Tidak sedikit perempuan terpaksa menjadi tulang punggung atawa kepala keluarga karena tuntutan keadaan. Stigma masyarakat yang menganggap peran ibu sekadar merawat anak dan mengurus rumah tangga kian memudar. Karena itu, upaya pemberdayaan perempuan kepala keluarga harus berjalan beriringan dengan pengentasan kemiskinan.
Nurhasanah, sehari-hari menjalani hidup sebagai petani kakao di Gampong (Desa) Blang Pante, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara. Wanita sepuh ini saban hari berjuang dari pukul enam pagi sampai petang. Ia menyusuri jalan setapak demi setapak untuk mencapai kebun.
"Beberapa tahun lalu, kami belum tahu cara menanam yang benar. Hasil panen tidak menentu dan hasil panen tidak berkualitas baik," ujarnya.
Nurhasanah merupakan satu dari 19 perempuan yang menerima bantuan pelatihan Program Kelompok Tani Kepala Rumah Tangga bantuan dari Pertamina Hulu Energi (PHE) North Sumatera Offshore (NSO). Kelompok perempuan kepala keluarga yang diberi nama Inong Balee ini diajarkan teknik budidaya dan peremajaan tanaman kakao.
Sebelum PHE NSO melakukan pemberdayaan perempuan kepala keluarga, lanjut dia, hasil panen kebun kakao menurun. Apalagi, pohon-pohon kakao sudah melewati usia produktif.
"Dulu kami panen, langsung jual. Tidak tahu soal kualitas," katanya.
