Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengenal 3 Kepercayaan Lokal dari Sumatra Utara, Sudah Turun Temurun

Kota Medan
Mengenal 3 Kepercayaan Lokal dari Sumatra Utara, Sudah Turun Temurun
https://www.natamagazine.co/2021/02/01/parmalim-dan-sejarah-batak-indonesia-dan-dunia-internasional-wajib-tahu/
Share Article

Medan, IDN Times - Sumatra Utara atau Sumu dikenal sebagai salah satu daerah di Indonesia yang memiliki kekayaan budaya dan tradisi. Selain dihuni berbagai suku, provinsi ini juga menjadi tempat berkembangnya sejumlah kepercayaan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun jauh sebelum masuknya agama-agama besar.

Berdasarkan data dari Wikimedia Indonesia, Indonesia memiliki beragam kepercayaan lokal yang tersebar di berbagai wilayah.

Di Sumatra Utara saja, setidaknya terdapat tiga kepercayaan lokal yang masih dikenal hingga kini, yakni Pemena, Parmalim atau Ugamo Malim, dan Pelbegu atau Fanömba adu. Ketiganya merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat adat di Sumatra Utara yang hingga kini masih dipelihara oleh sebagian penganutnya.

Berikut IDN Times rangkum tiga kepercayaan lokal di Sumatra Utara:

1. Pemena sudah ada sejak masa Prasejarah

Pemeluk Parmalim (Instagram.com/uletifan)
Pemeluk Parmalim (Instagram.com/uletifan)

Kepercayaan Pemena merupakan ajaran tradisional masyarakat Karo yang diyakini telah ada sejak masa prasejarah.

Dalam hal ini beberapa artikel menyebutkan para ahli antropologi memperkirakan bahwa, Pemena berkembang sekitar 3000 SM, jauh sebelum agama Hindu-Buddha masuk ke Nusantara pada abad ke-1 M.

Pemena mengajarkan penghormatan kepada Sang Pencipta yang disebut Dibata, leluhur, serta alam semesta sebagai satu kesatuan. Penganut Pemena meyakini adanya roh-roh yang bersemayam di gunung, sungai, hutan, dan batu besar.

Upacara adat seperti kerja tahun dan ndilo kenna menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur dan permohonan keselamatan. Hingga kini nilai-nilai Pemena masih terlihat dalam ritual adat Karo, meskipun sebagian besar masyarakatnya telah memeluk agama lain.

2. Parmalim atau Ugamo Malim sejak abad ke-13

Ilustrasi Marari Sabtu Kepercayaan Parmalim. (Sumber: nababan.wordpress.com)
Ilustrasi Marari Sabtu Kepercayaan Parmalim. (Sumber: nababan.wordpress.com)

Parmalim atau Ugamo Malim adalah kepercayaan asli masyarakat Batak Toba. Kepercayaan ini diyakini sudah dianut sejak abad ke-13, jauh sebelum misionaris Kristen masuk ke Tanah Batak pada abad ke-19.

Ajaran Parmalim berpusat pada penyembahan kepada Mulajadi Na Bolon sebagai Sang Pencipta. Penganutnya meyakini adanya tiga unsur utama dalam kehidupan, yaitu Banua Ginjang atau dunia atas, Banua Tonga atau dunia tengah tempat manusia hidup, dan Banua Toru atau dunia bawah.

Pusat kegiatan keagamaan Parmalim berada di Huta Tinggi, Kabupaten Samosir. Di sana terdapat rumah ibadah Rumah Parsaktian dan makam Raja Sisingamangaraja XII yang dianggap suci. Upacara poda dan martutuaek masih dilakukan sebagai bentuk komunikasi dengan leluhur dan alam.

3. Pelbegu atau Fanömba adu sudah ada sejak abad ke-10

Ritual guru sibaso dalam upacara perumah begu di kediaman sibayak kabanjahe 'pa mbelgah' 1914-1919(facebook.com/Simbisa Karo)
Ritual guru sibaso dalam upacara perumah begu di kediaman sibayak kabanjahe 'pa mbelgah' 1914-1919(facebook.com/Simbisa Karo)

Kepercayaan Pelbegu berkembang di masyarakat Nias. Dalam peta kepercayaan lokal Indonesia dari Wikimedia Indonesia, kepercayaan ini disebut juga Fanomba adu yang berasal dari Pulau Nias.

Sejarawan memperkirakan Pelbegu telah dianut masyarakat Nias sejak abad ke-10. Pelbegu secara harfiah berarti "pemilik roh" dan meyakini bahwa setiap benda di alam memiliki roh yang harus dihormati.

Masyarakat penganut Pelbegu percaya keseimbangan hidup hanya tercapai jika manusia hidup selaras dengan alam dan leluhur. Karena itu, upacara adat seperti owasa dan tradisi fahombo atau lompat batu bukan hanya tradisi, tetapi juga ritual penghormatan. Situs megalitik dan rumah adat omo hada di Nias menjadi bukti fisik dari kuatnya pengaruh Pelbegu.

4. Konteks keberagaman kepercayaan lokal di Indonesia

https://www.natamagazine.co/2021/02/01/parmalim-dan-sejarah-batak-indonesia-dan-dunia-internasional-wajib-tahu/
https://www.natamagazine.co/2021/02/01/parmalim-dan-sejarah-batak-indonesia-dan-dunia-internasional-wajib-tahu/

Selain tiga kepercayaan di Sumatra Utara, Wikimedia Indonesia mencatat kepercayaan lokal lain di Indonesia seperti Kaharingan di Kalimantan untuk suku Dayak yang sudah ada sejak abad ke-7, Buda Tengger di wilayah Tengger, Sunda Wiwitan dan Buhun di wilayah Sunda, serta Kajawen dan Kapitayan di Jawa yang diperkirakan muncul sejak abad ke-8.

Ada pula Arat Sabulungan di Kepulauan Mentawai. Keberagaman ini menunjukkan bahwa sebelum agama-agama besar masuk, masyarakat Nusantara telah memiliki sistem kepercayaan yang menempatkan manusia, leluhur, dan alam dalam hubungan yang harmonis.

5. Warisan budaya yang bertahan

Ilustrasi Marari Sabtu Kepercayaan Parmalim. (Sumber: nababan.wordpress.com)
Ilustrasi Marari Sabtu Kepercayaan Parmalim. (Sumber: nababan.wordpress.com)

Dari tiga kepercayaan di Sumatra Utara yang tumbuh dan berkembang secara turun-temurun selama ribuan tahun. Meskipun jumlah penganutnya tidak sebanyak pemeluk agama besar, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap dijaga melalui adat, bahasa, dan upacara.

Pemerintah daerah bersama komunitas adat di Sumatra Utara terus berupaya melestarikan kepercayaan lokal ini sebagai bagian dari warisan budaya bangsa. Pendokumentasian, pengakuan, serta penguatan pendidikan budaya menjadi langkah penting agar generasi muda tetap mengenal akar identitasnya.

Bagi masyarakat Sumatra Utara, Pemena, Parmalim, dan Pelbegu bukan hanya soal keyakinan. Ketiganya adalah cerminan cara pandang hidup yang menghormati Sang Pencipta, menghargai leluhur, dan menjaga keseimbangan dengan alam semesta.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More