Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Napi Koruptor di Lapas Pekanbaru Budidaya Sayuran Hidroponik

Napi Koruptor di Lapas Pekanbaru Budidaya Sayuran Hidroponik
Salah satu koruptor yang menghuni di Lapas Kelas IIA Pekanbaru memanen sayur pakcoy yang dikelolanya (IDN Times/ Fanny Rizano)
Intinya Sih
  • Dua narapidana korupsi di Lapas Kelas IIA Pekanbaru, Sukoyo dan Afrizal, sukses mengelola budidaya sayuran hidroponik yang menghasilkan 30–50 bungkus pakcoy dan selada segar setiap minggu.
  • Kegiatan hidroponik menjadi sarana pembinaan yang memberi ketenangan batin bagi keduanya serta bekal keterampilan untuk memulai hidup baru setelah bebas nanti.
  • Pihak Lapas menyebut program ini berhasil meningkatkan kemandirian warga binaan, bekerja sama dengan Green Farm Pekanbaru, dan berencana memperluas lahan agar lebih banyak napi bisa ikut belajar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Pekanbaru, IDN Times - Dua orang warga binaan membuat Lapas Kelas IIA Pekanbaru terasa sejuk dan asri. Kedua orang tersebut adalah Sukoyo dan Afrizal, terpidana dalam kasus korupsi. Keduanya membuat budidaya sayuran hidroponik.

Tangan-tangan yang dulunya terbiasa dengan urusan birokrasi dan berkas kedinasan, kini Sukoyo dan Afrizal justru terlihat cekatan meracik nutrisi, membersihkan instalasi, hingga menyemai benih sayuran. Keseharian keduanya di dalam penjara itu kini disibukkan dengan merawat tanaman yang menghijau.

Setiap harinya, dari pagi hingga sore, kedua pria tersebut menghabiskan waktunya untuk mengelola seluruh proses budidaya hidroponik. Mulai dari tahap pembibitan, perawatan harian, penyaluran nutrisi air, hingga masa panen tiba.

Berbagai jenis sayuran segar seperti pakcoy, selada dan tanaman hijau lainnya tumbuh subur di bawah perawatan intensif mereka, dengan pengawasan melekat dari Seksi Kegiatan Kerja (Giatja) di Lapas tersebut.

Diketahui, Sukoyo adalah terpidana korupsi dengan pidana penjara selama 8 tahun. Sedangkan Afrizal, terpidana korupsi yang dalam waktu 2 bulan kedepan akan menghirup udara bebas. 

1. Menghasilkan 30-50 bungkus per minggu, dijual Rp5 ribu per bungkus

ilustrasi sayur pakcoy
ilustrasi sayur pakcoy (pixabay.com/MetsikGarden)

Atas budidaya sayuran hidroponik itu, setiap seminggu sekali mampu menghasilkan  30 hingga 50 bungkus pakcoy dan selada segar siap konsumsi. Produk sayuran berkualitas tinggi ini kemudian dipasarkan secara luas, baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga binaan di dalam Lapas, maupun dijual kepada masyarakat umum di luar.

Guna memastikan keberlanjutan dan standar kualitas produk, pihak Lapas bahkan telah menjalin kerjasama strategis dengan mitra profesional, yaitu Green Farm Pekanbaru. Sayuran segar hasil keringat Sukoyo dan Afrizal itu, dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau, yakni Rp5.000 per bungkus.

2. Rasakan kedamaian dan sarana menebus dosa masa lalu

Terpidana korupsi Sukoyo, saat memamerkan hasil panen sayur pakcoy yang dikelolanya bersama Afrizal di Lapas Kelas IIA Pekanbaru
Terpidana korupsi Sukoyo, saat memamerkan hasil panen sayur pakcoy yang dikelolanya bersama Afrizal di Lapas Kelas IIA Pekanbaru (IDN Times/ Fanny Rizano)

Saat ditemui, bagi Sukoyo dan Afrizal, rutinitas budidaya sayuran hidroponik itu memberikan kedamaian tersendiri bagi mereka.

"Bagi kami, ini juga sebagai sarana untuk menebus dosa kami, kesalahan kami d imasa lalu," ucap Sukoyo.

Di samping itu, menurut mereka, hal tersebut juga menjadi bekal dan menumbuhkan rasa optimisme untuk kembali diterima masyarakat jika sudah bebas nanti. 

"Tentunya kami bersyukur, kami cinta dengan kegiatan pertanian modern ini," ujar Afrizal. 

"Kami sangat menyukai kegiatan ini. Berada di sini setiap hari membuat kami merasa produktif dan berguna. Harapan terbesar kami adalah ilmu yang kami dapatkan di dalam Lapas ini dapat memberikan manfaat yang nyata, pertama-tama untuk diri kami sendiri, kemudian untuk keluarga dan juga bagi masyarakat luas," sambung Suyoko.

Bagi Afrizal yang akan segera bebas dalam waktu dua bulan ke depan, keterampilan hidroponik ini merupakan modal berharga yang akan ia bawa pulang ke rumah untuk memulai lembaran hidup yang baru.

"Sekembalinya ke masyarakat nanti, ilmu hidroponik ini tidak akan saya biarkan hilang begitu saja. Saya berkomitmen untuk menggunakannya dan mempraktikannya demi menghidupi keluarga serta membantu mengedukasi masyarakat di lingkungan tempat tinggal saya. Ini adalah modal hidup baru bagi saya," ujarnya dengan optimis.

Kisah Suyoko dan Afrizal di Lapas Kelas IIA Pekanbaru menjadi bukti nyata bahwa dinding penjara bukanlah akhir dari segalanya. Dari tempat yang paling terbatas sekalipun, semangat keduanya untuk perubahan memberikan harapan baru bagi masa depan yang lebih baik.

3. Kini kata Plh Kalpas

Plh Kalapas Kelas IIA Pekanbaru Yusup Gunawan saat ikut memanen sayur pakcoy hasil warga binaannya
Plh Kalapas Kelas IIA Pekanbaru Yusup Gunawan saat ikut memanen sayur pakcoy hasil warga binaannya (IDN Times/ Fanny Rizano)

Di sisi lain, Plh Kalapas Kelas IIA Pekanbaru Yusup Gunawan menerangkan, kegiatan yang dilakukan  Sukoyo dan Afrizal itu merupakan program pembinaan. Menurutnya, dari program tersebut, menunjukkan grafik keberhasilan yang sangat positif, terutama dalam mengubah pola pikir dan keahlian para warga binaan.

"Kegiatan budidaya hidroponik ini berjalan sukses di Lapas Pekanbaru. Banyak warga binaan yang dari awalnya tidak memahami sama sekali bidang pertanian modern ini, namun melalui ketekunan, akhirnya mereka bisa sangat memahami bahkan kini sudah dapat mengajari warga binaan yang lain," ujar Yusup Gunawan.

Lebih lanjut, Kalapas juga memaparkan bagaimana hasil panen tersebut didistribusikan secara adil dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi program pembinaan kemandirian.

"Hasil panennya kami bagikan untuk konsumsi warga binaan di dalam agar kebutuhan nutrisi mereka terpenuhi dan sebagian lagi dijual ke masyarakat luar melalui kerja sama dengan Green Farm Pekanbaru," lanjutnya.

"Harapan kami, kegiatan ini secara terus-menerus. Kalau bisa, lahannya semakin diperbesar agar warga binaan lain juga mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dan produktif," pungkas Yusup.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Doni Hermawan
EditorDoni Hermawan

Latest News Sumatera Utara

See More