Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Tradisi Momen Imlek yang Hampir Punah

Seorang pengamat Feng Shui di kota Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)
Seorang pengamat Feng Shui di kota Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Medan, IDN Times - Pengamat Feng Shui di kota Medan, Sujud Kusala atau Jud Ang menjelaskan tentang tradisi momen imlek yang sudah mulai ditinggalkan atau hampir punah.

Menurutnya, ada 5 tradisi yang hampir punah tersebut dalam suku Tionghoa. Berikut 5 tradisi yang dimaksud, yakni:

1. Tradisi mengantar dewa dapur ke langit

Seorang pengamat Feng Shui di kota Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)
Seorang pengamat Feng Shui di kota Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Dalam suku Tionghoa, kata Sujud ada tradisi mengantar dewa dapur ke langit. Tradisi ini merupakan tradisibyanh hampir punah.

"Diakhir tahun bulan terakhir turun temurun orang Tionghoa akan sembahyang di altar dewa dapur di dapur rumah dengan dupa, lilin, buah juga bunga untuk menghormati dan menghantar dewa dapur pulang ke kahyangan, simbolik dewa dapur adalah pemberi rezeki/kompor sama dengan rezeki dan dewa dapur yang bertugas melapor kebajikan amal pahala keluarga tsb selama setahun itu ke raja dewa langit," katanya pada IDN Times.

Hal ini dinilai telah berkurangnya pengenalan atau pemujaan, terhadap dewa dapur untuk generasi muda.

2. Tradisi berlutut atau bersujud kepada orang tua di hari pertama imlek

Seorang pengamat Feng Shui di kota Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)
Seorang pengamat Feng Shui di kota Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Tradisi ini seharusnya menjadi kewajiban bagi para setiap anak, untuk memohon maaf atas kesalahan-kesalahan dan menghormati. Namun, terkadang, menurut Sujud masih banyak yanh tidak melakukan tradisi tersebut.

"Ini sebagai bentuk berbakti serta memohon doa restu, untuk kesehjetaraan dan keberhasilan," ucap Sujud.

3. Tradisi wajib mengenakan warna baju tertentu

Seorang pengamat Feng Shui di kota Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)
Seorang pengamat Feng Shui di kota Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Tradisi yang satu ini adalah, wajib mengenakan warna baju kuning untuk laki-laki, dan baju warna merah untuk perempuan di momen hari pertama imlek.

Baju warna yang telah ditentukan ini merupakan simbolik dari adat Tiongkok Kaisar, dengan memakai jubah naga atau lambang kebesaran warna kuning. Sedangkan, permaisuri memakai jubah phoenix atau lambang kebesaran warna merah.

"Jman modern begini sudah flexibel, dan bebas memilih fashion tidak lagi seperti dulu diwajibkan," jelasnya.

4. Tradisi membagikan dan menempelkan kaligrafi keberuntungan

Seorang pengamat Feng Shui di kota Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)
Seorang pengamat Feng Shui di kota Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Kemudian, tradisi membagikan dan menempelkan kaligrafi keberuntunganatau 春联 dibaca chun lian.

Tradisi ini mulai berkurang, yang seharusnya menjelang imlek akan ada orang-orang Tionghoa yang menuliskan syair keberuntungan dengan pena ataupun kuas di kertas merah dan membagi-bagikannya kepada tetangga serta ke rumah-rumah bersuku Tionghoa secara random.

"Jaman modern sekarang masih bisa tampak, walaupun tidak sebanyak dulu yaitu tradisi menempelkan kaligrafi syair keberuntungan ukuran besar di kiri kanan atas pintu rumah ataupun di dalam ruang tamu rumah," tambahnya.

5. Menjemput dewa rejeki

Seorang pengamat Feng Shui di kota Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)
Seorang pengamat Feng Shui di kota Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Terakhir adalah tradisi menjemput dewa rejeki atau 财神爷 yang dibaca cai shen ye.

Dijelaskan Sujud bahwa, tradisi ini turun dari kahyangan dan memberi berkah rejeki di tengah malam ke-empat imlek.

"Mungkin karena banyak yang gak kuat atau tidak mau bergadang," katanya.

Menurutnya, tradisi yang dihelaskan diatas merupakan tradisi yang umum dan sudah tampak berkurang. Meskipun, sebenarnya sah-sah saja mengingat jaman sudah modern.

"Namun, alangkah bijak jika tradisi yang santun dan bermakna seperti bersujud dan menghormati orang tua tetap dilestarikan mengingat orang tua lah yang paling besar jasanya di hidup kita," tutupnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Indah Permata Sari
Arifin Al Alamudi
Indah Permata Sari
EditorIndah Permata Sari
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More

[BREAKING] Kebakaran Hebat di Pabrik Sandal Medan, Api Masih Membara

27 Jan 2026, 23:59 WIBNews