Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Festival Sastra Museum Bidik Gen Z akan Digelar, Catat Tanggalnya
Penerima Manfaat Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan, Porman Wilson Manalu (IDN Times/Indah Permata Sari)
  • Porman Wilson Manalu menggagas Festival Sastra Museum 2025 di Medan untuk menghidupkan museum sebagai ruang kreatif dan edukatif yang dekat dengan generasi Z.

  • Festival ini menargetkan pelajar dan mahasiswa berusia 13–23 tahun, menghadirkan berbagai kegiatan sastra dan seni di Museum Negeri Sumatra Utara secara gratis.

  • Program ini bertujuan jangka panjang menumbuhkan minat generasi Z terhadap sastra dan museum, serta menjadikannya agenda tahunan melalui pembentukan Sanggar Museum.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
2025

Porman Wilson Manalu menginisiasi Festival Sastra Museum sebagai bagian dari program Pendayagunaan Ruang Publik 2025 untuk menjadikan museum lebih dekat dengan generasi Z.

8 Juli 2026

Porman menjelaskan konsep dan tujuan Festival Sastra Museum kepada media, menekankan pentingnya keterlibatan generasi Z dalam menghidupkan fungsi museum.

30–31 Juli 2026

Festival Sastra Museum digelar di Museum Negeri Provinsi Sumatra Utara dengan berbagai kegiatan seperti diskusi, workshop, lomba kreativitas, pertunjukan, pameran, peluncuran buku, dan penayangan audio visual.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Festival Sastra Museum akan digelar untuk menghidupkan kembali fungsi museum sebagai ruang kreatif dan edukatif dengan melibatkan generasi Z melalui berbagai kegiatan sastra dan seni.
  • Who?
    Porman Wilson Manalu, seniman, jurnalis, dan pegiat teater asal Medan, menjadi penggagas festival bersama panitia yang menargetkan pelajar, mahasiswa, serta sanggar seni di Sumatra Utara.
  • Where?
    Kegiatan berlangsung di Museum Negeri Provinsi Sumatra Utara, Medan, yang dijadikan pusat aktivitas sastra dan ruang interaksi bagi generasi muda.
  • When?
    Festival dijadwalkan pada Kamis hingga Jumat, 30–31 Juli 2026, dengan rangkaian acara berlangsung selama dua hari penuh di lokasi museum.
  • Why?
    Tujuannya untuk menarik minat generasi Z terhadap museum dan sastra sekaligus menjadikan museum sebagai ruang edukasi, wisata, serta ekonomi kreatif berbasis sejarah.
  • How?
    Kegiatan dilakukan melalui sosialisasi ke sekolah dan kampus serta penyelenggaraan diskusi, workshop, lomba kreativitas, pameran karya sastra, pertunjukan seni, dan peluncuran buku tanpa biaya bagi peserta.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Akan ada acara seru di Museum Sumatra Utara namanya Festival Sastra Museum. Yang buat namanya Kak Porman, dia mau anak muda Gen Z suka datang ke museum. Nanti ada lomba, nonton, belajar nulis, dan lihat karya sastra. Semua gratis buat pelajar dan mahasiswa. Acara ini mau bikin museum jadi tempat asyik untuk belajar dan main.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Festival Sastra Museum menghadirkan semangat baru dalam menghidupkan museum sebagai ruang kreatif yang akrab bagi generasi Z. Melalui rangkaian kegiatan gratis seperti diskusi, workshop, dan pertunjukan sastra, inisiatif ini membuka peluang bagi pelajar dan mahasiswa untuk berinteraksi dengan sejarah secara segar, inklusif, dan penuh ekspresi kreatif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times – Upaya menghidupkan kembali fungsi museum sebagai ruang kreatif dan edukatif terus digagas. Melalui program Penerima Manfaat Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan, Porman Wilson Manalu, yang juga sebagai seniman, jurnalis, dan pegiat teater asal Medan, Sumatra Utara, menginisiasi "Festival Sastra Museum" pada 2025. Festival ini akan membidik Gen Z.

Program ini merupakan bagian dari Layanan Produksi Bidang Kebudayaan untuk Pendayagunaan Ruang Publik 2025. Tujuannya menjadikan museum, khususnya Museum Negeri Sumatra Utara, sebagai ruang yang dekat dengan generasi Z.

"Ketika menyebut museum maka yang tervisual dalam pikiran kita tentunya benda-benda purbakala, artefak, arsip-arsip masa lalu dan segala sesuatu yang dipandang arkaik serta ketinggalan zaman," kata Porman, di Ruang Kreatif 001 Teater Rumah Mata, pada Rabu (8/7/2026).

Padahal, menurutnya, Museum Negeri Sumatra Utara memiliki banyak ruang dengan tema berbeda. Mulai dari Ruang Masa Prasejarah, Ruang Kebudayaan Sumatera Kuno, Ruang Masa Kerajaan Hindu-Buddha, hingga Ruang Masa Perjuangan Melawan Kolonial. Sayangnya, ruang-ruang itu masih sulit menarik minat generasi Z.

"Pelajar atau mahasiswa hadir ke museum karena tugas sekolah yang wajib dikerjakan. Kesadaran untuk beraktivitas di museum sebagai proses kreatif, wisata dan hiburan belum maksimal terwujud," ujarnya.

1. Menjadikan masa lalu sebagai proyektor masa depan

Penerima Manfaat Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan, Porman Wilson Manalu (IDN Times/Indah Permata Sari)

Porman melihat adanya peluang besar dari persilangan antara museum, sastra, dan generasi Z. Festival Sastra Museum digagas untuk menjawab persoalan itu.

"Kegiatan ini berupaya menjawab: apakah sastra museum dapat memberikan dampak signifikan terhadap pengembangan fungsi museum sebagai gerakan sastra di Sumatera Utara? Kenapa harus Gen Z yang menjadi fokus? Dan bagaimana cara kerja sastra museum sehingga mampu menarik perhatian Gen Z sebagai pelopor ke depan," jelasnya.

Rangkaian kegiatan yang akan digelar meliputi Sosialisasi dan Mobilisasi Pelajar dan Mahasiswa, Diskusi Sastra Museum, Workshop Tata Kelola Sastra Museum, Workshop Menulis Karya Sastra Museum, Pojok Bincang Sastra Museum, Lomba Kreativitas Sastra Museum, Pertunjukan Sastra Museum, Pameran Karya Sastra Museum, Peluncuran Buku Sastra Museum, hingga Penayangan Audio Visual Sastra Museum.

"Festival Sastra Museum merupakan ekspresi sastra masa depan berpusat pada ruang masa lalu dengan melibatkan generasi Z secara aktif dalam pengembangan fungsi dan peran museum sebagai ruang edukasi, wisata, dan ekonomi kreatif berbasis benda sejarah dan arsip," kata Porman.

Ia menambahkan, karya sastra yang selama ini dikenal segmentatif dan eksklusif akan ditransformasi menjadi karya yang inklusif. "Menjadikan masa lalu sebagai proyektor untuk membentuk kerangka impian masa depan," ujarnya.

2. Fokus ke pelajar dan mahasiswa, semua gratis

Penerima Manfaat Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan, Porman Wilson Manalu (IDN Times/Indah Permata Sari)

Dalam diskusi persiapan, panitia menyebut peserta lomba dibatasi usia 13 sampai 23 tahun. Sasarannya adalah pelajar, mahasiswa, dan sanggar-sanggar seni.

"Ini terutama fokus ke pelajar dan mahasiswa. Malah lebih mengarah lagi ke pelajar," kata salah seorang panitia perempuan.

"Kalau bisa kita target pesertanya sebanyak-banyaknya. Makanya sebelum acara, kita berupaya untuk sosialisasi. Sosialisasi ini kita masuk ke sekolah-sekolah, ke kampus, maupun ke sanggar-sanggar," tambah panitia laki-laki.

Panitia juga memastikan seluruh kegiatan tidak dipungut biaya. Termasuk tiket masuk museum.

"Semuanya gratis. Dan dia masuk ke museum kita yang kalau masuk museum itu kan bayar. Kita yang membiayai, bukan pesertanya," ujarnya.

3. Target jangka panjang: sastra diminati semua kalangan

Tim panitia festival sastra museum (IDN Times/Indah Permata Sari)

Harapan jangka panjang dari festival ini adalah menumbuhkan kecintaan generasi Z terhadap museum dan sastra.

"Target kita adalah supaya museum dicintai. Tetapi target saya sebenarnya adalah bagaimana supaya sastra itu diminati buat semua orang. Karena di bidang seni lainnya, sastra ini masih kurang peminatnya. Misalnya dibandingkan dengan musik atau film, masih jauh," kata Porman.

Ke depan, program ini diharapkan berkelanjutan melalui pembentukan "Sanggar Museum" sebagai basis kegiatan kreatif, serta menjadikan Festival Sastra Museum sebagai agenda tahunan dengan dukungan berbagai pemangku kepentingan.

"Sastra museum mengimajinasikan masa depan sejarah sebagai ruang tumbuh kembang potensi generasi Z yang berkelanjutan. Museum dijadikan taman bermain dan belajar yang segar dan nyaman bagi generasi Z untuk nongkrong, mengembangkan potensi diri yang terbuka dan bebas berekspresi," tutup Porman.

Diketahui, festival ini berlangsung pada Kamis-Jumat tanggal 30-31 Juli 2026 di Museum Negeri Provinsi Sumatra. Rangkaian Kegiatan Festival ini meliputi: Diskusi Sastra Museum, Workshop Tata Kelola Sastra Museum, Workshop Menulis Karya Sastra Museum, Pojok Bincang Sastra Museum, Lomba Kreatifitas Sastra Museum, Pertunjukan Sastra Museum, Pameran Karya Sastra Museum, Launching Buku Sastra Museum, Penayangan Audio Visual Sastra Museum.

Curated For You

Editorial Team

Related Article