Ilustrasi nelayan. (Dok: Konservasi Indonesia)
Dorongan pemerintah Sumut bukan tanpa alasan. Bupati Nias Selatan Sokhiatulö Laia memaparkan ironi di wilayahnya. Potensi laut Nias Selatan sangat melimpah, mulai dari ikan, kerang, ratusan ribu bibit lobster, hingga 53 titik ombak untuk pariwisata.
Nahasnya, harta karun maritim itu tak bisa digarap maksimal akibat miskinnya infrastruktur dan alat tangkap. Sokhiatulö menyebut, mayoritas dari 7.116 nelayan di wilayah Teluk hingga kini masih bertarung di lautan hanya bermodalkan sampan dayung.
Akses pasar juga lumpuh. Ia mencontohkan nestapa petani rumput laut pada bulan lalu. Sebanyak 60 ton rumput laut terpaksa dibiarkan tak dipanen dan membusuk di perairan karena tak ada pembeli yang menampung.
Mendengar peliknya masalah tersebut, Bobby menyoroti pentingnya peta jalan yang terukur, khususnya untuk kawasan kepulauan terluar seperti Pulau Telo. DKP dan Pemkab Nias Selatan ditugaskan mendata ulang kebutuhan paling mendasar, mulai dari listrik, air bersih, alat tangkap, hingga akses pasar.
Ia tak ingin program Kampung Nelayan Merah Putih garapan Presiden di Telukdalam dan Pulau Telo hanya sebatas bangunan fisik mati tanpa denyut ekonomi lanjutan. Program penyangga wajib disiapkan.
Menjawab desakan warga agar ia turun langsung ke Pulau Telo, Bobby menyanggupinya dengan satu syarat ketat, semua data dan rancangan program harus matang lebih dulu.
"Saya ke sana programnya harus jelas dulu. Supaya pas saya datang, kita tidak hanya bawa janji, tapi membawa program dan solusi nyata untuk nelayan," pungkasnya.