Bertemu Dubes Australia, Bobby Paparkan Kekuatan Ekonomi Sumut

- Bobby Nasution mempromosikan Sumatera Utara sebagai pintu gerbang Indonesia barat dengan posisi strategis di Selat Malaka yang membuka peluang investasi dan kerja sama internasional.
- Pertumbuhan ekonomi Sumut mencapai 4,53 persen pada 2025, ditopang sektor pertanian dan perkebunan kelapa sawit yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah serta berkontribusi nasional.
- Pemerintah daerah mendorong hilirisasi kelapa sawit agar produk diolah dalam negeri, meningkatkan nilai tambah dan memperluas dampak ekonomi ke industri pengolahan lokal.
Medan, IDN Times - Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution mempromosikan potensi daerahnya sebagai pintu gerbang Indonesia bagian barat saat menerima kunjungan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, di Kantor Gubernur Sumut, Medan, Selasa (12/5/2026).
1. Posisi strategis Selat Malaka jadi daya tarik utama

Dalam pertemuan tersebut, Bobby menekankan letak geografis Sumatera Utara yang berada di jalur perdagangan internasional Selat Malaka. Posisi ini dinilai menjadi keunggulan utama dalam membuka peluang investasi dan kerja sama global.
“Sumatera Utara memiliki posisi geografis yang strategis sebagai pintu gerbang Indonesia bagian barat melalui Selat Malaka. Kondisi ini membuka banyak peluang investasi, perdagangan, dan kerja sama internasional, termasuk dengan Australia,” ujar Bobby.
Dengan posisi tersebut, Sumut diproyeksikan tidak hanya sebagai jalur transit, tetapi juga sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan barat Indonesia.
2. Pertumbuhan ekonomi dan sektor unggulan jadi modal

Selain aspek geografis, Bobby juga memaparkan capaian ekonomi Sumut yang tumbuh 4,53 persen pada 2025. Ia menyebut pertumbuhan tersebut ditopang oleh sejumlah sektor strategis yang terus diperkuat.
Sektor pertanian dan perkebunan, terutama kelapa sawit, menjadi salah satu tulang punggung ekonomi daerah. Komoditas ini tidak hanya berkontribusi bagi Sumut, tetapi juga memiliki peran penting dalam perekonomian nasional.
3. Hilirisasi sawit didorong untuk tingkatkan nilai tambah

Bobby menegaskan dukungan terhadap kebijakan hilirisasi yang dicanangkan pemerintah pusat, khususnya di sektor kelapa sawit. Menurutnya, langkah ini penting untuk meningkatkan nilai tambah produk di dalam negeri.
“Pemerintah pusat telah menetapkan kebijakan hilirisasi kelapa sawit. Produk CPO tidak hanya diekspor, tetapi juga harus diolah dan dimanfaatkan di dalam negeri agar memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan daerah,” kata Bobby.
Melalui kebijakan tersebut, pemerintah daerah berharap investasi tidak hanya berhenti pada sektor hulu, tetapi juga berkembang ke industri pengolahan yang berdampak langsung pada ekonomi lokal.


















