Obor, Takbir dan Semangat Gen Z Penjaga Tradisi yang Nyaris Punah

- Masjid Nurul Iman di Medan rutin menggelar pawai obor setiap Idul Adha, melibatkan lebih dari 200 anak untuk menjaga tradisi yang sudah ada sejak 1990-an.
- Remaja Masjid Nurul Iman menjadi motor penggerak kegiatan, menjadikan masjid sebagai ruang ramah anak dan pemuda serta sarana mempererat silaturahmi masyarakat sekitar.
- Ketua Remaja Masjid menegaskan pentingnya kaderisasi agar tradisi pawai obor tetap hidup dan remaja terus aktif dalam kegiatan positif keagamaan maupun sosial.
Lepas salat Isya berjamaah, gema takbir kembali dikumandangkan, Selasa (27/5/2026). Menandai takbiran malam perayaan Idul Adha 1447 Hijriyah yang jatuh pada keesokan harinya.
Masjid Nurul Iman di Kelurahan Kedai Durian, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan dipadati anak-anak. Mereka menunggu tradisi setiap tahunnya menjelang Hari Raya.
Pawai Obor. Tradisi yang kini sudah langka, namun tetap hidup di Masjid Nurul Iman. Masjid yang lokasinya berbatasan langsung dengan Kecamatan Delitua, Kabupaten Deli Serdang ini tidak pernah absen menggelar pawai obor. Wajar jika ada lebih dari 200 anak begitu antusias.
Penjaga tradisi itu tidak lepas dari Remaja Masjid Nurul Iman yang aktif menggelar kegiatan. Membuat citra masjid menjadi ramah anak dan pemuda.
Sejak petang mereka sudah sibuk di masjid. Menyiapkan berbagai kebutuhan. Obor hingga paket makanan ringan yang akan dibagikan kepada anak-anak peserta pawai.
Tradisi yang dijaga sejak 90-an

Eka Pebrianto Saputra, yang pernah menjadi Ketua Remaja Masjid Nurul Iman, menjadi penggawa penabuh beduk yang sudah berada di atas pikap. Anak-anak langsung menggemakan takbir, dipandu oleh anggota remaja masjid dari pengeras suara.
Obor secara estafet dinyalakan. Sambil membawa obor, anak-anak berpawai keliling di beberapa jalan di sekitar masjid. Mereka begitu antusias.
Orang tua pun ikut antusias. Beberapa langsung mengabadikan momen itu dengan kamera gawai.
Zidan Syahira, Ketua Remaja Masjid Nurul Iman bilang, tradisi pawai obor bermula dari kebiasaan masyarakat memasang obor di depan rumah di era dasawarsa ke sepuluh, Milenium kedua atau 1990-an. Pemasangan obor bertujuan untuk menyemarakkan perayaan.
“Karena saat itu penduduknya belum begitu ramai. Setelah tahun 2000, barulah mulai diadakan pawai obor. Melibatkan semua kalangan, khususnya anak-anak,” katanya.
Jadi media silaturahmi

Zidan mengatakan, mereka tetap mempertahankan tradisi ini agar tidak punah. Karena bagi masyarakat di sekitar masjid, kegiatan itu berdampak positif.
Laki-laki 23 tahun itu bilang, pawai obor membuat Hari Raya menjadi lebih semarak. Pawai ini juga yang membuat citra masjid menjadi baik. Masjid menjadi rumah bersama untuk menggelar berbagai kegiatan.
“Dari pawai obor ini kita ingin terus mempererat silaturahmi dan kekompakan masyarakat. Tidak hanya orang tua, kita ingin masjid menjadi rumah bagi berbagai kalangan usia,” katanya.
Remaja Masjid Nurul Iman memang dikenal memiliki banyak kegiatan. Sebut saja pada bahala yang melanda Aceh dan Sumatra Utara pada November 2026 lalu. Mereka terlibat aktif dalam kegiatan kesukarelawanan. Baik di Sumatra Utara maupun di Aceh. Bahkan, bersama sejumlah lembaga lainnya, mereka menginisiasi Sekolah Rakyat di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh.
“Selam ini kita selalu mendapat dukungan dari Badan Kemakmuran Masjid (BKM) untuk menggelar berbagai kegiatan positif. Remaja masjid ini jadi ruang anak muda untuk berkreasi,” kata pemuda yang juga aktif dalam kegiatan luar ruang itu.
Jaga kaderisasi agar tradisi tetap eksis

Lepas berkeliling kampung, pawai obor kembali ke masjid. Di sana, anak-anak kembali berkumpul. Sejumlah panitia langsung bergegas. Membagikan paket makanan ringan kepada anak-anak yang ikut pawai.
Jelang pukul 23.00 WIB, anak-anak bubar dari masjid. Tidak dengan para remaja masjid. Mereka masih punya PR (pekerjaan rumah).
Zidan dengan anggotanya langsung bergegas menyiapkan kebutuhan untuk Salat Ied pagi hari. Sebagian dari mereka juga menyiapkan kebutuhan panitia kurban. Mereka baru bisa kembali ke rumah, usai Salat Subuh.
“Insha Allah semua bisa dapat dampak positif dari kegiatan-kegiatan di masjid,” imbuhnya.
Kata Zidan, Masjid Nurul Iman punya komitmen untuk mempertahankan tradisi pawai obor yang kian langka. Dia tidak ingin, langkanya pawai obor sama dengan kelangkaan remaja masjid yang aktif berkegiatan. Karena bagi dia, remaja masjid menjadi tempat untuk menempa diri. Membuat kalangan remaja memahami ilmu agama. Sehingga terhindar dari kegiatan negatif.
Zidan melihat, saat ini remaja kian jauh dari agamanya sendiri. Tak pelak, banyak yang terjerumus pada hal-hal terlarang seperti narkoba dan kriminalitas lainnya.
“Kaderisasi di Nurul Iman akan terus dilakukan. Sehingga ada regenerasi remaja masjid. Kita ingin, tradisi – tradisi ini tetap hidup, jangan sampai punah,” pungkasnya.


















