Anak Hilang Ingatan Pasca Keracunan MBG, Orangtua Kesulitan Biaya Hidup

- FP, siswi SMK 16 tahun di Karo yang diduga korban keracunan MBG, mengalami gangguan ingatan hingga tidak mengenali guru dan teman sekelasnya.
- Sebelum sakit, FP dikenal berprestasi dengan juara kelas sejak SD hingga SMK serta menjabat Wakil Ketua OSIS; kini ia terus ingin kembali bersekolah.
- Biaya pengobatan FP ditanggung BGN, tetapi keluarga masih menanggung transportasi dan kebutuhan harian selama perawatan, sambil berharap penanganan tepat agar ia pulih.
Medan, IDN Times – FP berusia 16 tahun, siswi kelas 2 SMK jurusan Multimedia di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, yang diduga menjadi korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG), kini mengalami gangguan ingatan. Dia tidak lagi mengenali guru maupun teman sekelasnya.
Padahal sebelum sakit, FP dikenal sebagai siswi berprestasi. Sejak SD hingga bangku SMK ia selalu meraih juara kelas. Di sekolah, ia juga dipercaya menjabat Wakil Ketua OSIS.
"Selama ini belajar dia juara satu. Mulai dari kelas 1 dia semester awal dia juara 1. Terus dia wakil ketua OSIS di sekolahnya," cerita Elvinus Lusiana Sitanggang sebagai ibu FP, usai pemeriksaan cek kesehatan anaknya di RS Adam Malik, Senin (7/9/2026).
Elvinus menuturkan, saat ini anaknya masih terus menyatakan ingin kembali ke sekolah. Namun kondisi Febiola belum memungkinkan.
"Makanya dia selalu bilang, 'aku mau sekolah, aku mau sekolah'. Tapi kayak mana kita ngasih dia mau sekolah," ujarnya.
1. Tidak kenal teman sekelas

a Elvinus Lusiana Sitanggang sebagai ibu FP saat diwawancarai usai pemeriksaan kesehatan di RS Adam Malik (IDN Times/Indah Permata Sari) Elvinus menceritakan, ketika teman dan guru FP datang menjenguk ke rumah, anaknya tidak mengenali mereka.
"Enggak, enggak kenal. Tapi gurunya datang, karena sudah dijelaskan gurunya hari itu, 'aku guru mu' katanya, 'oh iya'. Terus datang kawan-kawannya, 'sini, sini, sini', gitu aja," katanya.
Ia mencontohkan, keluarga sudah memberitahu bahwa yang datang adalah teman satu kelas FP. Namun saat ditanya nama, FP mengaku tidak ingat.
"Kami bilang sama dia, 'jadi ini kawan-kawan satu kelas mu'. Dia jawab, 'Iya ini satu kelas ku'. Terus ditanya gurunya, 'ini namanya siapa?' 'Enggak kenal aku' katanya. Jadi datang gurunya masa enggak kenal sama satu kelas mu? 'Enggak kenal aku' gitu," tutur Elvinus.
"Dia sampai keringat dingin gitu mengingatnya, terus enggak dapatnya ingatannya lalu bilang 'itu aku enggak kenal' katanya."
2. Ayah buruh angkut jeruk

a Elvinus Lusiana Sitanggang sebagai ibu FP saat diwawancarai usai pemeriksaan kesehatan di RS Adam Malik (IDN Times/Indah Permata Sari) Iya merupakan anak keempat dari enam bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai buruh angkut atau tukang susun jeruk. Sementara Elvinus membuka kedai kecil menjual jajanan.
Mengenai pengobatan, Elvinus mengaku tidak ada kendala administratif. Namun ia berharap anaknya mendapat penanganan yang tepat agar tidak bolak-balik ke rumah sakit.
"Dalam pengobatan ini enggak, enggak lah. Cuma aku gini aja, maunya anakku ini dikasihlah pengobatan yang tepat, biar jangan anakku ini kembali lagi bolak-balik ke rumah sakit, kami pun capek. Gini selalu bawa dia berobat. Itu aja. Tolonglah dikasih obatnya yang tepat buat anakku ini," harapnya.
3. Keluarga terbebani biaya kebutuhan sehari-hari selama perobatan di Medan

Elvinus Lusiana Sitanggang sebagai ibu FP saat diwawancarai usai pemeriksaan kesehatan di RS Adam Malik (IDN Times/Indah Permata Sari) Untuk biaya pengobatan, kata Elvinus, sudah ditanggung Badan Gizi Nasional (BGN) sejak FP sakit.
"Untuk biaya pengobatan ditanggung BGN dari mulai dia sakit," ujarnya.
Meski demikian, keluarga mengaku biaya lain seperti transportasi dan kebutuhan sehari-hari selama di rumah sakit tetap menjadi beban. Pasalnya ayah dan ibunya jadi tak bisa bekerja demi merawat anaknya di Medan.
FP sebelumnya juga sempat dirawat selama seminggu di RSU Haji Medan sebelum akhirnya dipindahkan ke RS Adam Malik Medan.
Meski biaya pengobatan dibiayai BGN, tapi tidak menutupi biaya yang lain.
Menurut Elvinus, FP sudah menerima MBG sejak sekitar bulan Maret 2026. Hingga saat ini keluarga berharap FP segera pulih dan bisa kembali melanjutkan pendidikan di SMK Bersama, Karo.

















