Menteri Sosial RI Syaifullah Yusuf bersama Fizzi Alfaridzi didampingi sang ibu saat open house Sekolah Rakyat di Sentra Bahagia Medan (Dok. Humas Kemensos RI)
Menteri Sosial, Syaifullah Yusuf mengungkap, ada 166 titik Sekolah Rakyat yang telah beroperasi di Indonesia.
"Sebanyak 15 Ribu siswa jenjang SD, SMP, dan SMA yang telah mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat selama 11 bulan. Tahun ini (2026-red) kita akan menampung 32 ribu siswa seluruh rakyat Indonesia," ungkapnya.
Dirinya juga menerangkan jika Sekolah Rakyat dikhususkan bagi keluarga paling tidak mampu, untuk mendapatkan kesempatan pendidikan dengan lingkungan berkualitas.
"Boleh orang tua belum berhasil, dan belum mendapatkan pekerjaan layak. Tapi, anak-anaknya harus diberikan pendidikan yang baik demi mewujudkan Generasi Emas 2045," terangnya.
"Siapa tau lulusan Sekolah Rakyat menjadi Presiden, Gubernur, Walikota, Kepala Dinas, Pengusaha dan lainnya . Apapun itu, dengan keterampilan cukup menjadi keluarga sejahtera di masa mendatang akan terwujud sesuai harapan presiden," sambungnya.
Pria yang akrab disapa Gus Ipul itu menjelaskan, jika tugasnya dan kepala daerah tak lain untuk mensukseskan program strategis Presiden Prabowo Subianto.
"Dulunya, anak-anak kita tidak seperti sekarang ini. Kini lebih disiplin, percaya diri, lebih pintar, dan optimis menghadapi masa depan. Saya kira mereka mulai tampak perubahan. Ini perlu kita syukuri bersama. Anak-anak yang ikut Sekolah Rakyat lebih percaya diri," katanya.
Dengan guru dan sistem yang baik para siswa di Sekolah Rakyat mendapatkan materi, untuk menjadi anak-anak hebat dan tumpuan keluarga di masa depan.
Untuk diketahui bahwa, Sekolah Rakyat yang menerapkan sekolah asrama atau boarding school tidak membuka pendaftaran, tapi penjangkauan.
Karena, dalam proses penjangkauan, masyarakat dengan Desil 1-2 atau ekonomi terbawah akan didatangi petugas Badan Pusat Statistik (BPS), Pemerintah Daerah (Pemda) dan petugas Program Keluarga Harapan (PKH).
Selanjutnya, dilakukan dialog dengan orang tua dan jika disetujui orang tua maka ditetapkan oleh kepala daerah sebagai calon siswa di Sekolah Rakyat.
"Sekolah Rakyat ini juga menggunakan fasilitas terbaik dengan pemanfaatan Smart Board dan laptop. Anak-anak dikenalkan dan akrab dengan teknologi. Mereka bisa memanfaatkan teknologi yang tidak dirasakan oleh orang tuanya dulu," ungkap Gus Ipul.
Untuk memuluskan rencana mulia ini, pemerintah menargetkan 100 Sekolah Rakyat setiap tahun.
"Biasanya di luar negeri sekolah asrama atau boarding school hanya untuk terpintar. Di sini (Indonesia) disediakan untuk keluarga paling tidak mampu dan anak-anaknya memiliki potensi dan keinginan belajar yang kuat," sebut Gus Ipul.
Visi ini berpusat pada pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul, berkualitas, berkarakter kuat, serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
"Karena pak presiden bertekad untuk memutuskan rantai kemiskinan. Kalau bapaknya pemulung anaknya jangan jadi pemulung. Bapaknya tukang becak anaknya jangan jadi tukang becak. Ini perjuangan bapak Presiden, di sisa hidupnya pak Presiden akan memperjuangkan ini," ujarnya.
Hanya dengan keberanian tekad dan keyakinan memimpin pemerintahan bersih anti korupsi, maka negara ini bisa terselamatkan.