RS Royal Prima Disebut Tolak Pasien Tunanetra, Ini Kronologinya

- Seorang pasien tunanetra bernama Maya Sari datang ke RS Royal Prima Medan dengan kondisi lemah dan membawa rujukan rawat inap dari puskesmas, namun tidak mendapat perawatan lanjutan.
- Keluarga pasien menilai pelayanan rumah sakit tidak profesional karena dokter menyatakan kondisi stabil, menyarankan rawat jalan, dan meminta pasien pulang meski masih lemah.
- Pihak RS Royal Prima membantah tuduhan penolakan pasien, menegaskan pelayanan sudah sesuai prosedur medis dan keputusan rawat jalan diambil karena tidak ada indikasi medis untuk rawat inap.
Medan, IDN Times - Seorang pasien tunanetra peserta BPJS Kesehatan di Medan mengaku tidak mendapatkan layanan rawat inap meski kondisinya lemah dan telah mengantongi rujukan dari puskesmas. Keluarga pasien mempertanyakan standar pelayanan rumah sakit setelah pasien justru diminta pulang.
"Ibu saya juga sebelumnya mengalami muntah-muntah sebanyak dua kali dan tidak mampu lagi menelan makanan di rumah, karena itu dibawa ke rumah sakit," ujar anak pasien, Eriyadi Hidayat kepada awak media, Selasa (13/5/2026).
1. Datang dengan kondisi lemah, sudah bawa rujukan

Peristiwa ini dialami Maya Sari (63), seorang pasien tunanetra yang datang ke Rumah Sakit Royal Prima, Medan, pada Kamis (7/5/2026) malam. Ia dibawa keluarga sekitar pukul 21.15 WIB dalam kondisi lemas, tidak mampu berdiri, serta mengeluhkan nyeri di ulu hati, dehidrasi, dan sesak napas.
Sebelumnya, Maya telah mendapat rujukan dari Puskesmas Medan Polonia untuk menjalani rawat inap. Keluarga juga menyampaikan kepada petugas medis bahwa pasien memiliki riwayat penyakit paru-paru, termasuk pernah dirawat di ICU akibat pneumonia pada 2021.
2. Dokter sebut kondisi stabil, pasien diminta rawat jalan

Menurut Eriyadi, setelah sempat mendapatkan penanganan awal, dokter jaga menyatakan kondisi ibunya stabil. Maya kemudian disuntik obat dan disarankan untuk menjalani rawat jalan di rumah.
"Namun dokter yang bertugas saat itu dengan tegas menyatakan tidak perlu diinfus dan menyuruh kami pulang saja untuk rawat jalan," ujar Eriyadi.
Padahal, setelah tindakan tersebut, kondisi Maya masih lemah dan terus mengeluhkan sakit, sehingga keluarga sempat meminta agar pasien dirawat inap.
Merasa tidak mendapatkan penanganan yang sesuai, keluarga akhirnya memutuskan membawa Maya ke rumah sakit lain untuk mendapatkan perawatan lanjutan. Mereka mengaku kecewa dengan pelayanan yang dinilai tidak profesional.
"Kami ingin penjelasan, apakah standar pelayanan di sana seperti itu? Kami hanya minta hak kami sebagai pasien untuk diperiksa dan dirawat dengan benar sesuai kondisinya," ujar Eriyadi.
3. Royal Prima membantah, pelayanan sudah dilakukan sesuai prosedur

RS Royal Prima Medan membantah pernyataan keluarga. Kepala Humas RS Royal Prima Medan Devi Marlin menyebut, pihaknya sudah melakukan pelayanan dengan baik. Pasien, kata Devi sempat dirawat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Royal Prima.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, kondisi pasien tidak memiliki indikasi medis untuk rawat inap dan dinyatakan dapat menjalani pengobatan rawat jalan,” kata Devi dalam keterangan resmi, Jumat (15/5/2026).
Namun,saat itu pihak keluarga tetap meminta agar pasien dirawat inap. Alasannya, tidak ada orang yang bisa mengurus pasien di rumahnya.
“Perlu kami tegaskan bahwa rumah sakit adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang memberikan perawatan berdasarkan indikasi medis, bukan tempat penitipan bagi seseorang karena alasan sosial atau keluarga,” pungkasnya.


















