode oleh pengguna jasa yang bisa masuk ke pelabuhan.

“Jadi sopir mitra kita gak bisa main-main, harus sopir yang kita beri barcode yang bisa masuk. Begitu scan, jam masuk akan langsung terdeteksi. Selesai loading barang, sopir keluar pelabuhan juga scan barcode dan langsung terdeteksi,” ungkapnya.

2. HSSE jadi kunci zero accident

ARFL3685.JPG
Pelabuhan Teluk Bayur (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Meski transformasi telah mengantarkan bisnis PTP Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur terus membukukan tren positif, transformasi di bidang Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) tak boleh dilupakan.

Handy Pratama Hasbi Deputi Manager Teknik dan Produksi PTP Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur menjelaskan transformasi HSSE juga menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan operasional. Prinsipnya utamanya adalah Zero Accident.

“Kegiatan bisnis dengan ritme tinggi 27/7, sistem digital dan elektrifikasi maka harus diikuti keselamatan kerja yang tinggi juga. Berbagai program kita siapkan, termasuk safety briefing, management walkthrough, dan patroli rutin. Jadi HSSE itu bukan instrument semata, tetapi jadi budaya kerja kita,” terangnya.

Untuk mendukung realisasi program safety awareness, tambah Handy, perusahan rutin menggelar simulasi kondisi tanggap darurat bersama KSOP Kelas II Teluk Bayur dan unsur maritim.

Selain itu, melalui program TJSL Peduli K3, perusahaan melakukan edukasi untuk meningkatkan kesadaran keselamatan kerja dan pemberian bantuan perlengkapan keselamatan bagi pekerja di Lingkungan Pelabuhan Teluk Bayur.

“Ini untuk untuk menciptakan nilai bersama (creating shared value) bagi perusahaan dan masyarakat, sekaligus mendukung operasional pelabuhan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” jelasnya.

Untuk mencegah pencemaran laut dari proses bongkat muat curah cair seperti Minyak Kelapa Sawti dan aspal cair Pelabuhan Teluk Bayur menanganinya dengan oil boom. Yakni alat pelampung pembatas terapung yang digunakan untuk menahan, melokalisasi, dan mengarahkan tumpahan minyak di permukaan air.

Oil boom wajib pasang setiap kapal curah cair bersandar di dermaga Teluk Bayur. Begitu kapal bersandar petugas di boat langsung membentang oil boom mengelilingi area kapal.

“Jika terjadi tumpahan pun kita akan lebih mudah untuk sterilisasinya. Ini sangat efektif. Praktik membangun pelabuhan berwawasan lingkungan ini adalah bagian dari implementasi ISO 14001:2015 dan praktik operasional berkelanjutan,” katanya.

3. Bisnis Masa Kini Harus Peduli Komunitas Sekitar dan Lingkungan

IMG_20260605_172348.jpg
Kereta Api dari Pelabuhan Teluk Bayur (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Dosen Administrasi Publik Universitas Sumatra Utara (USU) M Farhan Rizki, S.AP, M.AP menjelaskan di era digital dan tantangan climate change saat ini bisnis perusahaan, terkhusus BUMN seperti PTP Nonpetikemas tidak bisa lagi hanya bicara soal pemasukan atau keuntungan perusahaan semata. Namun harus lebih aware dengan komunitas sekitar dan punya program ramah lingkungan sebagai bagian mendukung target pemerintah untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

“­Bisa jadi dengan tidak peduli terhadap komunitas dan lingkungan, keuntungan secara finansial perusahaan akan lebih besar. Namun eranya sudah berbeda. Perusahaan khususnya BUMN wajib untuk peduli terhadap komunitas di sekitarnya dan lingkungan agar keberadaan mereka membawa manfaat. Selain demi keberlanjutan bisnis, ini juga demi keberlanjutan hidup masyarakat sekitar yang lebih baik dan keberlangsungan bumi yang kita tinggali bersama,” katanya, Sabtu (13/6/2026).

Memang Negara, kata Farhan, secara tegas sudah mengatur tentang kewajiban CSR ataupun TJSL setiap perusahaan. Namun tidak sedikit perusahaan hanya melaksanakannya secara seremoni dan tidak tepat sasaran. Seperti sekadar menanam pohon saja tapi tidak dirawat tumbuhnya.

“Elektrifikasi atau pengurangan penggunaan genset bertenaga solar menurut saya di level yang berbeda. Climate Change atau ikut serta dalam menurunkan emisi gas rumah kaca artinya sudah masuk sebagai sendi-sendi operasional perusahaan. Ini jauh lebih bermanfaat dari hanya pada sekadar bagi-bagi bantuan ke warga atau menanam pohon tanpa diperhatikan perawatannya,” terangnya.

Ia berharap praktik ramah lingkungan atau Green Port and Sustainabilitiy yang diterapkan PTP Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur bisa menjadi contoh bagi perusahaan lain, khususnya BUMN yang ada di Indonesia.

“Bayangkan jika ratusan BUMN dan anak BUMN di Indonesia bergerak ke arah, maka target penurunan emisi gas rumah kaca nasional yang dipatok hingga 42,2 persen dengan komitmen penurunan emisi sebesar 314 hingga 358 juta ton CO2 ekuivalen di tahun 2030 bukan sesuatu yang mustahil untuk dicapai. Harus juga disertai penetrasi pemerintah ke industri sektor swasta,” jelasnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Arifin Al Alamudi
EditorArifin Al Alamudi

Latest News Sumatera Utara

See More