Diskusi Stop Bawang Ilegal, Petani Karo Tuntut Aksi Nyata Pemerintah

- Petani bawang merah Karo mengeluhkan harga jual anjlok dan maraknya bawang ilegal yang merugikan kesejahteraan mereka.
- Mahasiswa dan akademisi mendorong pemerintah menindak tegas masuknya bawang ilegal serta menunjukkan keberpihakan nyata pada petani.
- Peserta diskusi berharap pemerintah segera ambil tindakan konkret menghentikan peredaran bawang ilegal demi melindungi dan menyejahterakan petani.
Medan, IDN Times – Keluhan petani bawang merah Tanah Karo soal harga anjlok dan maraknya bawang ilegal diangkat dalam diskusi publik bertema “Stop Bawang Merah Ilegal” dengan subtema Impor Ilegal Bawang Merah: Swasembada antara Eutopia atau Realita? yang digelar Selasa (26/5/2026).
Diskusi ini menghadirkan Ir. Jonni Akim Purba selaku Sekretaris Dinas Ketenagakerjaan Pemprov Sumut dan Ir. Yusak Maryunianta, dosen Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian USU, sebagai pemateri. Pertemuan menjadi wadah bagi petani, mahasiswa, dan akademisi menyuarakan langsung persoalan di lapangan.
Petani bawang merah asal Karo, Rosimah br Tarigan, menyebut harga jual di tingkat petani saat ini sangat merugikan.
“Keresahan kami sebagai petani. Pertama-tama kami sangat resah karena harga jual dari petani itu sangat-sangat anjlok. Itu bisa merusak kesejahteraan kami sebagai petani,” ujarnya.
1. Petani soroti hama dan penyakit tanpa solusi obat

Selain harga, Rosimah menyoroti hama dan penyakit yang semakin menjadi tanpa solusi obat yang memadai. Ia meminta pemerintah segera menindak peredaran bawang ilegal agar petani bisa bertani dengan tenang.
“Harapan kami, semoga secepatnya pemerintah ambil tindakan atas peredaran bawang ilegal ini. Supaya kami bisa bertanam bawang dengan tenang, aman. Dan hasil panen kami bisa kami pasarkan sesuai dengan kualitas bawang yang kami tanam,” katanya.
Rosimah menegaskan petani sudah melakukan aksi damai dan mengikuti RDP, namun belum melihat keseriusan pemerintah. Ia berharap pemerintah menindaklanjuti pernyataan Menteri Pertanian untuk menindak tegas mafia bawang.
“Kami mau tindakan nyata. Seperti yang Bapak Mentan katakan, tangkap dan pencarakan. Itu yang kami tuntut, itu yang kami harapkan dan itu yang kami tunggu dari pemerintah,” tegasnya.
2. Mahasiswa dan Akademisi dorong solusi

Ketua BEM Fakultas Pertanian USU, Muhammad Haikal Ramadhan, mengatakan pihaknya bersama aliansi petani Sumut mendorong agar pihak terkait segera menindak masuknya bawang ilegal.
“Harapannya ini akan ditindaklanjuti oleh pihak terkait, pihak yang bertanggung jawab atas masuknya bawang ilegal ini ke Provinsi Sumatra Utara. Mengingat informasi ini sudah sampai ke Menteri Pertanian,” ujar Haikal.
Alumni Fakultas Pertanian USU, Kevin Tarigan, menilai keberpihakan kepada petani masih minim. Bersama BEM Se-Kota Medan, ia menginisiasi diskusi untuk mencari solusi atas persoalan yang sudah berlangsung tiga bulan.
“Di hari ini kami hanya membawakan perkumpulan dari masyarakat kita, masyarakat petani. Yang dimana sampai hari ini memang keberpihakan itu tidak ada terhadap petani,” kata Kevin.
3. Diharapkan pemerintah segera mengambil tindakan nyata untuk melindungi petani bawang merah

Ia menekankan pentingnya menghentikan bawang ilegal agar petani tidak tercekik dan bisa sejahtera. Para peserta berharap diskusi ini menjadi langkah awal agar pemerintah segera mengambil tindakan nyata untuk melindungi petani bawang merah di Sumatra Utara.
“Harapannya supaya petani kita ini tetap sejahtera. Supaya petani kita ini tidak tercekik lehernya. Maka dari itu kita harus stop bawang ilegal itu. Selamatkan petani kita dan sejahterakan petani,” pungkasnya.


















