Liga Debat IDN Times 2026, Juara Bertahan Melaju ke Babak 8 Besar

Medan, IDN Times - IDN Times kembali menggelar Liga Debat Mahasiswa 2026. Kompetisi debat yang mempertemukan 16 universitas di Indonesia itu berlangsung mulai Jumat (24/7/2026).
Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kemeriahan Hari Ulang Tahun ke-12 IDN Times. Tahun ini adalah penyelenggaraan yang ketiga. Mengusung tema besar “Ekonomi Kreatif dan Masa Depan Gen Z”, debat hari pertama mempertemukan Universitas Hasanuddin (Unhas) melawan Universitas Islam Indonesia (UII).
Dari kubu tim pro, Universitas Hasanuddin (Unhas) Makssar diwakili Rayyan Naufal Rizky sebagai ketua tim, didampingi Maryam Manuela Suitela, dan Muhammad Sahrul.
Sementara itu, tim kontra dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta diwakili Naufal Tsani Amruloh sebagai ketua tim, didampingi Murni Enggal Sanubari, dan Naufal Rafi Pratama.
Mosi yang diperdebatkan adalah "Ekosistem Industri Kreatif, Didukung atau Dipentung Pemerintah?" Debat dipandu moderator M Zumrotul Abidin.
1. Debat memanas degan contoh berbagai para konten kreator di Indonesia

Dalam sesi pertama dimulai, Tim pro Unhas dengan argumennya menekankan bahwa pemerintah telah memberikan dukungan signifikan bagi ekonomi kreatif. Rayyan Naufal menyebut dukungan tersebut berupa pelatihan peningkatan digital, kemudahan akses digital, dan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) bagi pelaku ekonomi kreatif hingga kerja sama antarbangsa.
Muhammad Sahrul menambahkan, pemerintah telah memberikan akses dan stimulus bagi pelaku ekonomi kreatif. Sebagai contohnya, dia menyebutkan sektor kerajinan di Nusa Tenggara Timur sebagai bukti nyata dukungan tersebut. Maryam Manuela Suitela juga menyoroti adanya bantuan pembiayaan yang luas serta investasi pemerintah pada sektor ekonomi kreatif.
Terkait konten kreator, Sahrul menyanggah anggapan minimnya dukungan. Ia juga menyebut contoh konten kreator yang dapat melakukan demonstrasi seperti Jerome Polin. Menurutnya, pemerintah juga telah meratakan dukungan bagi UMKM di seluruh sektor.
Di sisi lain, tim kontra UII menilai dukungan pemerintah belum optimal. Naufal Tsani Amruloh menyoroti adanya tumpang tindih regulasi yang justru menghambat. Dalam hal ini, dia mengangkat kasus Amsal Sitepu, pelaku ekonomi kreatif yang terjerat ancaman pidana, sebagai bukti negara mengekang alih-alih menopang.
Pembicara kedua UII menambahkan bahwa, negara terkesan hanya memeras hasil tetapi enggan mendukung.
"Contohnya sektor film, animasi, dan video. Dalam kasus Amsal, sebuah video dihargai Rp30 juta oleh inspektorat, tetapi pemerintah menilai nilai idenya Rp0," ucapnya.
Pembicara ketiga UII menekankan bahwa banyak pekerja di sektor ekonomi kreatif digital tidak memiliki status pekerja formal sehingga tidak mendapat perlindungan dasar.
"Regulasi, bukanlah bentuk dukungan jika tidak diiringi kesejahteraan bagi pelaku industri kreatif," tambahnya.
2. MBG hingga BPJS TK menjadi sorotan tim kontra yang berdampak menyedot anggaran alokasi ekonomi kreatif

Sesi panel menghadirkan tiga juri, yaitu Ahmad Khairudin selaku Co-Founder Koktif Hysteria sekaligus Ketua Komite Ekonomi Kreatif Jawa Tengah, Prof. Rosdiana Sijabat, Dosen Prodi Administrasi Bisnis Fakultas Bisnis dan Inovasi Sosial Universitas Katolik Atma Jaya, serta Agung Putu Iskandar, Founder Agna Komunika Surabaya.
Prof. Rosdiana mempertanyakan kepada tim pro mengapa banyak produk ekonomi kreatif yang viral tetapi belum berhasil menembus pasar global. Ia juga menanyakan sektor apa yang harus menjadi fokus pemerintah di tengah efisiensi anggaran.
Ahmad Khairudin menyoroti proses pembentukan ekonomi kreatif di daerah. Sementara Agung Putu Iskandar mengingatkan bahwa tantangan ekonomi kreatif hari ini adalah soal penegakan hukum dan legitimasi. Ia mencontohkan keberhasilan Korea Selatan dan mendorong Indonesia membandingkan kebijakan tanpa harus meniru sepenuhnya.
Menjawab pertanyaan panelis, tim kontra UII menilai program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) menyedot anggaran besar sehingga alokasi untuk ekonomi kreatif terbatas. Mereka juga menyoroti sulitnya akses program seperti BPJS Ketenagakerjaan bagi pelaku kreatif pemula. Menurut UII, regulasi harus inklusif agar menjangkau hingga akar rumput.
Sedangkan tim pro Unhas menanggapi bahwa, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah memberikan dukungan hingga ke daerah 3T. Sahrul menyebut adanya jejaring yang memfasilitasi masuknya produk ekonomi kreatif ke pasar internasional. Rayyan juga menyoroti dukungan pemerintah melalui kurikulum di sekolah dan penguatan HAKI.
3. Hasil debat dimenangkan oleh Unhas

Pada sesi penutup, tim pro menegaskan bahwa pemerintah telah bekerja keras melalui instrumen kebijakan dan perlindungan HAKI. Rayyan menyebut 2.500 desa telah masuk dalam ekosistem ekonomi kreatif sebagai bukti kemajuan.
Tim kontra menutup dengan menyebut dukungan pemerintah masih bersifat “kosmetik”. Menurut mereka, regulasi yang lamban dan pajak yang mencekik justru menghambat pertumbuhan kreativitas.
Setelah mempertimbangkan argumen kedua tim, dewan juri menetapkan Universitas Hasanuddin sebagai juara bertahan Luga Debat 2025 keluar jadi pemenang dengan skor 264, mengungguli Universitas Islam Indonesia dengan skor 250. Dengan demikian, Unhas melaju ke babak 8 besar.
Selanjutnya, penyisihan kedua akan mempertemukan Universitas Indonesia melawan Universitas Udayana dengan mosi "Industri Kreatif: Memperkuat Identitas Budaya Lokal atau Malah Menghilangkan Budaya Lokal bagi Gen Z?" pada Jumat (24/7/2026) pukul 17.00 WIB.



















