Dituduh Pelaku Pemerkosaan, Mahasiswa USU Jadi Korban Percobaan Begal

- Farhan, mahasiswa USU, jadi korban percobaan begal oleh dua pria berseragam ojol yang mengaku polisi dan menuduhnya sebagai pelaku pemerkosaan anak di bawah umur.
- Setelah lolos, Farhan justru dimintai uang hingga Rp15 juta oleh oknum TNI yang awalnya menolongnya, sementara barang berharganya seperti tablet dan airpods hilang.
- Kasus ini akhirnya dilaporkan ke Polisi Militer; bukti CCTV menunjukkan keterlibatan oknum TNI tersebut sebelum akhirnya tablet dikembalikan dan Farhan mendapat perlindungan sementara.
Medan, IDN Times - Belum hilang rasa panik dari batin Farhan Arisy Pakpahan, mahasiswa perantauan USU semester 8 Sastra Jepang. Jalan yang biasa ia lalui bersama temannya sepulang kerja sampingan di warung ayam penyet, justru mendadak jadi mencekam dan memberikan rasa trauma sampai sekarang.
Farhan malam itu diberhentikan dengan paksa oleh dua orang mengaku polisi, hendak menangkapnya dan menyita motornya. Usai berhasil melarikan diri, Farhan alih-alih diteriaki sebagai pelaku pemerkosaan anak di bawah umur! Hal ini berujung dengan ditangkapnya ia oleh warga, bahkan sempat mendapat kekerasan fisik karena tuduhan tak jelas.
1. 2 orang pakai seragam ojol ngaku polisi mencegat dan teriaki mahasiswa USU pelaku pemerkosaan

Selasa (24/2/2026) Farhan menceritakan insiden yang baru saja menimpanya kepada IDN Times. Mahasiswa yang turut bekerja sebagai penjual ayam penyet itu dibegal kala mengantar pulang temannya sesama pekerja.
"Saya mengantar teman saya ke kosnya di dekat Pajak USU (Pajus) kemarin itu. Nah, pas putar balik setelah menurunkan dia dan saya mau pulang ke kos, ada dua orang pakai baju ojek online langsung mencegat saya. Satu orang mengambil kunci, satu orang lagi langsung memiting saya. Sempat saya mau dibawa mereka kan, 'Ayo ikut kami, ikut kami! polisi kami!' katanya. Sempat juga saya lolos dan berusaha lari. Teriak-teriaklah saya, 'Tolong, tolong! Ada begal!' saya bilang," cerita Farhan tergesa-gesa, mengingat insiden yang membuatnya takut.
Tanpa disangka, 2 orang yang berusaha merampas motornya juga ikut teriak kala warga sudah ramai mendekat. "Kami polisi. Tangkap anak itu! Pemerkosa anak di bawah umur itu!" teriaknya kepada seluruh warga.
"Di situ saya pun spontan bingung juga. Warga sebagian nggak percaya dan ada juga yang mengejar saya. 'Pemerkosa kau ya?! Pemerkosa kau ya?!' Begitulah tuduhannya. Saya spontan ya takut. Saya dikejar sama masa itu. Kemudian sama si pelaku yang pakai jaket ojol, dipukul saya di bagian perut, diancam juga sama obeng. Saya mau dibawa, lah, ke motor yang lain," lanjut Farhan.
Tak lama, datang seorang pria diduga tentara. Ia menengahi perselisihan tersebut. Bahkan mereka hendak dibawa ke rumah Kepala Lingkungan.
"Rencananya mau dibawa ke Kepling saya. Betul aja, Keplingnya ternyata nggak ada. Namun saat itu, 2 pelaku yang memakai jaket Ojol yang mengaku polisi ini hilang dua-duanya. Saat itu saya dibawa pakai motor tentara ini. Sementara motor saya dibawa sama temannya lalu diantar pulang ke kos," bebernya.
2. Usai lolos dari percobaan begal, mahasiswa USU dimintai uang Rp15 juta oleh anggota TNI yang menolongnya

Farhan pada akhirnya diantar pulang di kosnya. Ia dibonceng oleh anggota TNI, sementara motor dan tasnya dibawa oleh teman dekat anggota TNI tersebut.
Mulanya Farhan tak menaruh curiga kepada 2 orang itu. Sampai pada akhirnya ia menyadari tablet dan airpods miliknya yang berada di dalam tas hilang saat ia ke kantor polisi hendak membuat laporan pembegalan.
"Di sana (kantor polisi) saya buat laporan pembegalan. Lalu saya teringat barang-barang saya, ternyata sudah tidak ada di tas. Lalu saya teleponlah si tentara ini karena sebelumnya tukaran nomor ponsel. Dibilang dia, 'besok kita cari, ya. Tapi bagi dulu uangmu, Dek'. Besok paginya, saya ditelepon lagi. Dia bilang 'gampang aja dapatkan tabletmu ini. Cuma, kau kalau sudah ditolong sama orang, bisa lah kau nolong orang lain juga' katanya begitu," beber Farhan.
Spontan, mahasiswa Sastra Jepang itu menolak memberi uang. Ia sendiri pun masih tak menyangka bahwa orang yang sempat ia pikir menolongnya justru beberapa kali meminta sejumlah uang sampai Rp15 juta.
"Kemudian dia bilang 'Aku tahunya kau anak orang kaya. Motormu yang Rp40 juta. Barang-barangmu kayak gitu (mahal). Kau pinjamkanlah sama Abang Rp15 juta. Gampang aja. Satu hari ini pun bisa dapat Abang itu Tabletmu'. Saya berkali-kali jawab tidak ada uang. Lalu akhirnya saya kembali buat laporan polisi lagi, laporan lanjutan. Karena sebelumnya saya sudah buat laporan percobaan pembegalan," sebut Farhan.
3. Drama berlanjut, Polisi Militer sampai turun tangan melindungi mahasiswa USU

Drama tak berhenti sampai di situ, seorang pekerja gadai tiba-tiba menelepon Farhan. Ia mengaku mendapat nomornya dari anggota TNI tersebut. Pekerja gadai yang mengaku bernama Riko itu meminta Farhan menebus tabletnya dan mengajak COD (Cash on Delivery).
"Karena saya posisinya berada di kantor polisi sedang buat laporan, ya sudah langsung aja kami ajak polisinya nyoba nangkap. Kami ajak ketemuan di Citra Garden. Polisi juga sudah standby. Namun akhirnya tidak bertemu dengan pekerja gadai ini meskipun berjam-jam kami menunggu. Akhirnya kami pulang," ungkap mahasiswa semester akhir itu.
Di kos, Farhan berinisiatif melacak airpods dan tablet miliknya. Ia kaget bahwa airpods tersebut berada di lokasi yang tak ia lewati. Bahkan setelah ia datangi, airpods tersebut berada di dalam tanah.
Tak sampai di situ, melalui aplikasi bawaan Huawei, ia mencoba melacak tablet miliknya. Betapa terkejutnya ia saat melihat lokasi terakhir aktif di dekat markas TNI kemudian berpindah ke Pasar Millenium.
"Kami langsung ke Pasar Millenium. Di sana kami pastikanlah sama pekerja toko elektronik menanyakan ada gak yang mengantar tablet itu. 'Oh iya, Bang, aku lihat tadi nih, memang ke sini mau jual, tanya-tanya sama semua orang. Cuma nggak bisa, kami tolak semua (karena tak lengkap suratnya)’. Kami mintalah bukti CCTV juga. Ternyata benar, yang datang itu diduga anggota TNI ini," beber Farhan.
Berbekal bukti tersebut, Farhan juga turut melaporkan kasus ini ke Polisi Militer. Ia menceritakan dari awal kasus ini berjalan. Hingga akhirnya anggota TNI yang dilaporkan dipanggil.
"Bapak PM membantu kami. Dia telepon langsung si tentara ini. Nggak berapa lama datang dia. Dia bawa tablet saya. Namun dia ngakunya habis menebus tablet saya dari Milenium. Sementara kami sudah wawancara semua orang di sana, malah dia lah yang mau jual tablet saya. Terekam CCTV juga. Di PM pada akhirnya saya memutuskan untuk damai dan tablet saya dikembalikan," jelasnya.
Farhan mengaku trauma atas kejadian yang dialaminya. Mulai dari percobaan pembegalan, pencurian, sampai membawa kasus ini ke Polisi Militer dan pihak kepolisian. Bahkan, Polisi Militer berbaik hati sempat menjaganya di warung takut jika terjadi sesuatu dengan Farhan.
"Saya berharap kasus ini tak terulang lagi. Dan pelaku yang sempat mencoba membegal saya segera ditangkap," pungkas Farhan.

















