Vihara Maitreya Medan, Perpaduan Ibadah dan Arsitektur Oriental

- Vihara Cemara Asri di Medan memiliki luas 4,5 hektare dengan ornamen khas Tiongkok dan mampu menampung ribuan orang.
- Patung 12 Shio menyambut pengunjung, ada bangunan komersial, toko suvenir, kafe, restoran vegetarian, dan gedung serbaguna.
- Gedung ini terbagi dalam tiga balai dengan kapasitas berbeda-beda, dilengkapi Taman Avalokitesvara dan taman bermain anak.
Medan, IDN Times- Vihara Cemara Asri di Kabupaten Deli Serdang menjadi salah satu vihara terbesar di Indonesia. Tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah umat Buddha, vihara ini juga dikenal dengan taman cantiknya yang menjadi habitat ratusan burung bangau. Berlokasi di dalam kompleks Perumahan Cemara Asri, vihara ini kerap menjadi ruang religi sekaligus destinasi wisata spiritual dan budaya.
Pengurus Vihara Maitreya Medan, Dicky, menjelaskan bahwa vihara ini mulai dibangun sejak 1991 dan baru diresmikan pada 21 Agustus 2008. Proses pembangunan yang memakan waktu lebih dari satu dekade tersebut dilakukan secara bertahap dengan dukungan dana dari para donatur dan umat Buddha.
“Peletakan batu pertama dilakukan pada tahun 1991, sementara peresmiannya baru pada 2008. Jadi, kurang lebih dibutuhkan waktu sekitar 10 hingga belasan tahun untuk menyelesaikan pembangunan vihara ini. Karena memang seluruh dananya berasal dari donatur, umat vihara, dan umat Buddha,” jelas Dicky kepada IDN Times.
Sebagai salah satu vihara terbesar di Tanah Air, Vihara Maitreya Medan memiliki daya tarik tersendiri, terutama dari segi arsitektur dan konsep oriental yang kental di setiap sudut bangunannya.
1. Bangunan Vihara Cemara Asri seluas 4,5 hektare dengan ornamen khas Tiongkok

Dicky menyebutkan, Vihara Cemara Asri berdiri di atas lahan seluas sekitar 4,5 hektare dengan sentuhan ornamen khas Tiongkok yang menghiasi sejumlah bagiannya. Keunikan arsitektur tersebut membuat vihara ini tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi latar favorit untuk aktivitas fotografi.
Dengan kapasitas yang mampu menampung ribuan umat, vihara ini kerap dikunjungi wisatawan lokal, pengunjung dari berbagai daerah, hingga turis mancanegara. Para wisatawan diperbolehkan memasuki area vihara, dengan catatan tetap menjaga ketenangan, kesopanan, serta kebersihan lingkungan.
“Kalau kita lihat dari ornamen-ornamennya, nuansanya klasik dan sangat oriental. Bangunannya juga cukup besar, sehingga membutuhkan banyak tenaga, biaya, serta dukungan para sukarelawan. Vihara ini dibangun sebagai sarana bagi umat Buddha untuk bersilaturahmi, berkumpul, merayakan hari besar keagamaan, sekaligus kegiatan kebudayaan bersama. Itulah mengapa vihara ini dibangun dalam skala yang besar,” ujar Dicky.
Konsep Chinese Oriental menjadi benang merah dalam setiap detail arsitektur vihara. Ornamen-ornamen khas Tiongkok terlihat kuat, mulai dari desain interior hingga tata ruang kawasan yang tertata rapi.
“Konsep Chinese oriental ini menjadi ciri khas utama. Selain desain interiornya, lokasinya juga sangat strategis karena berada di dalam kompleks, sehingga suasananya lebih tenang dan sejuk,” tambahnya.
Tak heran, dengan skala, konsep, dan daya tariknya, Vihara Cemara Asri pernah dikenal sebagai salah satu vihara terbesar di Asia Tenggara, sekaligus menjadi ikon religi dan wisata budaya di kawasan tersebut.
2. Patung atau rupa yang di depan halaman yakni melambangkan 12 Shio akan menyambut pengunjung dan jemaat yang datang

Selain area ibadah, pengunjung yang datang ke vihara akan langsung disambut deretan patung di halaman depan yang melambangkan 12 Shio, menghadirkan kesan khas sejak langkah pertama memasuki kawasan vihara. Di area ini juga berdiri bangunan komersial yang diisi toko suvenir, kafe, hingga restoran vegetarian. Secara lebih rinci, lantai dua dan tiga bangunan tersebut difungsikan sebagai gedung serbaguna.
“Gedung yang berada di sebelah kanan ini memang kami khususkan untuk kegiatan komersial. Fungsinya sebagai penopang dana operasional vihara. Jadi, kami tidak hanya bergantung pada sumbangan para donatur, tetapi juga memiliki sumber pendanaan mandiri agar operasional vihara dapat berjalan setiap hari,” tuturnya.
Sementara itu, bangunan di sisi kiri digunakan sebagai perkantoran sekaligus mes bagi para pengabdi vihara. Di bagian depan kawasan juga berdiri patung penjaga yang dikenal sebagai Kirin atau Chilin, simbol yang umum dijumpai di vihara maupun kelenteng. Patung ini dipercaya sebagai penjaga rumah atau tempat ibadah dalam tradisi Buddha dan Konghucu.
Memasuki area dalam, pengunjung akan menjumpai patung Buddha Maitreya yang menjadi ikon utama vihara, selaras dengan nama vihara itu sendiri. Buddha Maitreya kerap dikenal sebagai Buddha tertawa atau Buddha berkah. Sosoknya yang digambarkan membawa emas atau koin, serta kantong di punggungnya, dimaknai sebagai simbol kebahagiaan, kemakmuran, dan keberuntungan. Karena itu, Buddha Maitreya juga sering disebut sebagai The Lucky Buddha, Buddha pembawa keberkahan.
Nuansa Oriental Chinese semakin kuat melalui deretan pilar berornamen naga yang berdiri megah di area vihara. Dalam budaya Tionghoa, naga dipandang sebagai makhluk mitologis yang suci, melambangkan kekuatan, perlindungan, dan kebijaksanaan.
3. Gedung ini mampu menampung kapasitas ribuan orang

Di bagian dalam, gedung ini terbagi dalam tiga balai dengan kapasitas yang berbeda-beda, di antaranya Baktisala umum dengan kapasitas 1.500 orang, Baktisala Maitreya yang berdaya tampung 2.500 orang, dan balai pertemuan berkapasitas 2.000 orang.
Untuk mempercantik lingkungan, ada Taman Avalokitesvara dan taman bermain anak. Selain itu, pengunjung juga bisa mampir ke toko suvenir untuk membeli pernak-pernik yang bisa menjadi kenang-kenangan.
Vihara yang berada di Kompleks Cemara Asri, Desa Samali, Percut Sei Tuan, ini sebenarnya masuk ke Kabupaten Deli Serdang. Cuma memang tak jauh dari Kota Medan. Lokasinya berada tepat di sebelah danau yang dikelilingi pepohonan dan pada sore hari biasanya menjadi tempat bercengkerama burung-burung bangau.
Pada sore hari, ratusan bangau menjadikan kerimbunan di sebelah vihara sebagai tempat singgah sebelum migrasi ke tempat lain.
Diketahui, Yang Arya Maha sesepuh Ong yang merupakan pimpinan tertinggi The World Maitreya Great Tao saat itu, meminta agar di Medan, Sumatera Utara didirikan sebuah Maha Vihara dengan daya tamping bakti puja 4.000 hingga 5.000 orang.
Berkat kewelasasihan Tuhan berpadu dengan kondisi sebab jodoh yang matang serta bantuan kemurahan hati Bapak Mujianto, maka terwujudlah cita-cita pembelian lahan tanah di Komplek Perumahan Cemara Asri. Peletakan batu pertama dilaksanakan pada 17 Januari 1999 yang dipimpin oleh Yang Arya Maha Sesepuh Ong dengan didampingi oleh Maha Sesepuh Gautama Hardjono. Saat itu dimeriahkan tim paduan suara akbar 1360 orang yang amat menggugah hati.
Pembangunan konstruksi awal Maha Vihara Maitreya berlangsung pada 5 Oktober 1999. Saat proses perampungan Maha Vihara berlangsung berbagai acara dan kegiatan telah diselenggarakan diantaranya : Kelas Penataran Dharma, kelas Keluarga Maitreyani, kelas Remaja dan Anak-anak, Peringatan Buddha-Bodhisatva, Waisak, Pemujaan Dewi bulan, Hari Ayah &Ibu, Kegiatan Sosial, Buffet Vegetarian dan sebagainya.
Maitreya yang tidak terhingga, serta dukungan penuh seluruh umat Buddha Maitreya berupa pengorbanan uang, materi dan semangat hingga akhirnya berhasil dirampungkan keseluruhan bangunan Maha Vihara. Tuhan para Buddha-Bodhisatva dan manusia merasakan suka-cita bersama.


















