Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sebanyak 270 Siswa Ikuti MPLS di Gedung Sekolah Rakyat yang Baru

Sebanyak 270 Siswa Ikuti MPLS di Gedung Sekolah Rakyat yang Baru
Bangunan baru Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Sebanyak 270 siswa mengikuti MPLS di gedung baru Sekolah Rakyat Medan dengan fasilitas modern, ramah anak, dan inklusif seluas 6,1 hektare di Jalan Flamboyan II, Medan Tuntungan.
  • Kepala sekolah menegaskan tema MPLS tahun ini berfokus pada karakter dan lingkungan belajar aman tanpa bullying, meski masih menghadapi kendala kekurangan tenaga keamanan serta kebersihan.
  • Sekolah Rakyat dibangun sesuai standar unggulan nasional dengan asrama dan pengawasan 24 jam, namun sebagian orang tua masih enggan melepas anaknya karena aturan tanpa ponsel pribadi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Medan, IDN Times – Sebanyak 270 siswa dari Sekolah Rakyat tengah menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dilokasi yang baru atau gedung baru yang berada di Jalan Flamboyan II, Kelurahan Tanjung Selamat, Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan.

Dari pantauan IDN Times dilokasi, bangunan yang bertuliskan Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Medan ini cukup luas dengan luas lahan 6.1 hektar dan beragam fasilitas, seperti masjid, gedung serba guna, asrama, hingga lapangan olahraga. Para anak tampak duduk ramai sedang diberi arahan dari kepala sekolah, guru, wali asuh dan wali asrama.

1. Usung tema MPLS ramah anak dan inklusif

IMG_20260717_113749.jpg
Anak-anak yang sedang MPLS di Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Kepala Sekolah SRMP 2 Medan, Maragoti Siregar, menyebutkan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah tahun ini mengusung tema "Menjadi Rumah Belajar yang Ramah, Menguatkan Karakter, Menumbuhkan Mimpi dan Menginspirasi Prestasi".

Menurutnya, SRMP 2 Medan merupakan sekolah rakyat permanen. Dibanding lokasi sebelumnya di Sentra Bahagia Medan dua tahun lalu, luas bangunan saat ini hampir 6 kali lipat.

"Salah satu perbedaan yang paling mendasar adalah di bangunan. Kalau saya pribadi ini sudah seperti sekelas untuk perguruan tinggi atau akademi," ucapnya.

Fasilitas yang tersedia antara lain lapangan minisocer, lapangan upacara, lapangan basket, serta infrastruktur modern dengan sistem keamanan berbasis teknologi cerdas atau smart building.

"Tidak ada kabel-kabel listrik yang semrawut. Terus ada jalur anak-anak berkebutuhan khusus, kamar mandi juga difasilitasi untuk difabel. Jadi, ini memang betul-betul sekolah ramah anak yang inklusi dan super modern," jelas Maragoti.

Keamanan gedung juga menjadi perhatian. Seluruh ruangan dilengkapi sprinkler dan smoke detector. Setiap gedung memiliki hidran dan alat pemadam api ringan di tiap ruangan. Selain itu, tersedia septic tank dengan mesin komposter.

Maragoti berharap orang tua memberikan doa terbaik agar anak-anak betah. "Kami memahami tidak mudah berpisah dengan anak. Tetapi yakinlah, anak-anak murid kami semua. Mereka di sini akan kami bina dan didik dengan penuh kasih sayang," katanya.

Ia juga mengutip pesan Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul yang berulang kali mengingatkan agar anak tidak mengalami bullying, kekerasan fisik, dan seksual. "Karena itu Gus Ipul mengingatkan akan diberikan hukuman bagi siapa yang melanggar peraturan tersebut," tegasnya.

Tantangan yang masih dihadapi adalah kurangnya tenaga keamanan dan kebersihan mengingat luasnya lahan sekolah. Adapun sarana lain yang sudah lengkap meliputi ruang UKS dan ruang OSIS.

"Dengan fasilitas yang sudah sangat baik, diharapkan semakin meningkatkan kualitas pembelajaran dan semakin memotivasi murid," ujarnya. Ia juga meminta orang tua berperan memberikan motivasi dan penguatan kepada siswa.

2. Sebagian siswa SRMP yang belum registrasi karena ada yang sakit

IMG_20260715_120547.jpg
Suasana bangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Sebelumnya, Sekolah Rakyat Menengah Pertama 2 Medan (SRMP 2 Medan) resmi menerima 87 siswa baru pada tahun ajaran ini. Jumlah tersebut hampir memenuhi kuota 90 siswa yang diarahkan Kementerian Sosial (Kemensos).

Dia mengatakan proses registrasi masih berjalan untuk 3 siswa lainnya.

"Sesuai dengan arahan Kemensos untuk tahun ini di tingkat SMP di Sekolah Rakyat Terintegrasi SRMP 2 Medan kita menerima 90 murid. Alhamdulillah, sampai hari ini sudah 87 murid yang sudah teregister," ujar Maragoti di Medan, Rabu.

Ia menjelaskan keterlambatan registrasi 3 siswa disebabkan beberapa kendala. "Sudah kita sampaikan ke pendamping karena ini adalah mereka yang menjangkau. Hasilnya ada yang sedang sakit dan masih ada yang di luar kota," katanya.

3. Kendala utama masih pada orang tua yang sulit melepas anaknya

IMG_20260715_114658.jpg
Seorang anak yang sedang bersama dengan Kepala Sekolah SRD (IDN Times/Indah Permata Sari)

Sementara itu, Kepala Sekolah Sekolah Rakyat Menengah Atas dan Sekolah Rakyat Dasar, Syahripal Putra, menyampaikan gedung sekolah rakyat dibangun sesuai standar sekolah unggulan sesuai arahan Presiden Prabowo.

"Untuk gedung sekolah rakyat ini merupakan gedung sekolah yang sudah standar sekolah unggulan karena fasilitas yang dibangun oleh pemerintah. Presiden Pak Prabowo bahwa sekolah rakyat itu harus mengacu kepada standar sekolah unggulan agar anak-anak yang selama ini belum bisa mengenyam pendidikan layak bagi mereka," kata Syahripal.

Sekolah Rakyat Dasar memiliki lahan kurang lebih 6 hektare dengan fasilitas asrama, pengawasan 24 jam, masjid berkapasitas 1.000 jemaah, gedung serba guna, pusat kontrol, serta septic tank canggih. Seluruh area dipantau CCTV dan dapat dipantau dari pusat kontrol.

"Anak-anak juga mendapatkan fasilitas lapangan voli, badminton, dan basket hingga minisocer berumput standar FIFA. Makanan diterima anak-anak 3 kali sehari beserta makanan ringan 2 kali sehari," katanya.

Untuk kuota, SRD awalnya menargetkan 90 siswa SD. Namun, banyak orang tua yang belum bersedia melepas anaknya. Sementara SRMA awalnya 90 siswa, namun karena minat tinggi dan kuota SD tidak terpenuhi, maka dialihkan sehingga total SRMA menjadi 120 siswa.

Kendala utama masih pada orang tua yang sulit melepas anaknya. Pihak sekolah tidak memberikan akses ponsel pribadi kepada anak. Namun, orang tua diperbolehkan memantau melalui wali asuh.

"Kami minta agar anak-anak bisa ada ikatan batin kepada wali asuh, wali asrama, dan guru di sini. Kami harapkan orang tua bisa mengatur rindunya. Nanti kita akan buat jadwal kunjungan pada hari Minggu," ujarnya.

Syahripal menitipkan pesan kepada orang tua, agar tetap mempercayakan anak mereka kepada sekolah rakyat untuk membentuk karakter yang lebih baik.

"Percayakanlah anak-anak Bapak Ibu kepada kami. Insyaallah kami akan membawa DNA mengantarkan anak-anak pada Bapak Ibu sebagai orang yang sukses, bagian dari keluarga Bapak Ibu yang akan memutus rantai kemiskinan. Mudah-mudahan dari sini anak-anak kita akan lahir calon pemimpin-pemimpin bangsa," pungkasnya.

Share Article
Editorial Team

Latest News Sumatera Utara

See More