Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Womandocumentary Ruang Baru Dokumentasi Budaya dari Dalam Keluarga
Peserta program Jembatan Waktu: Ekspresi Budaya Lintas Generasi dalam Keluarga melakukan proses produksi video dokumenter (Dok. Tim Workshop video dokumenter jurnalistik)
  • Womandocumentary menghadirkan program Jembatan Waktu untuk memberi ruang bagi remaja perempuan mengekspresikan budaya keluarga melalui video dokumenter inklusif.
  • Sebanyak 20 peserta, terdiri dari teman tuli dan teman dengar, mengikuti pelatihan hingga menghasilkan karya yang menggambarkan dinamika budaya lintas generasi dalam keluarga.
  • Program ini membuka dialog antar generasi sekaligus memperkuat peran perempuan dan penyandang disabilitas sebagai pencipta narasi budaya melalui pendekatan partisipatif dan kolaboratif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
beberapa waktu lalu

Workshop program Jembatan Waktu digelar oleh komunitas Womandocumentary, melibatkan 20 peserta terdiri dari teman tuli dan teman dengar. Peserta mengikuti pelatihan video dokumenter berbasis inklusi.

sekitar satu bulan

Proses produksi karya berlangsung selama sekitar satu bulan dan menghasilkan sejumlah video yang mengangkat dinamika budaya keluarga. Kolaborasi antara peserta tuli dan dengar berjalan dengan dukungan juru bahasa isyarat serta metode pelatihan adaptif.

kini

Program memasuki tahap produksi karya dan menargetkan pembentukan komunitas dokumenter perempuan inklusif berkelanjutan. Karya-karya yang dihasilkan akan dikurasi sebelum diputar dalam forum publik.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Komunitas Womandocumentary mengadakan program “Jembatan Waktu: Ekspresi Budaya Lintas Generasi dalam Keluarga” untuk mendorong remaja perempuan mengekspresikan budaya keluarga melalui karya video dokumenter inklusif.
  • Who?
    Kegiatan ini melibatkan 20 peserta, terdiri dari 10 teman tuli dan 10 teman dengar, dipandu oleh Founder Womandocumentary Fadilla serta didukung Khadijah Sharaswaty Indonesia dan Dewi Natadiningrat.
  • Where?
    Kegiatan berlangsung di Medan dengan pelaksanaan workshop dan produksi video yang dilakukan dalam ruang komunitas Womandocumentary.
  • When?
    Workshop digelar beberapa waktu lalu dan kini telah memasuki tahap produksi karya yang berlangsung sekitar satu bulan.
  • Why?
    Program ini lahir dari keinginan membuka ruang bagi perempuan muda dan penyandang disabilitas agar dapat berperan aktif dalam pelestarian budaya keluarga yang selama ini jarang terdokumentasi.
  • How?
    Kegiatan dilakukan melalui pelatihan video dokumenter berbasis inklusi dengan pendekatan partisipatif, penggunaan juru bahasa isyarat, serta metode adaptif agar seluruh peserta dapat berkolaborasi secara setara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada kakak-kakak dari komunitas Womandocumentary yang bikin tempat seru buat remaja perempuan belajar bikin video tentang budaya di keluarganya. Ada 20 orang ikut, ada teman tuli dan teman dengar juga. Mereka belajar bareng, pakai bahasa isyarat supaya semua bisa paham. Sekarang mereka lagi bikin video tentang cerita keluarga dan tradisi lama biar gak hilang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Program Womandocumentary menghadirkan semangat baru bagi remaja perempuan dan penyandang disabilitas untuk mengekspresikan budaya keluarga melalui karya visual yang inklusif. Dengan pelatihan adaptif dan kolaborasi antara teman tuli dan teman dengar, kegiatan ini tidak hanya menghasilkan dokumenter, tetapi juga memperkuat dialog lintas generasi serta menumbuhkan rasa percaya diri peserta sebagai pencipta narasi budaya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Komunitas Womandocumentary menghadirkan ruang baru bagi remaja perempuan untuk bersuara melalui karya visual. Lewat program Jembatan Waktu: Ekspresi Budaya Lintas Generasi dalam Keluarga, mereka mendorong lahirnya narasi budaya dari dalam keluarga yang selama ini jarang terdokumentasi.

Workshop yang digelar beberapa waktu lalu melibatkan 20 peserta, terdiri dari 10 teman tuli dan 10 teman dengar. Para peserta mengikuti pelatihan video dokumenter berbasis inklusi hingga kini memasuki tahap produksi karya.

Program ini tidak sekadar pelatihan teknis. Ia lahir dari kegelisahan atas minimnya ruang bagi perempuan terutama perempuan muda dan penyandang disabilitas dalam dunia produksi media dokumenter yang masih didominasi laki-laki.

Selain itu, kesenjangan generasi dalam keluarga juga menjadi latar belakang kuat dibentuknya komunitas ini.

1. Ruang alternatif bagi perempuan untuk tidak hanya menjadi penonton budaya, tetapi juga pencipta narasi

Peserta program Jembatan Waktu: Ekspresi Budaya Lintas Generasi dalam Keluarga melakukan proses produksi video dokumenter (Dok. Tim Workshop video dokumenter jurnalistik)

Founder Womandocumentary Fadilla menyampaikan, komunitas ini dibentuk sebagai ruang alternatif bagi perempuan untuk tidak hanya menjadi penonton budaya, tetapi juga pencipta narasi.

“Selama ini, suara perempuan dalam cerita budaya keluarga masih sangat minim. Kami ingin mereka punya ruang untuk merekam, memahami, dan menyampaikan ulang pengalaman budayanya sendiri,” ujarnya.

Melalui pendekatan video jurnalistik partisipatif, peserta diajak mengeksplorasi hubungan lintas generasi dalam keluarga mulai dari nilai, tradisi, hingga cara pandang hidup lalu menerjemahkannya dalam bentuk video dokumenter pendek.

2. Hasilkan sejumlah karya yang mengangkat dinamika budaya keluarga

Peserta program Jembatan Waktu: Ekspresi Budaya Lintas Generasi dalam Keluarga melakukan proses produksi video dokumenter (Dok. Tim Workshop video dokumenter jurnalistik)

Proses produksi yang berlangsung sekitar satu bulan ini menghasilkan sejumlah karya, yang mengangkat dinamika budaya keluarga. Meski menghadapi tantangan komunikasi antara teman tuli dan teman dengar, kolaborasi tetap berjalan.

Pendekatan inklusif yang digunakan, termasuk penggunaan juru bahasa isyarat dan metode pelatihan adaptif, memungkinkan seluruh peserta terlibat aktif dalam setiap tahapan produksi.

Tak hanya menghasilkan karya, program ini juga menargetkan dampak jangka panjang. Womandocumentary mendorong terbentuknya komunitas dokumenter perempuan inklusif sebagai ruang berkelanjutan bagi para peserta untuk terus berkarya dan berjejaring.

“Ke depan, karya-karya yang telah dihasilkan akan melalui tahap kurasi sebelum diputar dalam forum publik yang melibatkan keluarga peserta, komunitas budaya, hingga pemangku kebijakan,” jelasnya.

3. Tidak hanya menciptakan karya visual, tetapi juga membuka ruang dialog lintas generasi dalam keluarga

Peserta program Jembatan Waktu: Ekspresi Budaya Lintas Generasi dalam Keluarga melakukan proses produksi video dokumenter (Dok. Tim Workshop video dokumenter jurnalistik)

Melalui program ini, Womandocumentary tidak hanya menciptakan karya visual, tetapi juga membuka ruang dialog lintas generasi dalam keluarga sekaligus memperkuat peran perempuan sebagai pelaku aktif dalam pelestarian budaya.

“Keresahan mereka terhadap kebiasaan yang muncul ditengah keluarga dituangkan dalam bentuk visual. Selain menuangkan isi pikiran disisi lain para peserta juga terlihat sangat antusias dalam belajar memproduksi video,” ungkapnya.

Founder Khadijah Sharaswaty Indonesia, Dewi Natadiningrat, yang turut terlibat dalam program Jembatan Waktu: Ekspresi Budaya Lintas Generasi dalam Keluarga, menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.

Ia menilai, antusiasme peserta difabel, khususnya teman tuli, sangat tinggi dalam mengikuti proses pelatihan hingga produksi video.

“Ini pengalaman pertama bagi mereka. Belajarnya bersama dengan teman dengar, mendapat ilmu baru dalam memproduksi video, dan mereka sangat antusias. Kami berterima kasih kepada tim yang sudah melibatkan teman-teman difabel dalam kegiatan kreatif ini,” ujarnya.

Editorial Team