Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ekonomi Sumut Tumbuh 5,06 Persen di Triwulan 2, Ini Catatannya

Kota Medan
Ekonomi Sumut Tumbuh 5,06 Persen di Triwulan 2, Ini Catatannya
Ilustrasi ekonomi digital
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Ekonomi Sumatra Utara tumbuh 5,06 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, sementara pertumbuhan kumulatif semester I mencapai 5,02%, menurut BPS.

  • Kontribusi Ramadan dan Idul Fitri terhadap ekonomi Sumut dinilai melemah; sektor perdagangan tumbuh 0,25% pada triwulan I dan 2,57% pada triwulan II 2026.

  • Pelemahan dikaitkan dengan penahanan belanja, kebutuhan sekolah, serta belanja pemerintah triwulan II; data menunjukkan masyarakat memprioritaskan kebutuhan dasar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Medan, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Sumatra Utara (Sumut) sebesar 5,06 persen pada triwulan II 2026 secara tahunan atau year on year. Secara kumulatif semester I 2026, pertumbuhan ekonomi Sumut tercatat 5,02 persen.

Meski secara umum masih tumbuh, data BPS menunjukkan adanya pelemahan kontribusi geliat ekonomi selama Ramadan dan Idul Fitri terhadap perekonomian Sumut.

Hal itu terlihat dari kinerja sektor perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor. Pada triwulan I 2026, saat Ramadan dan Idul Fitri sepenuhnya berlangsung di kuartal pertama, sektor tersebut tumbuh 0,25% secara kuartalan. Pertumbuhannya justru lebih tinggi pada triwulan II 2026, yakni 2,57 persen.

1. Tren melemah sejak 2022

ilustrasi ekonomi baru (pexels.com/Robert Lens)
ilustrasi ekonomi baru (pexels.com/Robert Lens)

Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menilai jika dibandingkan 2024, ketika Ramadan dan Idul Fitri sebagian berlangsung di triwulan II, sektor yang sama justru terkontraksi 1,93 persen pada triwulan I dan tumbuh 2,54 persen pada triwulan II 2024.

"Pola serupa juga terlihat pada 2022. Saat Ramadan dan Idul Fitri sepenuhnya di triwulan II, sektor perdagangan tumbuh 0,74 persen pada triwulan I dan melonjak 3,61% pada triwulan II 2022. Tren yang sama juga tercermin dari sektor akomodasi, makanan dan minuman, serta transportasi dan pergudangan," jelasnya pada Rabu (5/8/2026).

Lanjutnya, dari sisi pengeluaran, rumah tangga di Sumut pada 2026 tumbuh 1,3 persen pada triwulan I dan meningkat signifikan menjadi 2,88 persen pada triwulan II.

"Dari data ini saya menarik kesimpulan bahwa kontribusi dari geliat ekonomi selama Ramadan dan Idul Fitri terus mengalami perlambatan atau melemah," ujar Gunawan.

2. Berikut tiga faktor penyebabnya

ilustrasi pasar lokal
ilustrasi pasar lokal (commons.wikimedia.org/pexels.com/Muhamad Guruh Budi Hartono)

Dia juga menyebutkan bahwa, pelemahan itu diduga dipicu tiga faktor utama. Pertama, masyarakat menahan belanja selama Ramadan dan Idul Fitri. Kedua, fokus pengeluaran masyarakat lebih diarahkan pada kebutuhan anak sekolah yang puncaknya terjadi pada triwulan II. Ketiga, belanja sosial pemerintah maupun belanja konsumsi pemerintah lebih banyak mengalir pada triwulan II.

"Dari pengalaman saya berdiskusi dengan pelaku usaha ritel, Ramadan dan Idul Fitri selalu jadi tolak ukur dalam menghitung proyeksi belanja masyarakat setelahnya. Artinya, jika ingin melihat bagaimana penjualan atau belanja masyarakat dalam periode setahun ke depan, maka lihatlah bagaimana masyarakat berbelanja selama Ramadan dan Idul Fitri," ucapnya.

3. Belanja masih tertekan

ilustrasi uang (unsplash.com/JakubZerdzicki)
ilustrasi uang (unsplash.com/JakubZerdzicki)

Dikatakan Gunawan, rilis data pertumbuhan ekonomi ini memperlihatkan belanja masyarakat masih dalam tekanan. Berdasarkan data BPS, masyarakat lebih memprioritaskan belanja untuk kebutuhan dasar dibandingkan mengikuti pola pengeluaran selama Ramadan dan Idul Fitri.

"Kondisi ini menunjukkan adanya penurunan kualitas hidup masyarakat yang terjadi belakangan ini," ujarnya.

Pemerintah dan pelaku usaha diharapkan dapat membaca tren ini sebagai sinyal untuk menyesuaikan strategi. Momentum Ramadan dan Idul Fitri yang selama ini menjadi penggerak utama konsumsi rumah tangga, kini tidak lagi menjadi faktor dominan dalam menggerakkan ekonomi Sumut.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More