Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal Kawasan Gambut di Sumatra Utara, Tersebar di 9 Kabupaten
Ilustrasi gambut (pexels.com/aul Ling)
  • Sumatra Utara memiliki ekosistem gambut luas, dengan data luasan berbeda yang menempatkannya sebagai salah satu provinsi pemilik gambut terbesar di Indonesia.

  • Sebaran gambut mencakup pesisir timur, pesisir barat, hingga dataran tinggi di sekitar Danau Toba dan Pulau Samosir.

  • Gambut berfungsi menyerap serta mengatur air, sekaligus menyimpan cadangan karbon purba di dalam tanah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
ribuan tahun

Kawasan gambut terbentuk dari endapan material organik hutan rawa di hilir sungai-sungai besar.

musim hujan

Kubah gambut menampung limpahan air agar tidak menerjang permukiman.

kemarau

Air dari gambut dilepaskan perlahan agar sungai tidak mengering.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Sumatra Utara memiliki kawasan ekosistem gambut luas yang tersebar di sembilan kabupaten, termasuk kawasan pesisir dan dataran tinggi.
  • Who?
    Ekosistem gambut tersebut berada di wilayah sejumlah kabupaten di Sumatra Utara, termasuk Labuhanbatu, Mandailing Natal, dan Humbang Hasundutan.
  • Where?
    Kawasan gambut tersebar di pesisir timur, pesisir barat, kawasan Danau Toba, serta Pulau Samosir.
  • When?
    Gambut terbentuk dari endapan material organik hutan rawa selama ribuan tahun.
  • Why?
    Gambut berfungsi mengatur tata air dan mengunci cadangan karbon purba agar tidak lepas ke udara menjadi gas rumah kaca.
  • How?
    Struktur gambut yang berpori menyerap air dalam jumlah besar, menampung limpahan saat musim hujan, lalu melepaskannya perlahan saat kemarau.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sumatra Utara ternyata punya banyak tanah gambut. Tanah ini ada di sembilan kabupaten, di pantai timur, pantai barat, dan dekat Danau Toba. Ada juga gambut di tempat tinggi. Gambut bisa menyimpan air saat hujan dan mengeluarkannya perlahan saat kemarau. Gambut juga menyimpan karbon.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Keberadaan gambut di Sumatra Utara menunjukkan bahwa provinsi ini memiliki kekayaan ekosistem yang beragam, dari pesisir hingga dataran tinggi. Fungsinya sebagai penyimpan air dan karbon memberi peran ekologis nyata bagi kawasan sekitar. Data mengenai sebaran dan luasannya juga menyediakan dasar untuk memahami kawasan tersebut secara lebih terukur.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times – Nama Sumatra Utara selalu identik dengan bentang alam ikonik. Mulai dari megahnya kaldera Danau Toba, deretan Bukit Barisan, hingga lebatnya hutan Leuser dan Batang Toru. Namun, bicara soal lahan gambut, ingatan publik hampir selalu melompat ke daerah lain. Sebut saja Riau, Jambi, Sumatra Selatan, atau Kalimantan.

Faktanya berbeda. Sumatra Utara ternyata menyimpan bentang ekosistem gambut yang sangat luas. Sayangnya, lahan basah ini jarang dibicarakan dalam keseharian. Luput dari perhatian konservasi, bahkan nyaris terlupakan.

Berikut lima fakta berbasis data mengenai kawasan gambut di Sumatra Utara.

1. Masuk jajaran pemilik ekosistem gambut terluas ke-4 di Sumatra

Hutan gambut (commons.wikimedia.org/Jorge Franganillo)

Banyak yang belum tahu fakta krusial ini. Sumatra Utara masuk dalam daftar provinsi pemilik gambut terbesar di Indonesia. Rujukan utamanya jelas --SK MenLHK Nomor 130 Tahun 2017 tentang Peta Fungsi Ekosistem Gambut Nasional yang dihimpun Pantau Gambut--. Di sana tercatat angkanya seluas 342.674,52 hektare. Luasan ini menempatkan Sumatra Utara di posisi keempat terbesar se-Sumatra dan peringkat kedelapan nasional. Tepat di bawah Riau, Sumatra Selatan, dan Jambi.

Tak hanya itu, pencatatan lintas instansi juga menyajikan angka lain sesuai metode pengukurannya. Dokumen RPPLH Provinsi Sumatra Utara (Perda Nomor 11 Tahun 2023) mencatat bentang yang lebih luas lagi, 526.701 hektare atau sebanding dengan 740 ribu lapangan bola berstandar FIFA. Seluruhnya terbagi ke dalam 27 Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG).

Sementara peta Kementerian Pertanian menghitung murni luasan fisik tanah gambut atau histosol. Angkanya mencapai 288.600 hektare. Setara 4,1 persen dari total daratan Sumatra Utara.

2. Lebih dari 80 persen gambut fisik berada di pesisir Timur Sumut

Ilustrasi kawasan gambut. (Pexels/lauripoldre)

Hamparan gambut terluas Sumatra Utara berada di dataran rendah pesisir timur. Berhadapan langsung dengan Selat Malaka. Kawasan ini terbentuk dari endapan material organik hutan rawa selama ribuan tahun di hilir sungai-sungai besar. Mulai dari Sungai Barumun, Sungai Bilah, Sungai Kualuh, hingga Sungai Asahan.

Empat daerah di pantai timur ini menguasai lebih dari 80 persen total gambut fisik provinsi. Adalah Kabupaten Labuhanbatu yang menempati urutan pertama. Luasannya 105.300 hektare. Di belakangnya menyusul tiga kabupaten tetangga. Labuhanbatu Utara seluas 61.800 hektare, Labuhanbatu Selatan 41.900 hektare, serta Asahan dengan 36.200 hektare.

3. Punya sabuk gambut pesisir barat yang mengapit Samudra Hindia

Ilustrasi kawasan gambut. (Pexels/Roman Ska)

Rawa gambut Sumatra Utara tak cuma monopoli pantai timur. Sabuk lahan basah ini juga membentang di sepanjang pesisir barat. Posisinya sangat unik. Terjepit di celah sempit antara kaki pegunungan Bukit Barisan, lanskap hutan Batang Toru, dan Samudra Hindia.

Tiga kabupaten menjadi rumah bagi ekosistem gambut pantai barat ini. Posisi terluas dipegang Kabupaten Mandailing Natal dengan 21.300 hektare. Tak hanya itu, Kabupaten Tapanuli Tengah juga menyimpan 8.953 hektare gambut di kawasan Lumut hingga Sibabangun. Sisanya berada di Kabupaten Tapanuli Selatan seluas 6.048 hektare. Terkonsentrasi di cekungan sekitar Danau Siais.

4. Fenomena langka gambut dataran tinggi di atas kawasan Danau Toba

Ilustrasi kawasan gambut. (Pexels/Damir)

Yang menjadi sorotan adalah keajaiban geologi di atap Sumatra Utara. Umumnya, lahan gambut terbentuk di rawa pesisir yang beriklim panas. Namun, provinsi ini punya anomali langka, gambut dataran tinggi (highland peat). Berada di ketinggian lebih dari 1.400 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Adalah Kabupaten Humbang Hasundutan yang menyimpan kawasan gambut berhawa dingin ini. Luasnya: 6.524 hektare. Titik sebarannya membentang di atas kaldera Toba. Mulai dari Kecamatan Lintong Nihuta, Doloksanggul, hingga Pollung.

Bahkan, ekosistem serupa dalam skala kecil juga ditemukan seluas 322 hektare. Tepat di atas Pulau Samosir.

5. Berperan sebagai spons air raksasa dan tabungan karbon alami

Ilustrasi kawasan gambut. (Pexels/Lauri Poldre)

Ratusan ribu hektare gambut di sembilan kabupaten ini punya mandat ekologis yang besar. Bukan sekadar pelengkap peta geografi. Tanah gambut terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan purba yang belum membusuk sempurna. Strukturnya berpori layaknya spons raksasa. Kemampuan serap airnya pun ekstrem, lebih dari 340 persen dari bobot keringnya. Lebih dari tiga kali lipat berat tanahnya sendiri.

Daya serap ini menjadikannya pengendali tata air alami di hulu maupun hilir. Saat musim hujan, kubah gambut menampung limpahan air agar tak menerjang permukiman. Saat kemarau tiba, air dilepaskan perlahan agar sungai tidak mengering. Tak hanya itu, lapisan basah ini juga memikul satu fungsi krusial lainnya, mengunci cadangan karbon purba di dalam tanah. Menahannya agar tak lepas ke udara menjadi gas rumah kaca.

Curated For You

Editorial Team

Related Article